kumparan
21 Agu 2018 5:37 WIB

The Joni Effect: Media Sosial dan Perubahan Gaya Diplomasi

Siapa bilang pekerjaan diplomat hanyalah menghadiri sidang, kegiatan seremonial atau negosiasi di level internasional. Selain dunia diplomasi, keseharian mereka ternyata begitu lekat dengan nuansa jurnalisme hingga kemudian muncul suatu istilah baru yaitu “Diplomalist atau Diplomat Jurnalis.”
ADVERTISEMENT
Lihatlah bagaimana para diplomat Indonesia digembleng di Sekolah Staf Dinas Luar Negeri (Sesdilu). Sebagai bagian pendidikan mereka dikirimkan ke lapangan untuk kegiatan pengabdian masyarakat. Dengan terjun langsung para diplomat didarapkan dapat mendengar dan melihat fenomena kehidupan masyarakat serta melaporkannya (reporting) kepada pimpinan dan pengambil kebijakan. Pengabdian masyarakat bagi Sesdilu angkatan ke-61 kali ini adalah ke perbatasan di Indonesia-Timor Leste di Atambua, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur.
Kunjungan yang mengambil Tajuk “Berbagi Inspirasi Terbaik di Batas Negeri” ini diikuti oleh 32 orang peserta yang lebih sering menyebut diri mereka Diplomat 4.0. Penyematan label 4.0 tentunya bukan tanpa alasan. Hal ini karena mereka dituntut untuk menjadi diplomat yang melek dengan perubahan zaman dimana sistem siber, penggunaan internet dan media sosial telah menjadi bagian penting dalam interaksi manusia milenial.
ADVERTISEMENT
Contoh nyata kiprah para diplomat ini adalah dengan viralnya kisah heroik Joni, sang pemanjat tiang bendera yang terekam kamera beberapa peserta upacara di Atambua. Satu diantara pengunggah kisah Joni adalah Ika Silalahi, seorang peserta Diplomat 4.0 yang secara refleks memuat video tersebut di laman facebook miliknya. Dalam hitungan jam tayangan tersebut sudah 370.000 kali dibagikan dan mendapatkan likes hingga 182.000 kali.
Foto: Screencapture laman Facebook atas nama Ika Silalahi
Bagi peserta sesdilu 61 sendiri viralnya cerita Joni bukan hanya sekedar intermeso di tengah hiruk pikuk peringatan HUT RI ke-73. Bagi mereka ini adalah jawaban atas doa dan kegelisahan setelah mendengar langsung berbagai curhatan masyarakat, terutama dari kalangan Pendidikan.
Sebagai masyarakat perbatasan yang jauh dari sorotan dan radar pemerintah pusat, para guru di Belu masih mengeluhkan sulitnya akses terhadap buku-buku bermutu dan juga koneksi internet murah untuk fasilitasi proses belajar di sekolah. Mereka juga berharap banyak adanya akses beasiswa yang khusus dialokasikan untuk masyarakat daerah pinggiran.
Sesi dialog antara Kepala Sekolah & Guru se-Atambua bersama Sesdilu ke-61 (Foto: Arief Ikhsanudin)
ADVERTISEMENT
Walaupun secara khusus diplomat 4.0 sudah berkomitmen untuk menuliskan berbagai kisah dan tulisan mereka di media, salah satunya melalui kumparan, viralnya cerita Joni menjadi momentum penting serta quantum leap yang langsung mendekatkan jarak Jakarta-Belu.
Malam itu juga, koordinasi lintas lini dilakukan agar Joni bisa hadir di pembukaan Asian Games 2018 di Jakarta serta bertemu langsung dengan Presiden RI di istana negara. Sungguh diluar ekspetasi, namun semoga itu adalah hasil vibrasi positif doa para guru dan peserta Sesdilu yang tulus mengharapkan solusi dan perubahan bagi negeri dari pinggiran Motaain. Berbagai pihak kemudian juga menjanjikan hadiah maupun beasiswa bagi Joni, termasuk perhatian Kemendikbud untuk menambah jumlah kelas maupun perbaikan fasilitas internet di Atambua.
ADVERTISEMENT
Kerja belum usai. Selepas euforia upacara 17 Agustus 2018 di Atambua para diplomat madya inipun berlomba untuk bisa menuangkan lebih banyak ide, cerita, serta kisah menggugah lainnya. Tak peduli penatnya badan, mereka mencoba menuangkan luapan hati dan pikirannya sembari memanfaatkan waktu luang selama di bandara.
Kalaulah awalnya rutinitas ini hanya sekedar penggugur kewajiban, rupanya Joni telah mengubah sebagian motivasi para pemuda ini. Kisah heroik Joni memberikan arti mendalam, bahwa tulisan, cerita maupun sekedar postingan ringan di media sosial mampu memberikan efek perubahan signifikan bagi negeri ini.
Barangkali setiap kita memang perlu lebih peka dan bijak dalam memanfaatkan media sosial. Kalaulah ia bisa merubah keadaan dan mengajak kepada kebaikan sebaliknya ia juga bisa menciptakan jurang pemisah di masyarakat yang begitu besar hingga berujung perang saudara. Tentunya kembali kepada penggunanya, mau dibawa kemana postingan yang dimuatnya atau bahkan sekedar like & share yang dilakukannya.
Foto: Para Peserta Sesdilu ke-61 sedang memanfaatkan waktu luang di Bandara El-Tari Kupang dengan menulis kumparan
ADVERTISEMENT
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan