Esai Foto: Menerbangkan Mimpi dari Langit Bandung

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Salah satu sudut ruangan teknisi di fasilitas produksi BETA-UAS, Katapang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Foto: Raisan Al Farisi/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Salah satu sudut ruangan teknisi di fasilitas produksi BETA-UAS, Katapang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Foto: Raisan Al Farisi/ANTARA FOTO

Di salah satu sudut Kota Bandung, teknologi pesawat tanpa awak (drone) dikembangkan oleh sejumlah insinyur dan teknisi. Melalui proses panjang dari balik meja kerja, di dalam ruang perakitan, dan area pengujian serta di antara rangka pesawat, kabel, perangkat elektronik, dan layar komputer, mereka bekerja memastikan setiap bagian dapat berfungsi sebelum sebuah drone diterbangkan.

Tim riset memperbaiki desain gambar pesawat tanpa awak di fasilitas produksi BETA-UAS, Katapang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Foto: Raisan Al Farisi/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Tim riset memperbaiki desain gambar pesawat tanpa awak di fasilitas produksi BETA-UAS, Katapang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Foto: Raisan Al Farisi/ANTARA FOTO

BETA-UAS nama tempatnya. Dari sini perkembangan teknologi penerbangan tanpa awak di Indonesia terus berjalan mengikuti kebutuhan di berbagai bidang.

Pekerja menyelesaikan produksi pesawat tanpa awak atau drone di fasilitas produksi BETA-UAS, Katapang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Foto: Raisan Al Farisi/ANTARA FOTO

Didirikan sejak tahun 2016 oleh sejumlah alumni Teknik Penerbangan Institut Teknologi Bandung (ITB), pengembangan drone dilakukan melalui berbagai tahapan, mulai dari perancangan, rekayasa struktur, integrasi sistem elektronik, perakitan, hingga pengujian penerbangan. Setiap tahapan membutuhkan ketelitian karena kesalahan kecil pada satu komponen dapat memengaruhi kinerja drone ketika terbang di udara.

Pekerja menyolder modul PCB untuk pesawat tanpa awak atau drone di fasilitas produksi BETA-UAS, Katapang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Foto: Raisan Al Farisi/ANTARA FOTO

Drone yang dikembangkan terdiri dari beberapa jenis, di antaranya fixed-wing dan multirotor. Pesawat fixed-wing memiliki karakteristik menyerupai pesawat pada umumnya dan dapat digunakan untuk penerbangan dengan cakupan wilayah luas. Sementara multirotor memiliki kemampuan lepas landas dan mendarat secara vertikal serta bergerak lebih fleksibel di ruang yang terbatas.

Pekerja menyelesaikan produksi pesawat tanpa awak atau drone di fasilitas produksi BETA-UAS, Katapang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Foto: Raisan Al Farisi/ANTARA FOTO

Dalam perkembangannya, drone tidak hanya digunakan untuk mengambil gambar dari udara. Kamera dan berbagai sensor yang dibawanya dapat menghasilkan data untuk kebutuhan pemetaan, survei, pemantauan kawasan, pertanian, kehutanan, inspeksi infrastruktur, hingga pengumpulan informasi di wilayah yang sulit dijangkau manusia.

Pekerja melakukan proses pengecatan saat produksi pesawat tanpa awak atau drone di fasilitas produksi BETA-UAS, Katapang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Foto: Raisan Al Farisi/ANTARA FOTO

Sistem kendali penerbangan dan pengolahan data juga terus berkembang, termasuk pemanfaatan kecerdasan buatan dan kemampuan pemrosesan data langsung di udara.

Mesin memotong bagian kayu untuk wadah pelindung drone di fasilitas produksi BETA-UAS, Katapang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Foto: Raisan Al Farisi/ANTARA FOTO

Produk pengembangan BETA-UAS ini sudah digunakan di sejumlah wilayah Indonesia dan beberapa negara lain, termasuk Australia, Korea Selatan, serta sejumlah negara di kawasan Asia. Perkembangan tersebut menjadi bagian dari perjalanan teknologi pesawat tanpa awak yang semakin banyak digunakan untuk berbagai kebutuhan.

Pekerja menyelesaikan produksi pesawat tanpa awak atau drone di fasilitas produksi BETA-UAS, Katapang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Foto: Raisan Al Farisi/ANTARA FOTO

Namun, di balik setiap penerbangan terdapat proses yang tidak selalu terlihat. Ada tangan yang merakit komponen, mata yang memeriksa setiap sambungan, layar yang menampilkan data, serta insinyur yang terus mengamati pergerakan drone dari daratan. Pengujian, kegagalan, evaluasi, dan perbaikan menjadi bagian dari perjalanan sebelum sebuah drone kembali mengudara.

Pesawat tanpa awak BETA-UAS jenis Omnibe yang telah selesai diproduksi di fasilitas produksi BETA-UAS, Katapang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Foto: Raisan Al Farisi/ANTARA FOTO

Dari sebuah bengkel kerja, mimpi itu perlahan menemukan sayapnya. Ia melintasi sawah, hutan, kawasan industri, pegunungan, bahkan melampaui batas-batas negara.

Pekerja bersiap menerbangkan drone jenis Omnibe saat uji coba di Lanud Sulaiman, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Foto: Raisan Al Farisi/ANTARA FOTO

Setiap penerbangan menjadi penanda bahwa kemampuan untuk berinovasi tidak mengenal batas geografis, selama ada pengetahuan, kerja keras, dan keyakinan untuk terus melangkah.

Pilot dan Co-Pilot melakukan uji coba drone jenis Omnibe di Lanud Sulaiman, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Foto: Raisan Al Farisi/ANTARA FOTO

Dan di langit Bandung, mimpi itu terus terbang membawa harapan agar suatu hari nanti, teknologi buatan Indonesia tidak hanya menjadi kebanggaan di negeri sendiri, tetapi juga dipercaya dan menginspirasi dunia.

Pilot melihat layar pemetaan jarak terbang saat uji coba drone jenis Omnibe di Lanud Sulaiman, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Foto: Raisan Al Farisi/ANTARA FOTO

Sebab langit bukan lagi sekadar ruang untuk diterbangi, melainkan tempat di mana mimpi-mimpi anak bangsa menemukan arah tujuannya.

Pekerja membawa drone jenis Omnibe usai uji coba di Lanud Sulaiman, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Foto: Raisan Al Farisi/ANTARA FOTO