Konten dari Pengguna

Jebolnya Tanggul di Kencong Menjadi Bukti Bahwa Alam Sedang Tidak Baik-Baik Saja

Difa Dwi Septia Rahmawati

Difa Dwi Septia Rahmawati

Mahasiswi Universitas Jember

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Difa Dwi Septia Rahmawati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kondisi aliran sungai baru di Desa Paseban Kecamatan Kencong. Foto: Dokumen Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Kondisi aliran sungai baru di Desa Paseban Kecamatan Kencong. Foto: Dokumen Pribadi

Jika ada satu hal yang membuat warga Kencong selalu waspada setiap musim hujan, jawabannya adalah suara gemuruh air yang datang dari arah Sungai Tanggul. Bagi sebagian orang, suara air mungkin menenangkan, tapi bagi warga di Desa Kraton dan Paseban, suara itu justru bisa memicu kenangan buruk tentang malam-malam ketika alam sudah tidak mau diajak untuk kompromi.

Tahun 1994 menjadi peristiwa jebolnya tanggul yang paling parah, hingga kemudian tahun 2020 menjadi akhir dari peristiwa ini. Jebolnya tanggul di Kecamatan Kencong bukan sekadar kejadian sesaat, namun peristiwa ini terus terjadi secara berulang, Peristiwa ini mengingatkan manusia bahwa lingkungan sekitar semakin rapuh, dan hubungan antara manusia dengan alam tak lagi harmonis seperti dulu.

Banyak rumah-rumah warga yang terendam banjir dengan ketiggian air hampir menenggelamkan atap rumah. Beberapa warga bahkan tidak bisa menyelamatkan barang berharga mereka, bahkan bajupun mereka hanya memiliki pakaian yang dipakai pada saat kejadian. Selama berbulan-bulan, sisa-sisa banjir masih terlihat jelas: lantai rumah dipenuhi lumpur, perabotan rusak, dan aktivitas warga lumpuh. Kisah ini kemudian melekat dalam ingatan kolektif masyarakat, menjadi titik awal trauma yang bertahun-tahun sulit untuk di hilangkan.

Waktu berlalu, tapi ancaman banjir tak pernah benar-benar hilang. Tahun 2008, tanggul kembali jebol di area yang sama. Walau tidak separah pada tahun 1994, warga tetap mengalami kerugian besar. Petani gagal panen. Peternak ikan kehilangan hasil budidaya yang hanyut terbawa arus. Pagar sekolah, jalan desa, dan fasilitas umum lainnya ikut rusak.

Lima tahun kemudian pada tahun 2013, sejarah kembali menulis bab baru. Tanggul tidak mampu menahan tekanan air, kali ini banjir berlangsung sekitar sebulan sebelum wilayah kembali normal. Warga kembali mengungsi, tidur di masjid, balaidesa, atau sekolah sambil menunggu rumah mereka bisa dihuni lagi.

Pada tahun 2018, curah hujan tinggi dengan arus sungai yang begitu kuat sampai membuat bagian hilir sungai yang sebelumnya berbelok menjadi lurus. Tanah dan pasir di dekat pantai terkikis habis. Akibatnya, arah aliran sungai berubah total dan langsung mengalir ke laut tanpa melewati belokan jalur yang lama. Perubahan ini menimbulkan dua kondisi yang berlawanan. Di Desa Kraton, sebagian warga menyebutnya sebagai hal yang “menolong”, karena aliran baru membuat wilayah mereka tidak lagi menjadi pusat banjir. Namun di Desa Paseban, situasinya justru lebih buruk karena sawah-sawah warga tenggelam dan tidak bisa dipakai lagi.

Bagi para petani, hilangnya sawah bukan hanya kehilangan tempat bekerja, tetapi juga kehilangan sumber kehidupan dan bagian penting dari keluarga mereka. Sawah adalah tempat mereka mencari nafkah sekaligus warisan yang sangat berharga. Dalam hal ini pemerintah memberikan ganti rugi, tetapi nilainya tidak benar-benar sebanding dengan kerugian yang dialami oleh warga.

Dua tahun setelah perubahan aliran sungai, arus deras di aliran sungai tanggul kembali terjadi. Kali ini, jembatan Jalur Lintas Selatan roboh karena pondasinya terkikis. Padahal jembatan itu sangat penting sebagai penghubung antarwilayah. Ketika jembatan itu rusak, aktivitas warga terganggu dan akses ekonomi ikut terhambat.

Tanah di daerah pantai yang banyak mengandung pasir membuat erosi terjadi lebih cepat. Sungai melebar, tanggul semakin rapuh, dan situasi makin sulit untuk dikendalikan. Setelah jembatan diperbaiki, masih banyak warga merasa terancam oleh banjir yang bisa terjadi kapan saja.

Penyebab Peristiwa Tanggul Jebol di Kecamatan Kencong

Jika melihat seluruh kejadian ini dari waktu ke waktu, terlihat bahwa banjir yang diakibatkan oleh jebolnya tanggul, bukan hanya disebabkan oleh hujan deras. Namun ada banyak kegiatan manusia yang memperburuk kondisi lingkungan sehingga tidak mampu untuk menanggulangi bencana.

Beberapa penyebab yang sering disebut warga antara lain, gumuk pasir yang dijadikan lahan pertanian, perubahan penggunaan lahan di dekat sungai, tanggul yang tidak dirawat dengan baik, rumah dan bangunan semakin dekat ke bantaran sungai, hingga pengelolaan daerah aliran sungai (DAS) yang lemah.

Lingkungan yang dulu kuat sebagai pelindung alami, lama-lama melemah karena terus terkena tekanan oleh kebutuhan manusia. Sungai yang dulu memberi kehidupan, kini menjadi sumber ketakutan setiap kali hujan besar turun.

Upaya Pemerintah

Setiap kali banjir datang, warga mengungsi, pemerintah membuka posko darurat, relawan datang, dan pemerintah desa melakukan pendataan kerugian. Setelah air surut, warga kembali ke rumah untuk membersihkan lumpur dan memperbaiki kerusakan.

Pembangunan proyek spillway di Desa Paseban, Kencong, Jember. Foto : Dokumen Pribadi

Beberapa usaha pemerintah yang pernah dilakukan antara lain, memberikan sembako dan bantuan pokok, bekerja sama dengan BPBD, Baznas, dan lembaga lain, memperbaiki jembatan dan menutup bagian tanggul yang jebol, memberikan dukungan psikologis bagi warga yang trauma, serta merencanakan penataan ulang aliran sungai dengan membangun spill way dibagian hilir. Pembangunan spill way bertujuan untuk melakukan pengendalian air agar dapat mengalir ke aliran sungai yang lama. Sehingga masyarakat yang sempat mengalami krisis air karena tidak mendapatkan air dari aliran sungai, dapat kembali terairi. Namun semua itu tetap tidak cukup untuk mengatasi permasalahan tanggul yang jebol jika sumber masalah sebenarnya, yaitu kerusakan lingkungan, tidak segera ditangani dengan serius.

Peristiwa tanggul jebol di Kencong menunjukkan bahwa alam dan manusia sudah tidak berjalan seimbang. Saat gumuk pasir terus diambil, aliran sungai diubah tanpa perhitungan, atau tanggul dibangun tanpa perawatan jangka panjang, alam akan “menjawab” dengan caranya sendiri. Dan jawabannya sering datang dalam bentuk bencana.

Kencong memberi pelajaran penting bahwa bencana tidak hanya soal cuaca ekstrem. Bencana muncul ketika perubahan iklim bertemu dengan lingkungan yang rusak dengan pola kehidupan manusia yang kurang peduli dengan alam. Di tengah kondisi alam yang makin melemah, warga Kencong mengingatkan kita bahwa bertahan bukan hanya menunggu bantuan. Namuyn menjaga lingkungan adalah bagian terpenting dalam menjaga kehidupan bersama untuk masa depan yang lebih baik.