Siswa Kehilangan Arah di Era Pembalajaran 5.0

Mahasiswi Universitas Jember
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Difa Dwi Septia Rahmawati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perkembangan era 5.0 menjadikan manusia memiliki ketergantungan pada teknologi, hal ini juga terjadi pada penerapan pembelajaran disekolah. Perkembangan ini disebut sebagai masa puncak integrasi teknologi dan pendidikan. Pembelajaran yang dipadukan dengan kecerdasan buatan melalui platform digital adaptif menjadikan sistem pembelajaran lebih efisien, cepat, dan terukur. Namun dibalik itu semua, muncul pertanyaan terkait pemaknaan pendidikan yang sesungguhnya.
UNESCO (2021) dalam laporan Futures of Education: Reimagining Our Futures Together menegaskan bahwa “pendidikan masa depan harus menempatkan kemanusiaan di pusatnya, bukan di pinggir inovasi.” Artinya, teknologi bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana untuk memperluas kebijaksanaan dan solidaritas antar manusia. Namun kenyataannya pernyataan tersebut hanyalah sebuah pandangan yang tidak relevan dengan praktik di kehidupan nyata. Dimana sekolah hanya berfokus pada sebuah angka pencapaian dalam rapor, seperti nilai ujian yang tinggi, memiliki banyak sertifikat kopetensi, hingga kemudian melupakan refleksi tentang makna belajar yang sesungguhnya.
Kemajuan Digital
Lahirnya pembelajaran 5.0 tidak lepas dari semangat masyarakat yang menempatkan teknologi untuk meningkatkan kualitas hidup manusia. Dalam praktik pendidikan, konsep ini sering digunakan hanya untuk alat modernisasi tanpa adanya penerapan nilai. Sistem pembelajaran analitik hingga adanya Ai memang mampu membantu seorang guru dalam memetakan kemampuan siswa dengan keakuratan yang tinggi. Namun penggunaan Ai juga dapat menghilangkan interaksi siswa dan guru dalam proses pembelajaran. Artinya semakin canggih teknologinya, semakin dangkal relasi antarmanusia di dalamnya. Siswa belajar dari mesin yang serba cepat, tetapi kehilangan kesempatan untuk merenung, berdialog, dan berproses secara emosional. Bahkan profesi guru yang awalnya menjadi seorang pendidik karakter beralih profesi menjadi seorang operator sistem.
Pembelajaran 5.0 menjanjikan personalisasi, skalabilitas, dan aksesibilitas pembelajaran melalui AI hingga sistem tutor cerdas yang terus menyesuaikan model belajar. Penelitian implementasi awal di Indonesia dan konstelasi literatur internasional memang menunjukkan potensi peningkatan kualitas pembelajaran berbasis teknologi, salah satunya peningkatan motivasi siswa dan efisiensi administrasi. Namun studi-studi tersebut juga menandai celah penting dalam orientasi pada kesiapan kerja dan kompetensi yang seringkali menekan dimensi etika, estetika, dan refleksi kritis yang tidak mudah diukur oleh kecanggihan teknologi.
Menurut Paulo Freire (2005) dalam Pedagogy of the Oppressed “Ketika pendidikan hanya menjadi proses pengisian, bukan pembebasan, maka manusia kehilangan hakikatnya sebagai subjek yang berpikir.” Dalam pembelajaran 5.0 siswa hanya menjadi target dalam memenuhi indikator performa, bukan lagi menjadi seorang individu yang tumbuh melalui refleksi dan pengalaman. Sehingga menyebabkan pendidikan yang mulai kehilangan maknanya dan menjadikan angka sebagai tujuan, bukan sebagai alat.
Namun sangat disayangkan, sistem pendidikan modern lebih berfokus pada sebuah data daripada maknanya. rapor siswa masa kini penuh dengan angka capaian, tetapi kosong dari narasi nilai-nilai kepribadian. Banyak sekolah yang berfokus pada capaian kognitif yang terukur, sehingga menggeser pentingnya keterampilan sosial, empati, dan moralitas pada siswa.
Penelitian Agustinova, Rahmawati, dan Junaidi (2022) di International Journal of Education and Development using ICT menemukan bahwa “digitalisasi pendidikan mempercepat akses, tetapi memperlemah interaksi emosional antara guru dan siswa. Hubungan guru yang dahulu menjadi fondasi pendidikan humanistik perlahan tergerus oleh sistem daring yang impersonal. Hal ini menciptakan generasi “cerdas kognitif tetapi miskin rasa.” Mereka pandai memecahkan masalah logis, tetapi tidak mampu menghadapi dilema moral atau memahami penderitaan sosial di sekitarnya. Hal ini menjadi awal mula dari krisis makna pendidikan, hingga menjadikan sesuatu yang terukur menjadi satu-satunya ukuran
Mengembalikan Makna Belajar
Di tengah badai teknologi dan kecepatan informasi, pendidikan perlu dikembalikan dengan menegaskan misinya untuk membantu manusia menemukan kebenaran dan mencari makna hidup yang sesungguhnya. Hal itu berarti mengembalikan proses belajar sebagai perjalanan reflektif, bukan hanya sekedar transaksi data. Sekolah perlu memberikan ruang dan dukungan yang lebih luas untuk berpikir kritis hingga dialog terbuka. Siswa harus didorong untuk menelusuri berbagai perspektif, bukan hanya menerima satu sumber kebenaran.
Teknologi hanya dapat mempermudah namun tidak dapat menggantikan posisi guru sebagai fasilitator dan tidak juga sekadar pelaksana kurikulum digital. Platform digital seharusnya menjadi alat bantu untuk memperluas wawasan, bukan menggantikan proses berpikir. Pembelajaran 5.0 baru bisa disebut berhasil jika ia mampu menyeimbangkan antara kecanggihan teknologi dan kepribadian baik siswa dapat saling berkesinambungan.. Pendidikan sejati tidak lahir dari kecepatan, tetapi dari keberanian untuk merenung, mempertanyakan, dan mencari arti di balik setiap jawaban.
Kita hidup di masa di mana informasi berlimpah, tetapi kebijaksanaan menjadi langka. Tanggung jawab pendidikan menjadi semakin besar untuk mengembalikan manusia sebagai subjek pencari kebenaran, bukan objek dari algoritma pengetahuan. Siswa harus diajak kembali berpikir, bukan sekadar menjawab. Guru harus kembali dipercaya untuk memperbaiki kepribadian hingga menjadi fasilitator dalam proses belajar, dan tidak sekadar mengelola data. Era Pembelajaran 5.0 bukan berarti menyerah pada mesin, tetapi menemukan cara agar teknologi bekerja untuk manusia, bukan sebaliknya. Selama manusia masih ingin mencari kebenaran maka pendidikan akan tetap mempunyai sebuah makna.
Pendidikan sejatinya adalah proses menjadi manusia yang sesuai hakikatnya, dimulai dari proses berpikir, merasa, dan bertindak dengan kesadaran. Teknologi hanyalah alat bantu untuk memperluas potensi itu. Jika Pembelajaran 5.0 hanya mengejar efisiensi dan performa, maka ia akan gagal menumbuhkan kebijaksanaan. Rapor dengan angka yang penuh bukan sebagai ukuran keberhasilan sejati Keberhasilan pendidikan ditentukan oleh seberapa jauh siswa memahami makna hidup, menghargai perbedaan, dan bertanggung jawab terhadap dunia. Pendidikan yang yang sesungguhnya tidak hanya akan menciptakan robot yang pandai, tetapi menciptakan kepribadian siswa yang bijak.
Pembelajaran 5.0 memiliki potensi besar untuk menciptakan ekosistem belajar yang inklusif dan adaptif. Namun, tanpa arah etis dan filosofis, ia hanya akan menjadi cermin dari dehumanisasi modern. Pendidikan harus kembali pada hakikat aslinya untuk membentuk manusia yang tidak hanya cerdas berpikir, tetapi juga memiliki perasaan halus dan bijak dalam bertindak.
