Konten dari Pengguna

AI Makin Pintar, Lalu Apa yang Akan Terjadi pada Pekerjaan Manusia?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Runggu Manalu tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

sumber: https://unsplash.com/Igor Omilaev
zoom-in-whitePerbesar
sumber: https://unsplash.com/Igor Omilaev

Ketika AI Mulai Mengubah Cara Kita Bekerja

Beberapa tahun terakhir, perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) semakin menarik perhatian. Teknologi yang sebelumnya terasa seperti bagian dari film fiksi ilmiah kini bisa digunakan untuk membantu menulis, membuat gambar, menerjemahkan bahasa, menganalisis data, hingga menjawab berbagai pertanyaan dalam hitungan detik.

Kemajuan ini tentu membawa banyak kemudahan. Pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan waktu cukup lama dapat diselesaikan dengan bantuan teknologi. Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul pertanyaan yang semakin sering dibicarakan: jika AI terus berkembang dan semakin pintar, lalu apa yang akan terjadi pada pekerjaan manusia?

Pertanyaan ini bukan sekadar rasa penasaran terhadap teknologi. Bagi banyak orang, pekerjaan berkaitan langsung dengan penghasilan, kehidupan keluarga, dan masa depan. Karena itu, pembahasan mengenai AI dan dunia kerja perlu dilihat secara lebih luas, bukan hanya dari sisi kecanggihan teknologinya.

Apakah AI Akan Menggantikan Pekerjaan Manusia?

Kekhawatiran bahwa AI akan menggantikan manusia sebenarnya cukup mudah dipahami. Bayangkan seseorang yang setiap hari menghabiskan waktu untuk membuat laporan, merangkum dokumen, mengolah data, atau menjawab pertanyaan pelanggan. Jika sebagian pekerjaan tersebut dapat dilakukan oleh AI, perusahaan mungkin mulai mempertimbangkan kembali bagaimana pekerjaan itu dibagi dan dikerjakan.

Namun, apakah itu berarti semua pekerjaan manusia akan hilang?

Jawabannya tidak sesederhana itu. Laporan International Labour Organization (ILO) yang diterbitkan pada 2025 menyebutkan bahwa sekitar satu dari empat pekerja di dunia berada dalam pekerjaan yang memiliki tingkat paparan terhadap AI generatif. Meski demikian, hasil kajian tersebut menunjukkan bahwa perubahan pekerjaan lebih mungkin terjadi melalui transformasi tugas daripada penggantian seluruh pekerjaan manusia.

Artinya, AI bisa mengambil alih sebagian aktivitas dalam suatu pekerjaan, tetapi bukan berarti seluruh peran pekerjanya otomatis menjadi tidak dibutuhkan.

Seorang staf administrasi, misalnya, mungkin menggunakan AI untuk membuat rangkuman rapat atau menyusun draf dokumen. Namun, ia tetap perlu memahami kebutuhan perusahaan, memastikan informasi yang digunakan benar, dan berkomunikasi dengan rekan kerja.

Di sinilah kita perlu membedakan antara pekerjaan dan tugas. Satu pekerjaan biasanya terdiri dari banyak tugas, dan tidak semua tugas tersebut dapat dilakukan dengan cara yang sama oleh AI.

Pekerjaan yang Berubah, Bukan Sekadar Hilang

Perubahan akibat AI kemungkinan akan terasa berbeda pada setiap bidang pekerjaan. Ada pekerjaan yang lebih banyak menggunakan data dan dokumen, ada yang membutuhkan kreativitas, dan ada pula yang mengandalkan interaksi langsung dengan manusia.

Pada pekerjaan yang banyak melibatkan aktivitas berulang, AI berpotensi membantu menyelesaikan sebagian tugas dengan lebih cepat. Sementara itu, pekerjaan yang membutuhkan penilaian, komunikasi, tanggung jawab, dan pemahaman terhadap situasi tertentu tetap memiliki unsur manusia yang penting.

Sebagai contoh, seorang pekerja di bidang pemasaran dapat menggunakan AI untuk mencari ide konten atau membuat draf tulisan. Namun, menentukan pesan yang sesuai dengan karakter pelanggan tetap membutuhkan pemahaman terhadap manusia dan konteks bisnis.

Begitu pula dalam bidang teknologi. Pengembang software dapat memanfaatkan AI untuk membantu menulis kode, menemukan kesalahan, atau menyusun dokumentasi. Akan tetapi, merancang sistem yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan tetap membutuhkan analisis, diskusi, pengujian, dan keputusan dari manusia.

Dalam situasi seperti ini, AI bukan hanya menjadi alat untuk menggantikan pekerjaan, melainkan juga alat yang mengubah cara pekerjaan dilakukan.

Perusahaan Mulai Memikirkan Ulang Cara Bekerja

Perubahan teknologi juga membawa dampak pada cara perusahaan mengelola pekerjaan. Ketika AI dapat membantu menyelesaikan tugas tertentu, perusahaan memiliki kesempatan untuk mengevaluasi proses kerja yang selama ini dilakukan secara manual.

Misalnya, pencatatan data yang sebelumnya dilakukan menggunakan lembar kerja dapat mulai dibantu dengan sistem digital. Laporan yang sebelumnya dibuat secara manual dapat dihasilkan melalui aplikasi yang terintegrasi. Pekerjaan yang membutuhkan perpindahan data dari satu bagian ke bagian lain juga dapat disederhanakan melalui sistem yang saling terhubung.

Dalam pengembangan aplikasi atau software, AI dapat menjadi salah satu komponen yang membantu proses kerja, mulai dari pengolahan informasi hingga dukungan pengambilan keputusan. Perusahaan yang bergerak di bidang jasa pembuatan aplikasi/software, seperti Digisentra, juga berada dalam bagian dari ekosistem teknologi yang membantu bisnis memanfaatkan sistem digital sesuai kebutuhannya.

Namun, teknologi saja tidak cukup. Sebuah aplikasi yang canggih tetap perlu dirancang berdasarkan kebutuhan pengguna, alur kerja, dan tujuan bisnis. Jika tidak, sistem yang seharusnya membantu justru dapat menambah kerumitan.

Karena itu, penerapan AI di perusahaan bukan hanya soal membeli teknologi terbaru. Perusahaan juga perlu memahami masalah apa yang ingin diselesaikan dan bagaimana teknologi tersebut dapat digunakan secara tepat.

Tidak Semua Pekerjaan Akan Mendapatkan Dampak yang Sama

Salah satu hal yang perlu dipahami adalah bahwa perkembangan AI tidak akan memengaruhi semua pekerjaan dengan cara yang sama.

Pekerjaan yang memiliki banyak tugas administratif dan berulang mungkin mengalami perubahan lebih cepat. Sementara itu, pekerjaan yang membutuhkan kehadiran fisik, interaksi sosial, atau tanggung jawab langsung dapat menghadapi bentuk perubahan yang berbeda.

Laporan Future of Jobs 2025 dari World Economic Forum memperkirakan bahwa perubahan teknologi, kondisi ekonomi, dan berbagai tren lainnya dapat menciptakan sekaligus menggeser pekerjaan hingga 2030. Laporan tersebut juga mencatat bahwa pekerjaan di bidang AI, data, dan pengembangan software termasuk peran yang diperkirakan mengalami pertumbuhan.

Hal ini menunjukkan bahwa perkembangan teknologi tidak hanya berkaitan dengan berkurangnya pekerjaan, tetapi juga munculnya kebutuhan terhadap jenis pekerjaan dan kemampuan baru.

Namun, angka-angka tersebut merupakan proyeksi berdasarkan survei dan analisis, bukan kepastian mengenai apa yang akan terjadi pada setiap pekerja. Dampaknya dapat berbeda berdasarkan industri, negara, kebijakan, dan cara perusahaan menerapkan teknologi.

Kemampuan Manusia Tetap Menjadi Hal Penting

Jika AI semakin pintar, apakah manusia harus bersaing dengan AI dalam segala hal?

Mungkin bukan itu cara yang paling tepat untuk melihatnya.

AI memiliki kemampuan untuk memproses informasi dan membantu menyelesaikan tugas tertentu. Manusia memiliki pengalaman, pertimbangan, pemahaman sosial, dan kemampuan untuk mengambil keputusan berdasarkan situasi yang dihadapi.

Keduanya dapat saling melengkapi.

Seorang pekerja yang mampu menggunakan AI untuk membantu pekerjaannya mungkin memiliki cara kerja yang berbeda dibandingkan sebelumnya. Ia dapat menghabiskan lebih sedikit waktu untuk tugas tertentu dan lebih banyak waktu untuk menyelesaikan masalah yang membutuhkan pemikiran.

Namun, kemampuan menggunakan AI juga perlu disertai dengan kemampuan lain. Seseorang tetap perlu memahami pekerjaannya, memeriksa hasil yang diberikan AI, dan mengetahui kapan teknologi tersebut tidak dapat diandalkan.

AI dapat menghasilkan jawaban yang terlihat meyakinkan, tetapi bukan berarti semua jawaban itu benar. Karena itu, kemampuan berpikir kritis tetap dibutuhkan.

Tantangan Terbesarnya Mungkin Bukan AI, Melainkan Ketidaksiapan

Perubahan teknologi sering kali menimbulkan kesenjangan antara orang yang memiliki kesempatan untuk belajar dan orang yang tidak memiliki kesempatan tersebut.

Ada pekerja yang dapat mengikuti pelatihan, mencoba teknologi baru, dan mendapatkan dukungan dari perusahaan. Namun, ada pula pekerja yang harus mempelajari semuanya secara mandiri di tengah kesibukan pekerjaan.

Jika perubahan berlangsung cepat, ketidaksiapan ini dapat menjadi tantangan tersendiri.

Karena itu, pembahasan mengenai AI dan pekerjaan tidak seharusnya hanya berfokus pada apakah teknologi akan menggantikan manusia. Kita juga perlu membicarakan bagaimana pekerja dapat beradaptasi, bagaimana perusahaan memberikan kesempatan belajar, dan bagaimana pendidikan mempersiapkan generasi berikutnya.

Kemampuan seperti berpikir kritis, komunikasi, kreativitas, pemecahan masalah, serta literasi teknologi akan semakin relevan dalam menghadapi perubahan dunia kerja.

Apa yang Bisa Dilakukan Mulai Sekarang?

Bagi pekerja, langkah pertama tidak harus langsung menjadi ahli AI. Memahami teknologi yang berkaitan dengan pekerjaan sehari-hari sudah dapat menjadi awal yang baik.

Seseorang yang bekerja di bidang administrasi dapat mulai mempelajari penggunaan AI untuk membantu menyusun dokumen atau merangkum informasi. Pekerja di bidang pemasaran dapat memanfaatkannya untuk mencari ide dan mengolah data. Sementara itu, mereka yang bekerja di bidang teknologi dapat mempelajari bagaimana AI digunakan dalam pengembangan software.

Yang penting, penggunaan AI tidak berhenti pada mencoba fitur baru. Pekerja juga perlu memahami manfaat, keterbatasan, dan risiko dari teknologi tersebut.

Bagi perusahaan, penerapan AI dapat dimulai dengan mengidentifikasi pekerjaan yang membutuhkan banyak waktu dan berpotensi dibantu teknologi. Setelah itu, perusahaan dapat menguji penggunaan AI secara bertahap, mengevaluasi hasilnya, dan memastikan pekerja tetap memahami proses yang dijalankan.

Dengan pendekatan seperti ini, AI dapat menjadi bagian dari perbaikan cara kerja, bukan sekadar tren yang diikuti tanpa tujuan yang jelas.

Masa Depan Pekerjaan Masih Terbuka

Tidak ada yang dapat memastikan secara tepat bagaimana dunia kerja akan terlihat beberapa tahun mendatang. Kemampuan AI masih berkembang, dan penerapannya akan dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari kebutuhan perusahaan hingga kebijakan dan kondisi ekonomi.

Namun, satu hal yang cukup jelas adalah cara manusia bekerja sedang mengalami perubahan.

Sebagian tugas mungkin menjadi lebih otomatis. Sebagian pekerjaan mungkin berkembang menjadi bentuk baru. Di sisi lain, akan muncul kebutuhan terhadap kemampuan yang sebelumnya belum terlalu banyak dibutuhkan.

Karena itu, pertanyaan mengenai masa depan pekerjaan sebaiknya tidak hanya berhenti pada, “Apakah AI akan menggantikan manusia?”

Pertanyaan yang juga penting adalah, “Bagaimana manusia dapat menggunakan AI dengan baik, dan kemampuan apa yang perlu dipersiapkan agar tetap relevan?”

Teknologi akan terus berkembang. Tetapi bagaimana manusia beradaptasi terhadap perkembangan tersebut akan menjadi bagian penting dari perjalanan dunia kerja ke depan.