Humor dan Konflik

Alumni Program Magister Perdamaian dan Resolusi Konflik (MPRK) UGM
Tulisan dari Dimas Sigit Cahyokusumo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Humor bukan sekedar canda. Ada unsur sastra, antropologi, dan psikologi di sana. Ada humor dalam lagu, ada humor pada drama, dan ada humor di dalam karya sastra. Meski ada di mana-mana, humor masih dianggap sepele. Humor itu serius dan perlu diseriusi. Jika diandaikan makanan, humor seharusnya dipandang sebagai hidangan utama penuh gizi, bukan sekedar penyedap. Di dalam buku berjudul The Act of Creation, Arthur Koestler membagi kreativitas manusia ke dalam tiga wilayah, yaitu humor, pengetahuan, dan seni. Seni membuat orang takjub, ilmu pengetahuan membuat orang paham, dan humor membuat orang tertawa (Ulung, 2022).
Humor mungkin sudah ada sejak manusia mengenal bahasa. Humor sebagai salah satu sumber rasa gembira, mungkin sudah menyatu dengan kelahiran manusia. Jika dilacak asal-usulnya, humor berasal dari kata Latin umor yang berarti ‘cairan’. Sejak 400 SM, orang Yunani kuno beranggapan bahwa suasana hati manusia ditentukan oleh empat macam cairan di dalam tubuh, yaitu darah, lendir, empedu kuning, dan empedu hitam. Keseimbangan jumlah cairan tersebut menentukan suasana hati. Kelebihan salah satu diantaranya akan membawa pada suasana tertentu. Darah menentukan suasana gembira, lendir menentukan suasana tenang, empedu kuning menentukan suasana marah, dan empedu hitam untuk suasana sedih. Setiap cairan tersebut mempunyai karakteristik tersendiri dalam mempengaruhi setiap orang. Kekurangan darah menyebabkan orang tidak pemarah. Kelebihan empedu kuning menyebabkan jadi angkuh, pendedam, ambisius, dan licik (Rahmanadji, 2007).
Humor sangat penting bagi kualitas hidup dan pekerjaan manusia. Ada beberapa fungsi humor yang berguna bagi kehidupan. Dalam beberapa kasus humor dapat dijadikan sebagai manajemen konflik. Di Amerika Serikat, semakin banyak perusahaan besar dan kecil yang menyewa konsultan humor. Tujuannya adalah menasehati dalam membangun relaksasi untuk mengembangkan jiwa tim kerja, mengurangi stres kerja, memperbaiki komunikasi, dan memperkecil konflik.
Dalam komunikasi suatu interkasi konflik, humor mempunyai sejumlah fungsi. Berikut adalah fungsi-fungsi humor tersebut (Wirawan, 2016):
• Humor meningkatkan informasi dalam komunikasi. Dengan menggunakan humor dalam komunikasi, informasi disajikan dengan cara yang sederhana sehingga mudah diserap dan dicerna oleh penerimanya. Oleh karena diterima dalam keadaan yang menyenangkan. Bahkan jika menimbulkan kemarahan, informasi akan melekat dalam ingatan penerima pesan.
• Menciptakan identitas diri positif. Tidak semua orang dapat menciptakan humor, melucu, dan melawak secara spontan walaupun humor bisa dipelajari dan dilatih. Dengan kata lain, humor hanya muncul dalam diri humoris dengan jumlah yang terbatas. Sebagian besar orang hanya penikmat humor bukan pencipta humor. Pencipta humor menjadi pusat perhatian dalam komunikasi dan mudah memengaruhi orang lain dalam interaksi sosial.
• Humor menciptakan solidaritas. Pihak yang terlibat konflik akan berbagi informasi mengenai objek konflik, pengalaman pribadi, pendapat, kesamaan, rasa setia kawan, dan pengalaman bersama yang disampaikan dengan cara yang lucu kepada pihak lain. Dengan cara ini, ia dapat memengaruhi lawan konfliknya. Demikian juga, mediator yang humoris bisa menciptakan suasana negosiasi yang mampu memperkecil perbedaan kedua belah pihak yang terlibat konflik.
• Humor menciptakan kekuasaan. Humor bisa mengembangkan, meningkatkan atau menurunkan interaksi konflik dengan memengaruhi perilaku pihak-pihak yang terlibat konflik, baik dengan menentang maupun mengkiritknya. Humor bisa digunakan untuk mempertahankan diri, di mana pihak yang terlibat konflik berupaya menghindari untuk mengemukakan informasi yang menyudutkan dirinya atau membelokkan suatu serangan yang memalukan dari lawan konfliknya.
Di tengah-tengah kehidupan sosial saat ini yang lebih mengedepankan kekerasan dalam menyelesaikan konflik. Hadirnya humor bisa menjadi solusi yang efektif dalam mencegah terjadinya konflik, sebagaimana dikatakan oleh Sarah Luria bahwa humor bisa bermanfaat sebagai medium terapi bagi orang-orang yang terlalu serius menghadapi kenyataan. Bahkan bangsa yang berperadaban tinggi cenderung memiliki humor yang baik. Persia memiliki Abu Nawas sosok yang bijak dan lucu, di Turki ada Nasrudin Hodja, dan di Inggris ada Charlie Chaplin. Sedangkan di Indonesia kita memiliki sosok Gus Dur, bagi Gus Dur rasa humor dari sebuah masyarakat mencerminkan daya tahan yang tinggi di hadapan semua kepahitan dan kesengsaraan. Kemampuan untuk menertawakan diri sendiri adalah petunjuk adanya keseimbangan antara kebutuhan di satu pihak dan kesadaran akan keterbatasan diri di pihak lain (Susanto).
Daftar Referensi
Rahmanadji, D. (2007). Sejarah, Teori, Jenis, dan Fungsi Humor. Bahasa dan Seni Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang .
Susanto, T. A. (n.d.). Gus Dur dan Teori Humor. Retrieved from Gusdurian.net.
Ulung, K. (2022, Januari 5). Humor yang Baik itu Ibarat Hidangan Utama Penuh Gizi. Retrieved from DW Indonesia.com.
Wirawan. (2016). Konflik dan Manajemen Konflik (Teori, Aplikasi, dan Penelitian). Jakarta: Salemba Humanika.
