Tertawa yang Membebaskan

Alumni Program Magister Perdamaian dan Resolusi Konflik (MPRK) UGM
Tulisan dari Dimas Sigit Cahyokusumo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Saat seseorang tertawa, ada kemurungan yang tengah dilupakan. Atau kemurungan yang sedang diolok-olok. Dan apakah memang dunia membutuhkan tawa? Tertawa itu sebuah gagasan. Ia adalah bagian dari fenomena ekspresi manusia. Di seluruh dunia manusia tertawa. Tidak ada tawa yang berbeda semua tawa adalah sama dan satu. Tidak ada jenis tawa berdasarkan status sosial, kebangsaan, kesukuan, dan agama. Mungkin saja ada sedikit nada yang berbeda dalam mengekspresikan tawa. Tetapi secara mendasar tawa semua makhluk di dunia adalah sama.
Tertawa memiliki potensi dalam melakukan perunungan diri atas dunia yang fana. Bahkan hidup ini sejatinya merupakan permainan yang harus ditertawakan. Sebagaimana firman Allah Swt, “kehidupan dunia ini hanyalah main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (Qs. al-An’am: 32). Ayat ini ingin menegaskan bahwa orang yang hidup harus santai tidak melulu harus ditanggapi dengan serius. Lihatlah anak-anak yang bermain penuh kesenangan, tak ada beban. Bila saatnya tiba mereka akan pulang kepada ibunya. Lihatlah mereka yang bersenda gurau. Tertawa riang bersama, tanpa kebencian. Terkadang dalam guraunya satu sama lain saling mengejek, namun tak ada benci tak ada dendam di hati. Karena semua tahu, itu hanya gurauan.
Tertawa memang menyenangkan. Tetapi sayang banyak manusia yang sulit sekali tertawa, setiap saat bertampang kemuraman dan tidak menyenangkan. Tertawalah karena tertawa yang baik menurut Abu Nawas, ialah tawa yang menertawakan betapa naifnya diri ini. Dalam tawa orang lebih bisa memahami apa itu kesedihan dan kebahagiaan. Kebahagiaan itu mudah dan tidak rumit dalam mengatasi kemurungan. Kesadaran bahwa hidup tidak melulu soal bahagia, tak melulu soal sedih membawa manusia pada kesadaran sejati. Tawa tak mesti selalu bahagia, ada orang yang tertawa dalam kekalahan. Begitupun air mata, tak harus menjadi penanda kesedihan. Ada orang yang menangis dalam bahagia.
Abu nawas menggelitik dirinya sendiri sampai tertawa geli. Tuan Abu Nawas, kenapa anda menggelitik diri anda sendiri? Apa yang terjadi? Aku murung dan bersedih. Kupikirkan berhari-hari bagaimana menyelesaikan kesedihanku. Aku tak menemukan jawaban. Aku pun menggelitik diriku sendiri, sehingga geli tertawa, murung dan sedih pun berubah jadi bahagia. Jawab Abu Nawas sambil terus tertawa geli dengan dirinya sendiri.
Orang yang hebat adalah orang yang mampu mentertawakan diri sendiri. Kenapa demikian? Sebab dengan mentertawakan diri sendiri membuat kita sadar bahwa diri kita sangat lemah. Menyadari kebodohan kita sendiri, yang tanpa mengerti bersusah payah untuk mengejar kebahagiaan? Padahal kebahagiaan ada dalam pikiran dan hati kita. Tatkala seseorang memandang persoalan hidupnya adalah sebuah malapetaka, maka akan sulit baginya untuk mudah tertawa. Namun, tatkala seseorang bisa memandang hidupnya sebagai sebuah proses yang menyenangkan, maka akan mudah baginya untuk tertawa. Ketahuilah bahwa hanya dengan tertawa, jiwa akan terasa lebih ringan, tenang, positif, dan bisa memberikan efek sehat pada badan.
