Di Balik Rutinitas Antar-Jemput Anak, Ada Dilema Pengasuhan

Konten Kreator. Penggiat Wisata, Seni, dan Budaya. SWJ Ambassador 2023.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Agus Kusdinar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap pagi sebelum jarum jam menyentuh angka tujuh, saya sudah berada di atas sepeda motor. Dua anak sekolah dasar duduk di belakang. Yang satu memeluk tasnya erat, yang lain masih menguap kecil sambil menatap jalanan yang mulai ramai. Rute kami nyaris selalu sama: melewati pasar yang baru saja hidup, perempatan yang mulai padat, lalu tikungan kecil menuju sekolah.
Rutinitas ini awalnya saya anggap biasa. Sebuah kewajiban orang tua yang dijalani tanpa banyak pertanyaan. Sampai suatu hari, di tengah riuh kendaraan dan pedagang pasar, muncul kegelisahan kecil: apakah kebiasaan mengantar dan menjemput ini benar-benar membantu anak tumbuh? Atau justru diam-diam mengikis kemandirian mereka?
Sebagai orang tua, alasan saya sederhana: keselamatan. Jalan raya semakin padat, pengendara kerap terburu-buru, dan fasilitas pejalan kaki belum sepenuhnya ramah anak. Mengantar anak terasa sebagai pilihan paling aman dan masuk akal. Banyak orang tua melakukan hal yang sama, dan itu sepenuhnya bisa dipahami.
Namun perlahan saya menyadari, ada harga yang mungkin harus dibayar dari kenyamanan ini. Anak-anak terbiasa menunggu dan mengikuti. Mereka tidak perlu belajar membaca situasi jalan, mengambil keputusan kecil, atau menghadapi ruang publik secara mandiri. Semua sudah disiapkan oleh orang tua, dari rumah hingga gerbang sekolah.
Dalam praktik pengasuhan, kemandirian sering dimaknai secara sempit. Anak dianggap mandiri jika mampu mengerjakan tugas sendiri, mendapatkan nilai baik, atau berani berbicara di kelas. Padahal, kemandirian juga dibentuk dari pengalaman sehari-hari yang sederhana: berjalan sendiri, mengenali lingkungan, dan menyelesaikan masalah kecil tanpa selalu bergantung pada orang dewasa.
Ketika anak terlalu sering diantar dan dijemput, mereka kehilangan kesempatan belajar dari dunia nyata. Mereka tidak terbiasa menghadapi risiko kecil, tidak terlatih mengambil keputusan sederhana, dan kurang percaya diri saat harus berhadapan dengan situasi di luar rumah. Bahkan, tak jarang kita melihat orang tua menunggu anak hingga tepat di depan kelas, lalu kembali menjemput di tempat yang sama saat jam pulang.
Sekolah sejatinya bukan hanya ruang akademik. Ia adalah ruang sosial tempat anak belajar mengelola diri, berinteraksi, dan menghadapi persoalan sehari-hari. Dari mencari kelas, menyimpan barang, hingga berani meminta bantuan—semua itu adalah bagian dari proses tumbuh yang kerap terlewatkan ketika orang tua terlalu hadir.
Siang hari sekitar pukul 13.30, saya kembali menjemput. Di depan gerbang sekolah, deretan motor orang tua berjejer rapi di bahu jalan. Anak-anak keluar dengan berbagai ekspresi: ada yang berlari memeluk orang tuanya, ada pula yang berjalan santai bersama teman. Suasana ini terasa hangat dan aman, tetapi sekaligus memunculkan pertanyaan: apakah rasa aman ini sudah memberi ruang bagi anak untuk berani?
Tentu, antar-jemput bukan hanya soal kontrol. Di atas motor, sering terjadi percakapan kecil tentang sekolah, guru, dan teman. Momen singkat itu menjadi ruang kedekatan emosional yang penting antara orang tua dan anak. Namun jika dilakukan terus-menerus tanpa jeda, kebiasaan ini bisa menumbuhkan ketergantungan yang tak disadari.
Di sinilah peran orang tua diuji. Bukan memilih antara aman atau mandiri, melainkan mencari titik seimbang. Kemandirian tidak muncul secara tiba-tiba ketika anak dewasa. Ia tumbuh dari kepercayaan kecil yang diberikan secara bertahap.
Orang tua bisa memulainya dari hal sederhana: membiarkan anak berjalan sendiri dari gerbang ke kelas, memberi tanggung jawab membawa perlengkapan sendiri, atau mengenalkan rute rumah ke sekolah sambil tetap diawasi. Langkah kecil ini memberi pesan penting: orang tua percaya pada kemampuan anak.
Sampai hari ini, saya masih mengantar dan menjemput anak-anak saya. Namun saya belajar untuk tidak selalu hadir di setiap langkah mereka. Karena tugas orang tua bukan hanya memastikan anak selamat hari ini, tetapi juga menyiapkan mereka agar kelak berani melangkah sendiri.
Tidak ada orang tua yang ingin anaknya tumbuh tanpa rasa aman. Namun sama pentingnya, tidak ada orang tua yang ingin anaknya tumbuh tanpa keberanian. Dan mungkin, di sanalah esensi pengasuhan itu berada.
