Konten dari Pengguna

Negeri Pecinta Thriller, tapi Malas Berpikir

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Suhendri Cahya Purnama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

dreamina.capcut.com
zoom-in-whitePerbesar
dreamina.capcut.com

Beginilah negeri yang tak pernah kekurangan tontonan: berita yang lebih seram daripada film horor, tapi dengan tiket masuk gratis di layar ponsel. Kali ini, bukan Hannibal Lecter yang menyajikan makan malam, melainkan seorang anak manusia bernama Alvi Maulana, jagal kurban musiman yang naik kelas jadi jagal kemanusiaan. Bedanya, kambing tak pernah menulis surat cinta, sementara Tiara—korban sekaligus pasangan lima tahun—pernah berbagi mimpi yang kini tinggal serpihan tulang.

Ratusan potongan tubuh—554, jika mau main tebak angka—jadi semacam katalog absurd dari betapa murahnya tubuh manusia ketika cinta bergeser jadi dendam dan otak berhenti mengenali empati. Psikopat, kata buku-buku psikologi, adalah mereka yang memandang manusia seperti objek, mainan yang bisa dipisah-pisahkan tanpa rasa bersalah.

Tetapi masyarakat sering memperlakukannya seperti tokoh fiksi, sekadar film yang bisa dimatikan dengan tombol remote. Padahal, psikopat bukan karakter eksotis di layar bioskop, melainkan tetangga yang menyapa dengan senyum basa-basi di pagi hari.

Robert D. Hare, psikolog asal Kanada yang meneliti psikopati selama puluhan tahun, pernah menegaskan: inti psikopati bukanlah kegilaan yang meledak-ledak, melainkan kekosongan emosi yang menakutkan. Mereka mampu meniru kasih sayang, tertawa pada saat yang tepat, bahkan menjalani hubungan asmara bertahun-tahun, namun semua itu tak lebih dari topeng. Empati tidak pernah benar-benar ada—yang ada hanyalah keterampilan memanipulasi dan menguasai. Maka, ketika Tiara dimutilasi, yang bekerja bukanlah hati, melainkan kalkulasi dingin tanpa getaran nurani.

Filsuf Hannah Arendt dalam ulasannya tentang “banalitas kejahatan” mengingatkan bahwa kejahatan besar sering lahir bukan dari sosok monster luar biasa, tetapi dari manusia biasa yang gagal berpikir secara moral. Dalam kasus ini, kita tak sedang berhadapan dengan tokoh film yang karismatik atau “jenius jahat”, melainkan dengan seseorang yang, seperti banyak orang lain, pernah membantu memotong hewan kurban.

Bedanya, ia membawa keterampilan itu masuk ke ruang yang tak pernah seharusnya disentuh: tubuh kekasihnya sendiri. Kejahatan itu menjadi banal justru karena lahir dari sesuatu yang tampak sehari-hari, yang kita kenali, yang dekat.

dreamina.capcut.com

Kita sering mengagumi film tentang kanibalisme: The Silence of the Lambs, Cannibal Holocaust, bahkan kisah-kisah gore yang bikin perut mual tapi mata tak mau berpaling. Bedanya, ketika sutradara berteriak cut, para aktor pulang dengan tubuh utuh. Di Mojokerto, adegan mutilasi ini tak mengenal lampu sorot.

Di sini, kamera forensik yang bekerja, bukan kamera film. Dan keluarga Tiara, bukan penonton, yang harus menerima “naskah” paling kejam: peti mati yang berisi ratusan kepingan, bukannya tubuh yang bisa dipeluk untuk terakhir kali.

Ironisnya, kisah ini akan kita konsumsi sama seperti kita menikmati thriller layar lebar. Kita akan menutup layar ponsel, menghela napas, lalu kembali sibuk memikirkan apa makan malam nanti. Seperti biasa, realitas tragis berubah jadi hiburan instan. Sementara itu, kita lupa bertanya: seberapa tipis sebenarnya dinding yang memisahkan manusia biasa dengan jagal manusia?

Kengerian ini bukan sekadar berita kriminal. Ia cermin retak yang memperlihatkan betapa masyarakat gemar menertawakan kegilaan dalam fiksi, tapi gagal mengenali monster yang lahir dari dalam lingkungannya sendiri.

Mungkin benar, negeri ini sedang lebih mahir menonton daripada memahami.