Konten dari Pengguna

Anak, Buku, dan HP: Mengapa Orang Tua Perlu Membuat Batas?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dionisius Wijaya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber foto: Dokumentasi pribadi/Dionisius Wijaya
zoom-in-whitePerbesar
Sumber foto: Dokumentasi pribadi/Dionisius Wijaya

Di tengah perkembangan teknologi yang semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari, HP telah menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari kehidupan anak dan remaja. Berbagai aktivitas dapat dilakukan melalui satu perangkat, mulai dari belajar, berkomunikasi, mencari informasi, hingga menikmati hiburan.

Kemudahan tersebut tentu memberikan banyak manfaat. Namun, di sisi lain, penggunaan HP yang tidak terarah juga dapat membuat anak lebih banyak menghabiskan waktu di depan layar dibandingkan melakukan kegiatan lain yang tidak kalah penting, salah satunya membaca buku.

Sebagai calon pendidik, saya melihat bahwa kebiasaan membaca masih memiliki tempat yang penting dalam proses perkembangan anak. Buku memberikan ruang bagi anak untuk mengenal berbagai pengetahuan, cerita, sudut pandang, dan pengalaman yang mungkin belum mereka temui dalam kehidupan sehari-hari.

Membaca juga tidak harus selalu dimulai dari buku pelajaran. Anak dapat diperkenalkan dengan buku cerita, pengetahuan umum, komik edukatif, atau bacaan lain yang sesuai dengan usia dan minat mereka. Hal terpenting adalah bagaimana kebiasaan membaca dapat tumbuh menjadi aktivitas yang menyenangkan, bukan sesuatu yang dilakukan hanya karena kewajiban.

Di sinilah peran orang tua menjadi penting. Mengatur penggunaan HP pada anak bukan berarti orang tua harus sepenuhnya melarang teknologi. HP tetap dapat menjadi sarana belajar dan memperoleh informasi apabila digunakan dengan tepat. Yang dibutuhkan adalah batas dan pendampingan agar anak mampu memahami kapan waktunya menggunakan teknologi dan kapan waktunya melakukan aktivitas lain.

Menurut saya, membuat batas penggunaan HP juga perlu disertai dengan memberikan alternatif kegiatan yang menarik. Akan sulit meminta anak mengurangi penggunaan HP apabila tidak ada kegiatan lain yang dapat mereka nikmati. Orang tua dapat mengajak anak membaca bersama, menyediakan buku yang sesuai dengan minatnya, atau menciptakan waktu tertentu di rumah untuk membaca.

Kebiasaan tersebut akan lebih mudah dibangun apabila orang tua juga memberikan contoh. Anak sering kali belajar melalui apa yang mereka lihat di lingkungan terdekatnya. Ketika membaca menjadi bagian dari kebiasaan keluarga, buku tidak lagi terasa sebagai sesuatu yang hanya berkaitan dengan sekolah.

Hal yang tidak kalah penting adalah komunikasi. Aturan penggunaan HP sebaiknya tidak hanya berupa larangan. Anak perlu memahami alasan mengapa batas tersebut dibuat. Dengan komunikasi yang baik, anak dapat belajar mengatur dirinya sendiri secara bertahap, bukan hanya menggunakan HP karena takut dimarahi orang tua.

Bagi calon guru, persoalan seperti ini juga menjadi pengingat bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung di sekolah. Kebiasaan belajar, membaca, dan menggunakan teknologi juga banyak dipengaruhi oleh lingkungan keluarga. Karena itu, hubungan antara guru dan orang tua menjadi penting dalam mendukung perkembangan anak.

Sumber foto: Dokumentasi pribadi/Dionisius Wijaya

Guru dapat membantu memberikan arahan dalam proses pendidikan, sementara orang tua memiliki peran besar dalam membangun kebiasaan anak di rumah. Keduanya dapat saling mendukung agar teknologi tidak menjadi penghambat, tetapi justru menjadi bagian dari proses belajar yang sehat.

Pada akhirnya, persoalannya bukan tentang memilih antara buku atau HP. Keduanya memiliki manfaat masing-masing. Yang lebih penting adalah bagaimana anak belajar menggunakan keduanya secara seimbang dan bertanggung jawab.

Buku tetap perlu hadir di tengah perkembangan teknologi. Begitu pula HP tidak harus dijauhkan dari kehidupan anak. Dengan pendampingan, komunikasi, dan batas yang tepat dari orang tua, anak dapat belajar bahwa teknologi adalah alat yang bisa digunakan sesuai kebutuhan, sementara membaca dapat menjadi kebiasaan yang terus mereka bawa dalam proses tumbuh dan belajar.

Membangun kebiasaan membaca mungkin tidak dapat dilakukan dalam satu hari. Begitu pula mengajarkan anak mengatur penggunaan HP membutuhkan proses. Namun, dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten, keluarga dapat membantu anak tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya melek teknologi, tetapi juga memiliki budaya membaca dan kemampuan untuk menggunakan teknologi secara bijak.