Konten dari Pengguna

Jejak Sebulan Setengah Sepatu Kets Bu Nanik

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dirgayuza Setiawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Saya, Bu Nanik, dan Presiden Prabowo. Dok: Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Saya, Bu Nanik, dan Presiden Prabowo. Dok: Istimewa

Hari ini, 22 Juli 2026, Ibu Nanik Deyang berpamitan kepada Presiden Prabowo untuk menjalani pengobatan jantung. Beliau juga mengundurkan diri sebagai Kepala Badan Gizi Nasional.

Saya mengenal Bu Nanik sejak menjelang Pemilu 2014. Lebih dari satu dekade saya melihat satu hal yang tidak pernah berubah darinya: ia tidak bisa diam ketika melihat rakyat menghadapi ketidakadilan dan kesulitan.

Bu Nanik adalah sosok yang mengungkap kasus BMI Wilfrida Soik kepada Pak Prabowo — hingga kemudian Wilfrida dibela dari ancaman hukuman mati di Malaysia.

Bu Nanik pula yang mengusulkan program becak listrik untuk para pengayuh becak lanjut usia.

Gagasan-gagasannya selalu lahir dari tempat yang sama: keberpihakan kepada mereka yang sering tidak terlihat.

Karakter itulah yang ia bawa ke BGN.

Ketika dipercaya Presiden memimpin BGN, hanya dalam satu setengah bulan, ia membongkar masalah dan meletakkan fondasi perbaikan.

Saya mencatat di bawah kepemimpinan bu Nanik:

1. BGN mengevaluasi hampir 28.000 SPPG yang telah beroperasi.

2. Sebanyak 3.000 dapur sudah diberikan klasifikasi A, B dan C berdasarkan standar kualitas dan keamanan pangan.

3. Ekspansi dapur baru di wilayah yang telah padat dihentikan sementara, kecuali di kawasan 3T.

4. Bu Nanik juga menemukan 414 SPPG yang belum beroperasi, tetapi telah menerima pencairan anggaran atau memiliki rekening virtual ganda. Ratusan miliar Rupiah dikembalikan ke kas negara.

5. Bu Nanik bentuk sebelas tim reformasi total. Ia pimpin upaya refocusing MBG agar lebih menyasar balita, ibu hamil, ibu menyusui, anak SD dan SMP, serta siswa di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar.

6. Kemarin ia juga mengganti lima pejabat eselon I dengan tenaga profesional dari Kementerian Kesehatan, Kemendikdasmen, Kementerian Keuangan, BPKP, dan Kejaksaan.

Semua itu dilakukan karena Bu Nanik memahami keyakinan Presiden: MBG adalah investasi untuk anak-anak kelak akan menentukan masa depan Republik.

Ia juga melihat sendiri bagaimana MBG menghidupkan ekonomi rakyat. Ketika program berhenti selama tiga minggu libur sekolah, petani dan peternak mengeluh hasil produksinya tidak terserap. Pedagang pasar harus membuang sayur dan buah karena kehilangan pembeli.

Dari sana terlihat bahwa satu porsi MBG bukan hanya mengisi perut seorang anak. Di belakang MBG ada penghasilan petani, peternak, nelayan, pedagang, koperasi, UMKM, dan keluarga-keluarga Indonesia.

Dulu saya menulis tentang sepatu kets Bu Nanik. Sepatu sederhana yang dipakainya untuk mendatangi dapur, meninjau sekolah, memeriksa kebersihan, dan bahkan menerima penghargaan di Istana Negara.

Hari ini, ibu bersepatu kets itu pamit untuk berhenti sejenak.

Presiden meminta Bu Nanik tetap mengawasi BGN. Bu Nanik sendiri bergurau, ia tidak sabar untuk kembali bisa “mencereweti” dan “menjewer” jika ada yang menyimpang.

Begitulah Bu Nanik. Bahkan ketika sedang sakit, yang dipikirkannya tetap pekerjaan, Presiden, rakyat, dan anak-anak Indonesia.

Selamat berobat, Bu Nanik.

Indonesia masih membutuhkan langkah Ibu. Anak-anak Indonesia masih menunggu Ibu kembali — sehat, kuat, kritis dan cerewet seperti biasa.