Konten dari Pengguna

Mengenal Distimia, Depresi Kronis Jangka Panjang

DokterSehat

DokterSehatverified-green

Media informasi kesehatan terpercaya di Indonesia. Membahas penyakit, kehamilan, parenting, seks, kecantikan, obat, herbal, dll. Kunjungi: www.doktersehat.com

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari DokterSehat tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi seseorang mengalami distimia (Sumber foto: Freepik)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi seseorang mengalami distimia (Sumber foto: Freepik)

Doktersehat.com – Pernah mendengar apa itu distimia? Distimia adalah depresi kronis ringan yang juga disebut juga sebagai persistent depressive disorders (PDD). Ketika seseorang mengalami distimia, maka gejala depresinya bisa bertahan lama hingga dua tahun atau lebih.

Distimia mirip dengan depresi berat, sehingga diperlukan penyelidikan lebih lanjut untuk membedakannya. Ada lebih dari setengah penderita distimia akhirnya mengalami depresi berat. Sekitar setengah dari pasien depresi berat yang dirawat ternyata menderita depresi ganda.

Pada beberapa kasus, distimia lebih melumpuhkan daripada depresi berat. Meskipun demikian, gejala distimia memang tidak terlalu parah, namun bisa bertahan lama. Perlu diingat bahwa distimia adalah gangguan kejiwaan yang serius.

Apa Saja Gejala Distimia?

Sebagian orang tidak menyadari bahwa dirinya sedang mengidap distimia. Hal ini disebabkan oleh gejalanya yang bisa datang dan pergi selama bertahun-tahun. Meskipun demikian, ketika gejalanya muncul tidak akan hilang selama dua bulan. Berikut ini beberapa gejala distimia:

• Nafsu makan turun atau malah makan berlebihan.

• Mengalami gangguan tidur

• Merasa cepat lelah

• Produktivitas menurun

• Emosi tidak stabil

• Kehilangan minat untuk beraktivitas

• Merasa sedih dan hampa

• Merasa putus asa

• Susah konsentrasi dan membuat keputusan

• Muncul perasaan bersalah dan khawatir akan masa lalu

Khusus gejala distimia pada anak, umumnya ditandai dengan suasana hati yang tertekan dan mudah marah.

Faktor Penyebab Distimia

Sampai saat ini, penyebab distimia tidak diketahui secara pasti. Sama halnya dengan depresi berat, ada beberapa faktor yang memicu penyebab distimia, yaitu:

1. Traumatis

Trauma akan suatu hal tertentu di masa lalu bisa jadi pemicu distimia. Faktor penyebab ini dialami juga dengan seseorang dengan depresi berat.

2. Kondisi Kepribadian

Kepribadian seseorang juga bisa berpengaruh. Kondisi ini bisa saja bermula dari selalu berpikiran negatif, seperti sering pesimis, menganggap rendah diri sendiri, atau selalu bergantung pada orang lain.

3. Perbedaan Biologis

Seseorang yang mengalami distimia mungkin mengalami perubahan fisik pada bagian otak. Kondisi ini dapat membantu menentukan penyebab distimia, namun signifikansi perubahan ini masih belum pasti.

4. Efek Neurotransmitter

Neurotransmitter adalah zat kimia di otak yang muncul secara alami dan diduga sebagai penyebab depresi. Adanya perubahan fungsi dan efek neurotransmitter akan berkaitan dalam menjaga stabilitas suasana hati.

5. Faktor Keturunan

Apabila ada anggota keluarga yang mengalami distimia, maka bukan tidak mungkin anggota keluarga yang lainnya pun berkemungkinan besar akan mengalami kondisi serupa.

Cara Mengatasi dan Mengobati Distimia

Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mengatasi dan mengobati distimia yang terdiri dari psikoterapi dan pengobatan medis. Apabila ingin mendapatkan hasil yang maksimal, semua pengobatan perlu dilakukan secara bersamaan. Berikut ini cara mengatasi distimia:

1. Mengubah Gaya Hidup

Gejala distimia bisa dikurangi dengan mengubah gaya hidup. Beberapa yang perlu dilakukan adalah:

• Konsumsi makanan bergizi

• Perbanyak olahraga dan aktivitas fisik

• Hindari konsumsi alkohol dan penggunaan narkoba

• Jangan lewatkan sesi konsultasi dengan psikiater

• Hubungi dokter atau terapis jika terjadi perubahan gejala distimia

Perlu diingat bahwa distimia adalah suatu kondisi yang tidak bisa ditangani sendiri, sehingga membutuhkan bantuan professional.

2. Melakukan Psikoterapi

Psikoterapi adalah salah satu langkah umum yang dilakukan untuk mendeteksi dan mengobati depresi. Seseorang yang mengalami gejala depresi bisa berkonsultasi dengan tenaga professional untuk menentukan jenis terapi yang tepat. Oleh karena itu, psikoterapi juga dikenal sebagai terapi wicara atau konseling psikologis.

3. Mengonsumsi Obat-obatan

Biasanya dokter akan memberikan beberapa antidepresan untuk mengobati distimia yang terdiri dari:

• Selective serotonin reuptake inhibitors (SSRI), seperti fluoxetine (Prozac) dan sertraline (Zoloft).

• Tricyclic antidepressants (TCA), seperti amitriptyline (Elavil) dan amoxapine (Asendin).

• Serotonin and norepinephrine reuptake inhibitors (SNRIs), seperti desvenlafaxine (Pristiq) dan duloxetine (Cymbalta).

Obat-obatan tersebut harus dikonsumsi secara rutin sesuai dengan dosis yang diberikan. Apabila melewatkan jadwal minum obat tanpa konsultasi dengan dokter, maka bisa memperburuk gejala depresi.

Itu dia bahasan singkat mengenai distimia. Apabila Anda atau orang di sekeliling Anda mengalami gejala depresi, jangan ragu untuk segera konsultasikan diri ke dokter.

Temukan berbagai informasi kesehatan lainnya di doktersehat.com.