Anjloknya Angka Pernikahan di China

Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Donny Syofyan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hari ini di kalangan anak-anak muda di China ada pameo bahwa ‘menikah itu seperti masuk neraka.” Ungkapan ini berawal dari seorang pengguna Weibo di China. Memang terdengar lucu, tetapi ini bukan lelucon karena sentimen terhadap pernikahan sangat negatif di kalangan anak-anak muda di negeri Tirai Bambu ini.
Tahun 2020 lalu China mencatat angka pernikahan terendah. Jumlah pernikahan turun menjadi 6,83 juta, yang terendah sejak aktivitas pencatatan dimulai pada tahun 1986. Tingkat pernikahan di China menurun drastis selama dekade terakhir.
Terlepas dari kuatnya dorongan pemerintah, warga muda China tidak bergeming dan tetap memilih lajang. Mereka tidak mau menikah. Tak pelak, ini hanya memperparah krisis demografis yang sedang berlangsung di negara ini.
Saya pernah menonton sebuah film dokumenter tentang sebuah pasangan yang berpose untuk foto sebelum pernikahan (pre-wedding) di suatu kota di China. Pengantin perempuan dengan gugup menyilangkan tangannya ke lengan calon pengantin pria.
Rupanya ini karena permintaan fotografer. Mereka adalah pasangan palsu yang merupakan bagian sebuah pertunjukan yang diatur oleh seorang artis. Si artis itu memilih secara acak dua orang asing di jalan. Mereka menikah hanya untuk kemudian bercerai dalam waktu 48 jam.
Banyak anak-anak muda di China yang berani menggugat institusi pernikahan. Sebagian besar, terutama perempuan, percaya bahwa mereka sanggup menjalani kehidupan yang baik dengan melajang.
Bagi mereka memiliki keluarga hanyalah beban. Mereka tidak membutuhkan pernikahan. Mereka ingin berpikir jernih tentang apa yang mereka inginkan sebelum menikah, bukan karena hendak memenuhi harapan orang lain, termasuk orang tua dan masyarakat. Jutaan anak-anak muda di China semakin tidak memercayai pentingnya pernikahan.
Sebetulnya tidak semua anak-anak muda di China membenci pernikahan. Mereka cukup menyukainya tapi dengan cara-cara yang kreatif. Kita masih bisa menemukan banyak pasangan yang menikah di taman hiburan.
Atau yang memilih pesta pernikahan massal selama festival es. Bagi mereka, mencintai satu sama lain seperti es dan salju, putih murni dan indah, cukup dramatis tetapi juga manis. Dan buat mereka hal ini pasti lebih baik daripada tidak ingin menikah sama sekali.
Angka pernikahan di negara ini mencapai puncaknya pada 2013. Hampir 13,5 juta pasangan menikah. Jumlah itu hampir dua kali lipat dari angka tahun 2020 lalu. Angka ini juga melebihi seluruh penduduk di beberapa negara.
Tetapi dalam dekade terakhir, tingkat pernikahan China turun cepat dan drastis. Masyarakat sudah banyak menua dan uzur. Dalam dekade berikutnya diprediksi sekitar 400 juta orang akan berusia 60 tahun ke atas di China. Jumlah ini adalah 30 persen dari total populasi.
Tingkat kelahiran di China juga anjlok tahun 2022. Populasi menyusut untuk pertama kalinya dalam enam dekade. Lonceng peringatan mulai berdering di kalangan pihak berkuasa.
Pemerintah telah mengadakan acara kencan massal dan pengurangan biaya sosial menyangkut harga pengantin; jumlah yang dibayarkan kepada keluarga calon mempelai perempuan.
Pemerintah juga mewajibkan 30 hari masa tunggu sebelum perceraian. Pemerintah telah meluncurkan banyak program untuk mendorong anak-anak muda agar mau menikah. Tetapi hasilnya tidak menggembirakan
Kaum perempuan di China semakin memandang pernikahan sebagai alat untuk menindas mereka. Mereka menuntut kesetaraan dalam membesarkan anak dan menolak untuk menikah muda.
Antara 2010 dan 2020, usia rata-rata bagi perempuan untuk menikah untuk pertama kalinya meningkat dari 24 tahun menjadi hampir 29 tahun. Dengan melonjaknya tingkat pengangguran di China, pernikahan bukan lagi pilihan utama bagi anak-anak muda.
Sungguh pun pemerintah China terus berkoar dan berperilaku seperti kerabat jauh yang kepo agar anak-anak muda mau menikah, upaya ini tidak berhasil. Agaknya uluran tangan pihak lain bisa membantu China, semisal konsultan perjodohan yang ikonik ala Seema Taparia dari Mumbai.
