Dari Kolong ke Ruang Podcast: Inovasi Literasi Digital untuk Masyarakat Ciputat
Tulisan dari Nisak Ruwah Ibnatur Husnul tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Di bawah lalu lintas jalan layang Ciputat, suara kendaraan yang melintas menjadi bagian dari keseharian anak-anak yang datang ke Taman Baca Masyarakat (TBM) Kolong Ciputat.
Namun, di tengah riuhnya kawasan perkotaan, ada suara lain yang sedang dibangun: suara anak-anak yang belajar membaca, berpikir, berdiskusi, dan kini mulai belajar berbicara melalui podcast.
TBM Kolong Ciputat tumbuh dari semangat masyarakat untuk menyediakan ruang alternatif bagi anak-anak dan remaja di tengah keterbatasan lingkungan. Pada kegiatan tertentu, TBM melayani sekitar 80 anak dan remaja usia 10–18 tahun. Mereka datang untuk membaca, belajar bersama, berdiskusi, dan mengikuti berbagai kegiatan kreatif.
Di tempat seperti inilah persoalan literasi digital menemukan maknanya yang sesungguhnya.
Sebab, tantangan anak-anak hari ini bukan lagi sekadar apakah mereka mengenal teknologi. Sebagian besar sudah bersentuhan dengan gawai dan internet. Persoalannya apakah teknologi tersebut digunakan hanya untuk mengonsumsi hiburan dan informasi, atau sudah menjadi alat untuk belajar, berpikir kritis, berkomunikasi, dan menghasilkan karya.
Data yang menjadi dasar program menunjukkan sekitar 75–80 persen anak dan remaja peserta TBM telah memiliki akses terhadap perangkat digital. Namun, pemanfaatannya masih banyak didominasi aktivitas pasif seperti menonton video dan menggunakan media sosial.
“Anak-anak sekarang sebenarnya sudah sangat dekat dengan teknologi. Tantangannya adalah bagaimana kedekatan itu kita arahkan menjadi pengalaman belajar yang produktif.”
Demikian pandangan Nisak Ruwah Ibnatur Husnul, dosen Universitas Pamulang, yang selama ini konsisten terlibat dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat di TBM Kolong Ciputat.
Menurut Nisak, pendekatan pembelajaran digital harus dimulai dari kondisi nyata masyarakat, bukan semata-mata dari kecanggihan teknologinya.
“Kalau kita ingin memperkuat literasi digital, anak jangan terus-menerus ditempatkan sebagai penonton. Mereka perlu diberi kesempatan untuk membuat sesuatu, menyampaikan pendapat, bekerja sama, dan menghasilkan konten yang bernilai.”
Pandangan tersebut kemudian diwujudkan melalui program Integrasi Edutech melalui Participatory Podcast Learning untuk Penguatan Literasi Digital di TBM Kolong Ciputat pendanaan Hibah BIMA 2026 skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat oleh DPPM Kementrian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi.
Gagasan utamanya sederhana, tetapi penting: mengubah anak dari konsumen konten digital menjadi produsen pengetahuan.
Anak-anak tidak hanya diajak mendengarkan podcast. Mereka dilibatkan dalam proses di baliknya.
Mereka belajar memilih topik, mencari informasi, memilah sumber, menyusun naskah, berdiskusi, berbicara di depan mikrofon, melakukan rekaman, hingga merefleksikan isi konten yang mereka hasilkan.
Dengan cara itu, satu kegiatan podcast dapat menjadi pintu masuk bagi banyak kompetensi sekaligus.
Ketika anak mencari informasi, ia belajar literasi informasi.
Ketika ia memilah informasi yang layak digunakan, ia belajar berpikir kritis.
Ketika ia menyusun naskah, ia belajar menulis dan mengorganisasi gagasan.
Ketika ia berbicara di depan mikrofon, ia belajar komunikasi.
Ketika ia bekerja bersama teman, ia belajar kolaborasi.
Dan ketika ia memahami apa yang pantas dipublikasikan, ia belajar etika digital.
Bukan sekadar podcast, tetapi ruang belajar
Ruang tersebut dirancang sebagai studio mini yang sederhana, tetapi fungsional. Dengan ukuran sekitar 2.6m × 2.6m dan tinggi 3.5m, di dalamnya terdapat meja, kursi, mikrofon, perangkat pendukung, serta ruang yang dirancang untuk menciptakan suasana rekaman yang lebih kondusif.
Bagi sebagian orang, ruang tersebut mungkin terlihat sederhana.
Namun bagi TBM Kolong Ciputat, kehadiran ruang podcast memiliki makna yang lebih besar.
Ia menjadi simbol bahwa teknologi pendidikan tidak harus selalu identik dengan laboratorium komputer yang mahal atau fasilitas digital yang kompleks.
Teknologi dapat dimulai dari sebuah ruang kecil, sebuah mikrofon, beberapa anak yang ingin belajar, dan pendamping yang memberikan kesempatan kepada mereka untuk bersuara.
“Ruang podcast ini kami bayangkan bukan hanya sebagai tempat merekam suara. Ini harus menjadi ruang belajar. Anak-anak belajar berani menyampaikan gagasan, belajar mendengarkan orang lain, belajar bekerja sama, sekaligus belajar bertanggung jawab terhadap apa yang mereka sampaikan,” ujar Nisak.
Dari suara anak, lahir literasi digital
Konsep Participatory Podcast Learning menjadi penting karena menempatkan peserta sebagai bagian utama dari proses pembelajaran.
Anak bukan objek yang hanya menerima materi dari fasilitator. Mereka menjadi bagian dari proses produksi pengetahuan.
Pendekatan ini dirancang untuk menjawab persoalan yang ditemukan di TBM Kolong Ciputat: akses terhadap perangkat digital relatif sudah tersedia, tetapi pemanfaatannya secara kritis dan produktif masih perlu diperkuat. Program juga dirancang agar pengelola dan relawan TBM memiliki model pembelajaran yang dapat terus digunakan.
Harapannya, podcast tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat, namun menjadi bagian ekosistem literasi TBM.
Podcast dapat menjadi dokumentasi kegiatan, media belajar, ruang ekspresi anak, sekaligus kanal untuk memperkenalkan kegiatan dan gagasan komunitas kepada masyarakat yang lebih luas.
Program ini menargetkan keterlibatan aktif peserta dalam produksi podcast, termasuk kemampuan menyusun naskah, tampil sebagai pengisi suara, serta menjalankan berbagai peran seperti penulis, penyiar, dan editor. Program menargetkan produksi sedikitnya lima episode podcast literasi yang dapat dipublikasikan melalui platform digital terbuka.
Ketika kolong jembatan menjadi ruang tumbuh
Ada sesuatu yang menarik dari TBM Kolong Ciputat.
Berada di ruang yang secara fisik mungkin tidak ideal untuk membicarakan masa depan pendidikan. Namun justru dari tempat itulah muncul upaya untuk menjawab salah satu tantangan pendidikan masa kini: bagaimana mendampingi generasi muda agar tidak hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga mampu menggunakannya secara kritis, kreatif, dan bertanggung jawab.
Kita sering berbicara mengenai transformasi digital pendidikan dalam bahasa yang besar: kecerdasan buatan, metaverse, pembelajaran adaptif, big data, dan berbagai teknologi mutakhir lainnya.
Semua itu penting.
Tetapi transformasi pendidikan pada akhirnya harus kembali kepada manusia.
Kepada anak yang perlu didengarkan.
Kepada komunitas yang perlu diberdayakan.
Dan kepada ruang-ruang belajar yang mungkin sederhana, tetapi memiliki arti besar bagi masyarakat.
Karena itu, podcast di TBM Kolong Ciputat bukan sekadar tentang mikrofon, rekaman, atau konten digital, namun tentang keberanian untuk memberi anak-anak ruang bersuara.
Suara untuk bertanya.
Suara untuk bercerita.
Suara untuk menyampaikan gagasan.
Dan suara untuk menunjukkan bahwa mereka juga mampu menghasilkan pengetahuan.
“Harapan kami sederhana. Anak-anak tidak hanya menggunakan gawai untuk melihat apa yang dibuat orang lain. Mereka juga belajar bahwa mereka bisa membuat sesuatu yang bermanfaat dan didengar orang lain,” kata Nisak.
Literasi digital adalah tentang apa yang mereka lakukan dengan teknologi ketika layar berada di hadapan mereka.
Dan di sebuah ruang kecil di bawah jalan layang Ciputat, pelajaran itu sedang dimulai.
Dari membaca menjadi berbicara.
Dari mendengar menjadi pencipta.
Dari konsumen menjadi produsen.
Dari kolong jembatan, anak-anak itu sedang belajar menemukan suaranya sendiri.

