Konten dari Pengguna

Ketika Alam Menjadi Kurikulum: Ekoteologi sebagai Jalan Baru Pendidikan Islam

Achmad Diny Hidayatullah

Achmad Diny Hidayatullah

ASN UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Achmad Diny Hidayatullah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menteri Agama RI menyampaikan gagasan tentang implementasi ekoteologi ke Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Agama RI menyampaikan gagasan tentang implementasi ekoteologi ke Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Di tengah krisis iklim global, Menteri Agama RI menggagas konsep yang penting: ekoteologi. Bukan sekadar wacana hijau yang diselipkan dalam pidato birokratik, ekoteologi lahir dari kesadaran mendalam bahwa agama tidak boleh abai terhadap semesta.

Gagasan ini bukan lahir dari ruang hampa. Kementerian Agama yang dikenal sebagai institusi yang membidangi keagamaan, bergerak lebih jauh. Agama harus bisa melahirkan paradigma baru yang menyatukan ekologi dan teologi. Bagi Menteri Agama, inilah saatnya lembaga keagamaan menjadi garda terdepan dalam membumikan ajaran cinta lingkungan yang terkandung dalam nilai-nilai agama.

Namun setiap gagasan besar butuh medan pembuktian. Maka dicarilah kampus yang memiliki karakter spiritual kuat, akar intelektual dalam, dan kesiapan infrastruktur yang memadai. Jatuhlah pilihan pada kampus yang terletak di dataran tinggi kota Batu, yang besar dengan tradisi pesantren dan sedang menyelesaikan kawasan baru: kampus III UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Di sinilah mimpi ekoteologi mulai menjelma. Bukan sekadar program hijau-hijauan, melainkan ikhtiar jangka panjang menjadikan perguruan tinggi keagamaan sebagai percontohan nasional. Mimpi bahwa cinta lingkungan bisa tumbuh dari kelas tafsir, konservasi alam lahir dari kuliah syariah, dan belajar arsitektur sekaligus membangun kesadaran ekosistem sekitar.

Tak banyak lembaga pendidikan yang mendapat pesan kuat dari seorang menteri: jadilah percontohan ekoteologi nasional. Ini bukan sekadar amanat, tapi mandat. Hal ini menandai langkah penting sebuah kampus menuju panggung besar nasional dan global—bukan hanya sebagai pusat ilmu, tetapi sebagai pengusung misi peradaban.

Majma’al Bahroin: Di Antara Dua Samudra Ilmu

Sang menteri menyebut kampus ini sebagai majma’al bahroin, titik pertemuan dua samudra: Timur yang sarat hikmah dan Barat yang kaya metodologi. Seperti tertuang dalam Surah Al-Kahfi: “Majma’al bahroini yaltaqiyan”—dua lautan bertemu, saling menguatkan dan memperkaya.

Inilah tempat filsafat Ibnu Sina bersanding dengan logika Descartes. Di sini, tasawuf Al-Ghazali berdialog dengan teori sosial Weber. Mahasiswa diajak memahami teks sekaligus konteks. Agama tak menegasi ilmu, tapi melahirkannya. Kampus ini menjelma menjadi jembatan peradaban.

Pembangunan kawasan baru di lembah yang sejuk pun tak dipandang sebagai proyek biasa. Lokasi itu disebut sebagai buq’ah mubarokah, tempat yang diberkahi, seperti Thursina tempat Nabi Musa menerima wahyu. Jauh dari hiruk-pikuk, namun dekat dengan keheningan spiritual.

Desain kampus tidak hanya bicara estetika, melainkan teologi. Jalur pejalan kaki, tata letak ruang kelas, hingga taman-tamannya dirancang untuk menumbuhkan ilmu dan adab. Bahkan alam sekitar dilibatkan dalam pendidikan spiritual sebagai kurikulum tak tertulis.

Inilah mengapa pembangunan ini dimaknai sebagai amal jariyah peradaban. Bukan sekadar menghasilkan lulusan ber-IPK tinggi, tapi pribadi yang berkomitmen menjaga manusia dan semesta. Di sini, hablum minannas dan hablum minallah tak hanya diajarkan, tapi dihidupkan.

Ekoteologi: Menyatukan Iman dan Alam

Saat manusia mengalami kegersangan spiritual dan bumi menghadapi darurat ekologis, iman dan alam tak bisa lagi dipisahkan. Inilah makna mendalam dari paradigma yang kini diusung: agama berdampak baik pada alam semesta.

Gerakan nyata seperti penanaman pohon, konservasi air, dan rancangan arsitektur hijau bukan sekadar kegiatan simbolik. Menanam bukan soal estetika, tapi bentuk dzikir ekologis. Setiap pohon adalah doa yang tumbuh, setiap taman adalah ruang tafakur.

Rasulullah bersabda, “Jika kiamat datang sementara di tangan kalian ada benih pohon, tanamlah.” Menanam adalah bauh dari iman. Ia adalah kesaksian bahwa bumi ini adalah amanah yang harus dijaga dengan cinta.

Pohon yang ditanam bukan hanya penghias, melainkan teks yang bisa dibaca oleh hati yang jernih. Taman bukan hanya ruang rekreasi, melainkan ruang kontemplasi. Al-Qur’an menggambarkan surga dengan kebun, sungai, dan pepohonan rindang. Maka taman kampus ini menjadi cerminan dari surga yang ingin dihadirkan di bumi.

Ekoteologi juga berarti etika hidup sehari-hari: hemat energi, minim sampah, dan ramah pada lingkungan. Kampus menjadi laboratorium hidup tempat manusia belajar dari alam.

Mencintai bumi bukanlah pilihan opsional, melainkan kewajiban spiritual. Ketika ruang hijau ditata dengan penuh niat, dan ketika manusia bersahabat dengan ciptaan Tuhan, di situlah letak pendidikan sejati.

Apa yang sedang dicita-citakan bukanlah menara gading yang utopis, tetapi taman ilmu yang membumi. Bukan sekadar menghadirkan kampus modern, tapi oase spiritual yang mengajak manusia kembali pada fitrahnya. Di sinilah ilmu bertemu adab, teknologi bertemu spiritualitas, dan masa depan bersentuhan dengan kebijaksanaan masa lalu.