Konten dari Pengguna

Indeks Pembangunan Manusia Indonesia masih rendah!

Dr CSP Wekadigunawan

Dr CSP Wekadigunawan

National Board Member Indonesian Red Cross, Pengurus Pusat Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat IAKMI, Ketua Komite Etik Penelitian Kesehatan dan Ketua Senat Universitas Esa Unggul.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dr CSP Wekadigunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Siang yang cukup terik di Jakarta. Kami, sebagian Pengurus Pusat Palang Merah Indonesia memutuskan untuk makan siang di kantor dengan hasil masakan ibu Yani Motik, seorang perempuan yang sigap dan lugas di KADIN (Kantor Dagang dan Industri Indonesia). Mereka yang makan siang bersama saya hari ini Rabu, 30 Juli 2025, adalah orang-orang yang 'news worthy' (bernilai berita). Bagaimana tidak, mereka ternyata pernah berada di Pemerintahan baik Pusat maupun daerah. Rapiuddin Hamarung, pernah menjadi Bupati Pinrang tahun 1980an dan Gubernur Kalimantan Tengah 1999 - 2000, Abdurrahman Mohammad Fachir (A.M Fachir) seorang Diplomat yang pernah menjadi Duta Besar di Mesir, Arab Saudi dan jabatan yang pernah diembannya juga adalah Wakil Menteri Luar Negeri pada Kabinet Kerja Presiden Joko Widodo (2014 - 2019).

Makan siang kali ini yang paling mengemuka adalah tentang Indeks Pembangunan Manusia -IPM- (Human Development Index). Kebetulan pak Fachir baru saja pulang dari Probolinggo - Jawa Timur dan merasa prihatin bahwa kehadiran industri di sana, tidak otomatis mengangkat kualitas sumber daya manusianya, berdasarkan IPMnya.

CSP Wekadigunawan, Rapiuddin Hamarung, A.M Fachir dan Suryani Motik.
zoom-in-whitePerbesar
CSP Wekadigunawan, Rapiuddin Hamarung, A.M Fachir dan Suryani Motik.

Sejarah Indeks Pembangunan Manusia (IPM)

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) pertama kali diperkenalkan oleh United Nations Development Programme (UNDP) pada tahun 1990. IPM merupakan indikator komposit yang mengukur capaian pembangunan kualitas hidup manusia dari tiga dimensi utama: umur panjang dan hidup sehat, tingkat pendidikan, dan standar hidup layak. Konsep ini menandai perubahan paradigma pembangunan dari semata-mata pertumbuhan ekonomi menuju pembangunan manusia yang menempatkan kualitas hidup manusia sebagai tujuan utama pembangunan, bukan sekadar alat untuk mencapai pertumbuhan ekonomi.

UNDP mempublikasikan IPM secara berkala melalui laporan tahunan Human Development Report (HDR) sebagai alat evaluasi keberhasilan suatu negara dalam meningkatkan kualitas hidup penduduknya serta sebagai dasar perumusan kebijakan.

Ratifikasi dan Penerapan IPM di Indonesia

Indonesia mulai mengadopsi konsep IPM sebagai bagian dari indikator pembangunan nasional sejak tahun 1990 bersama UNDP. Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia secara rutin menghitung dan mempublikasikan data IPM nasional dan provinsi. Data ini digunakan sebagai ukuran keberhasilan pembangunan manusia dan menjadi referensi untuk perencanaan pembangunan, alokasi sumber daya, serta monitoring pemerataan kesejahteraan di seluruh wilayah Indonesia.

Penerapan IPM turut menjadi landasan bagi pelaksanaan program-program pemerintah, termasuk Program Indonesia Pintar yang fokus pada peningkatan pendidikan serta pengurangan angka putus sekolah.

Mengapa Indonesia Menggunakan IPM?

Indonesia memanfaatkan IPM karena indikator ini lebih komprehensif dibandingkan hanya mengandalkan Produk Domestik Bruto (PDB) atau pendapatan nasional. IPM menilai kualitas hidup yang mencakup akses dan capaian di bidang kesehatan, pendidikan, dan ekonomi masyarakat secara bersama-sama. Hal ini penting untuk menyesuaikan kebijakan pembangunan yang berorientasi pada peningkatan kesejahteraan manusia sekaligus mengurangi kesenjangan sosial dan wilayah.

Kondisi dan Peringkat IPM Indonesia Saat Ini

Berdasarkan data terbaru tahun 2022, IPM Indonesia mencapai nilai 0,713, yang menempatkan Indonesia dalam kategori pembangunan manusia tinggi. Posisi Indonesia berada di peringkat 112 dari 193 negara dan wilayah di dunia. Sejak 1990, nilai IPM Indonesia telah meningkat sekitar 35,6 persen, menunjukkan kemajuan signifikan dalam aspek kesehatan, pendidikan, dan standar hidup.

Namun, tantangan masih ada terutama terkait ketimpangan pembangunan antar provinsi, dimana wilayah seperti DKI Jakarta dan DI Yogyakarta membukukan IPM sangat tinggi (≥80), sedangkan provinsi Papua masih berada di tingkat sedang dengan nilai sekitar 61,39. Selain itu, kesenjangan gender dalam IPM masih signifikan, dengan nilai IPM laki-laki lebih tinggi dibanding perempuan di Indonesia.

Upaya Meningkatkan IPM di Tengah Situasi Ekonomi yang Semrawut

Kondisi ekonomi yang penuh ketidakpastian, terutama dampak pandemi COVID-19 dan fluktuasi ekonomi global, menimbulkan tantangan bagi pengembangan kualitas hidup masyarakat. Berikut beberapa strategi dan upaya yang dapat meningkatkan IPM Indonesia:

Pemenuhan Akses Kesehatan dan Pendidikan yang Merata

Pemerintah perlu memperkuat akses layanan kesehatan, khususnya imunisasi anak dan penurunan angka kematian ibu serta balita. Pendekatan khusus juga penting untuk daerah tertinggal dan terluar agar tidak tertinggal termasuk dalam sektor pendidikan melalui subsidi, beasiswa, dan program sekolah gratis.

Penguatan Program Pendidikan dan Pengurangan Angka Putus Sekolah

Program Indonesia Pintar dan berbagai bantuan pendidikan lainnya perlu diperluas dan dioptimalkan untuk meningkatkan lama sekolah rata-rata sekaligus menekan angka putus sekolah, terutama di daerah-daerah yang masih tinggi tingkat drop out siswa.

Pengurangan Kesenjangan Gender dan Sosial

Kebijakan perlu diarahkan untuk mengurangi disparitas gender dalam akses pendidikan dan kesehatan, serta memperkuat perlindungan sosial untuk kelompok rentan termasuk perempuan, anak-anak, dan masyarakat miskin.

Peningkatan Kesejahteraan Ekonomi secara Inklusif

Memperbaiki kestabilan ekonomi makro, memperluas kesempatan kerja, serta mendukung usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) dapat membantu meningkatkan pendapatan per kapita dan standar hidup masyarakat luas.

Pemberdayaan Daerah dan Pemerataan Pembangunan

Mengarahkan dana alokasi umum dan pembangunan infrastruktur yang merata untuk mengurangi kesenjangan antar daerah, sehingga seluruh wilayah dapat merasakan manfaat pembangunan.

Optimalisasi Teknologi dan Digitalisasi

Memanfaatkan teknologi digital untuk mengakses pendidikan, layanan kesehatan, dan informasi, terutama di daerah terpencil, dapat mempercepat peningkatan kualitas hidup penduduk.

Kesimpulan

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) adalah alat penting untuk mengukur keberhasilan pembangunan yang berorientasi pada kualitas hidup manusia. Indonesia sudah menunjukkan kemajuan yang signifikan dalam 30 tahun terakhir dalam meningkatkan IPM dengan nilai masuk kategori tinggi. Namun, tantangan kesenjangan dan dinamika ekonomi membuat upaya peningkatan IPM harus terus dilanjutkan dengan strategi multisektoral dan fokus pada pemerataan, akses sosial, dan penguatan ekonomi inklusif demi mencapai pembangunan manusia yang sejati dan berkelanjutan.

Referensi: Badan Pusat Statistik Indonesia, United Nations Development Programme (UNDP), Wikipedia Indeks Pembangunan Manusia Indonesia.

CSP Wekadigunawan, Rapiuddin Hamarung, A.M Fachir, Suryani Motik

Siapa bilang makan siang tak produktif? Sambil menikmati ikan kuah asam pedas dan ikan goreng yang 'crunchy' kami juga berbicara tentang situasi Indonesia dan berupaya mengambil langkah-langkah solusi bagi pemecahan masalah.

Dr. Cri Sajjana Prajna Wekadigunawan, MPH, Ph.D adalah Pengurus Pusat Palang Merah Indonesia (PMI) dan juga Pengurus Pusat Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI). Tulisan ini dibuat untuk memgingatkan kita semua tentang upaya-upaya nyata meningkatkan indeks kualitas sumber daya manusia.