Konten dari Pengguna

Stunting: Apa yang sudah kita lakukan?

Dr CSP Wekadigunawan

Dr CSP Wekadigunawan

National Board Member Indonesian Red Cross, Pengurus Pusat Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat IAKMI, Ketua Komite Etik Penelitian Kesehatan dan Ketua Senat Universitas Esa Unggul.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dr CSP Wekadigunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Stunting adalah suatu keadaan dimana tinggi badan anak, tidak sesuai dengan standar di usianya. Anak-anak yang menderita stunting lebih pendek daripada anak-anak lain yang seumur dengannya. Bukan kerdil, atau cebol yang bersifat genetik. Jika orangtua kerdil atau cebol akan diturunkan ke anak-anak mereka, kecuali mereka menikahi pasangan yang dominan bertubuh tinggi secara genetik. Tetapi, kasus Stunting, sebenarnya, dapat dicegah sejak dini.

Badan Kesehatan Dunia WHO menyatakan bahwa Indonesia mempunyai kasus stunting sebanyak 30,8% dari seluruh populasi anak di Indonesia. Itu artinya, setiap sepuluh anak, ada tiga anak yang menderita stunting. Jika, data itu benar, maka itu adalah data yang sungguh memprihatinkan. Tapi, tentu saja prihatin bukanlah perilaku untuk melakukan gerakan menangani stunting bukan?

Penanganan Stunting justru bukan (hanya) di ranah gizi!

Stunting disebabkan karena kekurangan gizi yang telah berlangsung bertahun sebelumnya (kronis). Itu sebabnya penanganan stunting bukan dengan memberi makanan tambahan setiap bulan di Posyandu, stunting bukan lagi tentang ibu-ibu yang menderita kurang energi kalori (KEK). Stunting tidak dapat disembuhkan. Kerusakan yang disebabkannya tidak dapat ditangani. Stunting mempengaruhi kerja otak, anak-anak yang menderita stunting tidak mampu mencerna pelajaran dengan baik. Yang bisa kita lakukan adalah menangani anak-anak stunting agar tidak jatuh ke kondisi yang lebih buruk dan mencegah kejadian stunting.

Mendeteksi sejak dini

Anak-anak yang menderita stunting dapat dideteksi di usia anak seawal dua tahun. Perhatikan keluarga terdekat anda, misalnya keponakan, atau anak-anak tetangga.

  • Mereka lebih pendek dari anak-anak seusianya

  • Berat badan kurang dari normal

  • Mudah sakit, kurang aktif dan cenderung mudah lelah

  • Sering batuk, demam dan flu

  • untuk kasus-kasus yang lebih lama mereka bahkan kerap terserang sesak nafas dan sering lemas.

Penyebab Stunting itu apa?

Ketahuilah bahwa penyebab stunting bukan semata-mata kurang makan! Kemiskinan, hidup di lingkungan sosial yang buruk, polusi udara, tidak mendapatkan ASI eksklusif di kala bayi, infeksi virus dan bakteri dapat menjadikan seorang anak menderita stunting. Itu sebabnya, dari awal saya katakan stunting bukan semata-mata tentang gizi! Kemudian para pemerintah daerah hanya menugaskan ahli gizi untuk menangani ini. Saya katakan, kalian akan gagal total jika kalian pikir ahli gizi adalah satu-satunya jalan pemecahan masalah dari masalah stunting ini.

Jika kalian melihat penyebab stunting yang saya kemukakan, maka saya harap, pemerintah daerah dan para pengambil keputusan lainnya, tidak melakukan simplifikasi dengan gerakan memberikan makanan tambahan yang lebih kerap kepada anak-anak yang menderita stunting.

Perhatikan hidup calon ibu

Keadaan calon ibu yang beresiko melahirkan anak-anak yang menderita stunting adalah:

  • hidup di lingkungan yang penuh sampah, dan polusi, juga asap kendaraan terutama motor-motor yang jutaan jumlahnya di ibukota, itu menyebabkan banyak calon ibu di Jakarta dan sekitarnya (Jabodetabek) yang rentan melahirkan anak-anak yang menderita stunting.

  • pernikahan diri, kurang dari 19 tahun dan lelaki kurang dari 20 tahun

  • tidak tersedia air bersih

  • stress dan tekanan batin yang berkepanjangan

  • saat hamil, calon ibu tidak mengalami peningkatan berat-badan yang seharusnya.

Nah, jika kita melihat keadaan calon ibu dan melakukan koreksi di awal, memperbaiki situasinya, maka stunting dapat dicegah! Siapa yang bisa melakukannya?

Jakarta, 4 Desember 2022