Konten dari Pengguna

Makna Lirik Lagu Gundul-gundul Pacul

Dukun Millenial

Dukun Millenial

INGAT!! Di dunia ini kita tidak pernah sendirian....

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dukun Millenial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Lirik lagu Gundul-gundul Pacul. Dok: pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Lirik lagu Gundul-gundul Pacul. Dok: pribadi

Lagu Gundul-gundul Pacul merupakan salah satu lagu anak-anak yang sangat akrab dengan telinga masyarakat Jawa. Susunan lirik yang sederhana dan ditambah dengan nada yang ceria tentunya semakin cocok dinyanyikan oleh anak-anak.

Namun di balik lirik sederhananya, rupanya ada makna yang sangat mendalam. Langsung saja kita simak makna dari lagu tersebut.

  • Gundul-gundul Pacul-cul, Gembelengan

Ilustrasi pria botak. Dok: pixabay

Lirik ini memiliki makna tentang pemimpin yang lupa bahwa dirinya sedang mengemban amanat dari masyarakat. Namun, pemimpin tersebut malah memanfaatkan kekuasaannya untuk membanggakan dirinya di hadapan orang lain. Ia merasa bahwa jabatannya diperoleh karena kepandaiannya.

  • Nyunggi-nyunggi Wakul-kul, Gembelengan

Bentuk bakul nasi. Dok: pexels

Nyunggi wakul memiliki arti membawa bakul atau tempat nasi di atas kepala seseorang. Makna dari lirik ini yaitu banyak pemimpin yang lupa bahwa dirinya sedang mengemban amanat yang diibaratkan dengan bakul nasi di kepalanya.

Wakul merupakan lambang kesejahteraan masyarakat. Kesejahteraan yang dimaksud adalah kekayaan, sumberdaya, dan lain sebagainya. Hal ini berarti bahwa kepala yang merupakan kehormatan masih berada di bawah bakul milik masyarakat.

Namun sayangnya, masih banyak pemimpin yang bersikap angkuh terhadap masyarakat yang dipimpinnya. Padahal, kedudukannya tidak lebih tinggi dari rakyatnya yang dipimpin.

  • Wakul Ngglimpang Segane Dadi Sak Latar

Ilustrasi kesenjangan. Dok: pixabay

Wakul ngglimpang memiliki arti jatuhnya bakul di atas kepala. Segane dadi sak latar memiliki arti nasi yang berada di dalam bakul tersebut jatuh dan berserakan. Hal ini bermakna bahwa, jika seorang pemimpin bersifat sombong dan semena-mena, maka sumber daya tidak akan terdistribusi dengan baik. Inilah yang menyebabkan terjadinya kesenjangan bagi masyarakat.

Kemudian, ibarat nasi yang telah berserakan dan tumpah di tanah tentunya tidak bisa dimakan lagi. Begitupun dengan amanat yang diemban pemimpin yang gembelengan, maka tidak akan bertahan lama dan akan gugur amanatnya.

Kesimpulan secara menyeluruh mengenai lagu ini yaitu tentang komitmen seseorang dalam pekerjaan. Tentunya amanat merupakan suatu hal yang harus dipertanggungjawabkan. Semoga kita dapat mengambil pelajaran dari lirik lagu ini.