Konten dari Pengguna

Kenapa Perusahaan Bisa Mengalami Break Even Point? Ini 3 Alasannya!

D

Dunia Karier

Artikel yang membahas info seputar karier.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dunia Karier tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

lKenapa Perusahaan Bisa Mengalami Break Even Point. Foto hanya ilustrasi, bukan tempat sebenarnya. Sumber: Pexels/Karolina Grabowska
zoom-in-whitePerbesar
lKenapa Perusahaan Bisa Mengalami Break Even Point. Foto hanya ilustrasi, bukan tempat sebenarnya. Sumber: Pexels/Karolina Grabowska

Mengalami Break Even Point (BEP) dalam dunia bisnis bukanlah hal yang aneh. Sebab, hampir semua perusahaan pernah mengalaminya. Kenapa perusahaan bisa mengalami Break Even Point?

Setiap bisnis memiliki satu tujuan, yaitu mendapatkan keuntungan. Namun, sebelum sampai ke tahap tersebut, perusahaan perlu melewati Break Even Point.

Kenapa Perusahaan Bisa Mengalami Break Even Point (BEP)? Ini Jawabannya!

lKenapa Perusahaan Bisa Mengalami Break Even Point. Foto hanya ilustrasi, bukan tempat sebenarnya. Sumber: Pexels/Karolina Grabowska

Para pebisnis pasti sudah tidak asing dengan BEP atau Break Even Point. Dikutip dari Buku Ajar Konsep Dasar Pembiayaan dan Penganggaran Kesehatan, Rahmiyati (2021:51), menurut Henry Simamora (2012), definisi BEP adalah volume penjualan di mana jumlah pendapatan dan jumlah bebannya sama, tidak ada laba maupun rugi bersih.

Lantas, kenapa perusahaan bisa mengalami Break Even Point? Ada beberapa alasan perusahaan mengalami hal tersebut. Adapun alasannya sebagai berikut.

1. Biaya Tetap dan Biaya Variabel Tinggi

Alasan perusahaan dapat mengalami BEP adalah karena barena biaya tetap dan biaya variabel masih tinggi. Karena hal tersebut, margin keuntungan tidak cukup untuk menutupi keseluruhan biaya tetap dan biaya variabel.

2. Volume Penjualan Tak Maksimal

BEP dapat terjadi karena penjualan yang belum maksimal. Sehingga penjualan tersebut belum bisa menghasilkan aba.

3. Perubahan Skala Usaha atau Periode Transisi

BEP juga dapat terjadi saat perusahaan melakukan ekspansi, pindah lokasi, maupun rebranding. Faktor tersebut dapat membuat perusahaan kembali ke titik BEP.

Cara Menghitung Break Even Point (BEP)

lKenapa Perusahaan Bisa Mengalami Break Even Point. Foto hanya ilustrasi, bukan tempat sebenarnya. Sumber: Pexels/Karolina Grabowska

Menghitung BEP memiliki manfaat, yaitu menghindari kerugian, menentukan harga jual, dasar perhitungan laba, dan lain sebagainya. Oleh sebab itu, penting untuk menghitung BEP.

Saat menghitung Break Even Point, ada dua hal yang perlu diperhatikan. Seperti BEP penjualan dan BEP Unit.

BEP Unit artinya adalah jumlah unit yang harus diproduksi untuk mendapatkan Break Even Point. Sementara BEP penjualan merupakan jumlah penjualan untuk mendapatkan Break Even Point. Berikut rumus perhitungannya.

BEP (unit) = FC : (P – VC)

BEP (penjualan) = FC : [1- (VC/P)]

Keterangan:

  • FC: Fixed cost atau biaya tetap

  • VC: Biaya variabel per unit

  • P: Harga jual per unit

Baca juga: Memahami 3 Komponen Biaya Overhead Pabrik dalam Industri Manufaktur

Kenapa perusahaan bisa mengalami Break Even Point? BEP dapat dialami oleh sebuah bisnis karena penjualan yang tidak maksimal, biaya tetap dan variabel tinggi, serta perubahan skala usaha atau periode transisi. (FAR)