Konten dari Pengguna

Fermentasi Ikan: Pengertian dan Contoh Produk Fermentasi Ikan

D

Dunia Perikanan

Membahas informasi seputar dunia perikanan, baik perikanan air asin maupun air tawar.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dunia Perikanan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi fermentasi ikan. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi fermentasi ikan. Foto: Unsplash

Fermentasi ikan merupakan salah satu teknik pengolahan yang telah lama dikenal masyarakat Indonesia. Metode ini memanfaatkan aktivitas mikroorganisme untuk mengolah ikan menjadi produk dengan cita rasa khas dan umur simpan yang lebih lama. Beragam produk hasil fermentasi ikan kini banyak digunakan sebagai pelengkap hidangan sehari-hari maupun sebagai bahan pangan tradisional.

Apa itu Fermentasi pada Ikan?

Fermentasi ikan adalah proses pengolahan yang melibatkan mikroorganisme untuk mengubah sifat kimia dan fisik ikan. Fermentasi ikan bisa dilakukan dengan menambahkan bakteri asam laktat pada kadar garam tertentu.

Menurut jurnal Fermentasi Ikan Kembung (Rastrelliger sp.) dalam Pembuatan Peda dengan Penambahan Bakteri Asam Laktat (BAL) yang Terkandung dalam Terasi Empang pada Berbagai Konsentrasi Garam karya Yuniati Fajri dkk., peda adalah salah satu produk fermentasi ikan. Proses fermentasi dalam pembuatan peda merupakan proses penguraian senyawa lemak dan protein kompleks menjadi senyawa yang lebih sederhana dengan bantuan enzim.

Definisi Fermentasi Ikan

Fermentasi ikan adalah proses alami di mana mikroorganisme, seperti bakteri, bekerja membentuk senyawa baru pada ikan. Proses ini menghasilkan produk dengan rasa asam, aroma khas, dan tekstur yang berbeda dari ikan segar.

Proses Fermentasi Ikan Secara Umum

Pada umumnya, fermentasi ikan dilakukan dengan menambahkan garam dan membiarkannya pada suhu tertentu selama beberapa hari hingga minggu. Selama proses ini, mikroorganisme tumbuh dan mengubah komposisi ikan, sehingga menghasilkan produk yang lebih awet dan lezat.

Manfaat Fermentasi pada Ikan

Hasil fermentasi ikan tidak hanya memperpanjang masa simpan, tetapi juga meningkatkan cita rasa dan kandungan nutrisi tertentu. Selain itu, produk fermentasi ikan kerap digunakan sebagai penambah rasa dalam masakan tradisional.

Contoh Produk Fermentasi Ikan

Setiap daerah di Indonesia memiliki produk fermentasi ikan khas yang menjadi bagian dari budaya kuliner setempat. Salah satu yang cukup populer adalah peda dari ikan kembung.

Peda dari Ikan Kembung

Peda merupakan produk fermentasi ikan kembung yang memiliki cita rasa asin dan gurih. Produk ini umum ditemukan di pasar tradisional dan sering dijadikan lauk.

Peran Bakteri Asam Laktat (BAL) dalam Fermentasi Peda

Pada proses pembuatan peda, bakteri asam laktat yang terkandung dalam terasi membantu mempercepat fermentasi dan menghasilkan rasa asam khas. Bakteri ini juga berperan dalam menjaga mutu dan keamanan produk.

Pengaruh Konsentrasi Garam pada Proses Fermentasi

Konsentrasi garam yang digunakan selama fermentasi sangat memengaruhi tekstur, rasa, dan keamanan pangan produk akhir. Penggunaan garam dalam kadar yang tepat dapat menghambat pertumbuhan bakteri pembusuk dan memperpanjang masa simpan peda.

Berdasarkan jurnal Pengaruh Konsentrasi Garam pada Fermentasi Ikan Wader (Rasbora lateristriata) karya Nurul Ahillah dkk., produk olahan ikan wader yang dihasilkan dari proses fermentasi memiliki rasa dan aroma khas. Pembentukan rasa dan aroma khas tersebut, salah satunya dipengaruhi oleh penambahan konsentrasi garam.

Kesimpulan

Fermentasi ikan menjadi salah satu cara tradisional dalam mengolah hasil laut agar lebih tahan lama dan lezat. Prosesnya melibatkan mikroorganisme, seperti bakteri asam laktat yang berperan penting dalam pembentukan rasa dan keamanan produk.

Salah satu contoh yang dikenal luas adalah peda, yang proses fermentasinya sangat dipengaruhi oleh bakteri dan kadar garam. Melalui teknik ini, ikan tidak hanya menjadi lebih awet, tetapi juga menghadirkan keunikan rasa yang khas pada kuliner Nusantara.

(Reviewed by Melynda Dwi Puspita, S.Pi)