Apa Itu Getah? Jenis-Jenis Getah, Ciri, dan Contohnya
Artikel yang membahas seputar ilmu pertanian.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Dunia Tani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Getah kerap ditemukan pada batang, kulit, atau daun tanaman, baik pada tumbuhan pangan, hortikultura, maupun perkebunan. Senyawa ini merupakan salah satu komoditi yang tergolong sebagai Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) yang memiliki potensi ekonomi sangat tinggi bagi Indonesia. Senyawa ini punya peran penting, mulai dari melindungi tanaman hingga dimanfaatkan manusia untuk berbagai keperluan industri dan keseharian. Agar lebih memahami, berikut pembahasan tentang apa itu getah, jenis-jenisnya, hingga contoh penggunaannya.
Pengertian Getah
Definisi Getah
Getah adalah bahan bersifat cair dan kental yang keluar dari jaringan tanaman seperti batang, kulit, atau daun yang mengalami luka atau gangguan. Menurut Harlinda Kuspradini dkk. dalam buku Pengenalan Jenis Getah: Gum-Lateks-Resin, istilah getah merupakan terminologi umum yang merepresentasikan kelompok besar produk eksudat tumbuhan, yang secara ilmiah dibedakan menjadi tiga kelompok utama: hidrokoloid (gum), lateks, dan resin. Secara teknis, getah adalah eksudat alami yang muncul saat terjadi luka pada tumbuhan. Cairan ini bisa memiliki komposisi kimia yang bervariasi tergantung jenis spesiesnya.
Fungsi Getah pada Tanaman
Fungsi utama getah bagi tanaman adalah sebagai mekanisme pertahanan diri. Getah berfungsi menutup luka untuk mencegah serangan penyakit atau patogen yang masuk, serta berperan sebagai pelindung alami dari gangguan luar.
Ciri Umum Getah
Getah memiliki karakteristik yang khas, yaitu teksturnya yang lengket (adhesive). Secara visual, warna getah sangat beragam tergantung jenis pohonnya; misalnya, getah nangka berwarna putih kecoklatan, getah maja berwarna oranye, dan getah mangga berwarna kuning kecoklatan. Sifat fisik lainnya adalah kecenderungan untuk mengeras (solidifikasi) apabila terpapar udara terbuka.
Jenis-Jenis Getah
Berdasarkan sifat kimia dan fisiknya, getah diklasifikasikan menjadi tiga jenis utama:
1. Getah Gum (Hidrokoloid)
Gum adalah bahan yang bersifat hidrofilik (mudah bergabung dengan air) dan merupakan polimer kompleks dari polisakarida berbobot molekul besar. Gum biasanya terbentuk sebagai respon terhadap luka dan berfungsi menutup jaringan yang rusak. Contoh komersial yang terkenal adalah Gum Arabic yang dihasilkan dari pohon Akasia (Acacia senegal).
2. Getah Lateks
Lateks adalah emulsi kompleks yang biasanya berwarna putih seperti susu dan mengandung berbagai senyawa seperti protein, alkaloid, dan karbohidrat. Berbeda dengan gum, lateks tidak larut dalam air. Dalam buku Pengenalan Jenis Getah, dijelaskan bahwa lateks terdapat dalam tabung khusus yang disebut laticifer. Contoh utamanya adalah lateks dari pohon karet (Hevea braziliensies) yang bersifat elastis, serta jenis non-elastis seperti Getah Perca atau Getah Sundi.
3. Getah Resin
Resin merupakan campuran senyawa terpenoid dan fenolik yang tidak larut dalam air. Resin dapat bersifat mudah menguap (volatile) maupun tidak. Merujuk pada Pengenalan Jenis Getah, resin sering ditemukan pada saluran khusus di kayu dan kulit kayu, berfungsi melindungi tanaman dari serangan serangga dan menutup luka besar. Contoh resin yang populer di Indonesia adalah Damar, Kopal, dan Gondorukem (dari pinus).
Manfaat dan Penggunaan Getah
Getah memiliki nilai ekonomi yang luas di berbagai sektor:
Industri Manufaktur: lateks digunakan sebagai bahan baku utama ban, sarung tangan medis, dan alat bedah.
Bahan Perekat: Berbagai jenis getah seperti getah kudo, nangka, dan mangga memiliki potensi kuat sebagai bahan perekat alami dalam industri pengolahan kayu dan kertas. Hal ini didukung oleh penelitian Felix Laba Gole dkk. dalam jurnal Quagga: Jurnal Pendidikan dan Biologi berjudul Karakteristik Getah Tumbuhan Berpotensi Sebagai Bahan Perekat Asal Desa Duawutun Kabupaten Lembata yang menguji daya rekat berbagai getah tumbuhan asal Desa Duawutun.
Industri Farmasi & Kimia: gum digunakan sebagai bahan pengikat (binder) dan pengemulsi dalam pembuatan obat-obatan. Resin seperti gondorukem dan terpentin digunakan dalam industri cat, tinta, dan pelapis
Pemanfaatan oleh Masyarakat Lokal (Etnobotani)
Merujuk penelitian Rana Rio Andhika dkk. dalam Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia (JIPI) yang berjudul Etnobotani Penghasil Getah oleh Suku Anak Dalam di Taman Nasional Bukit Duabelas Kabupaten Sarolangun, Jambi, menjelaskan jika masyarakat Suku Anak Dalam (SAD) di Jambi, memanfaatkan getah tumbuhan secara tradisional untuk berbagai keperluan, antara lain bahan pengobatan alami dan ritual adat, bahan bakar lampu dan alat berburu, dan bahan pewarna alami dan bahan perekat tradisional.
Kesimpulan
Getah merupakan komoditas Hasil Hutan Bukan Kayu yang sangat berharga dengan keragaman jenis meliputi gum, lateks, dan resin, di mana masing-masing memiliki karakteristik fisik dan kimia yang unik. Pemahaman mendalam mengenai klasifikasi dan daya rekat getah menjadi kunci dalam mengoptimalkan nilai tambah tanaman, mendukung pelestarian budaya lokal seperti pada Suku Anak Dalam, sekaligus membuka peluang inovasi luas di berbagai sektor industri global.
Reviewed by Satriyo Restu Adhi
Baca juga: Panduan Lengkap Budi Daya Buah Lokal dari Kebun hingga Pasar