Ciri Serangan dan Pengendalian Walang Sangit pada Padi
Artikel yang membahas seputar ilmu pertanian.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Dunia Tani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Walang sangit merupakan salah satu hama utama yang sering menyerang tanaman padi, khususnya di lahan pertanian pangan seperti sawah. Serangga ini dapat menyebabkan kerusakan signifikan jika tidak dikendalikan secara tepat, bahkan dapat menyebabkan kehilangan hasil mencapai 50%. Oleh karena itu, pemahaman mengenai ciri serangan serta strategi pengendalian sangat penting bagi petani padi.
Mengenal Walang Sangit: Hama Penting pada Tanaman Padi
Walang sangit dikenal sebagai hama potensial yang aktif menyerang tanaman padi pada masa kritis pertumbuhan. Serangga ini merugikan karena mengisap butiran gabah pada fase pembungaan hingga bulir padi tidak menghasilkan. Keberadaan walang sangit sering ditemukan di pertanaman padi yang sedang dalam tahap pengisian bulir.
Ciri-Ciri Serangan Walang Sangit pada Padi
Tanda Fisik Serangan di Tanaman
Serangan walang sangit ditandai dengan bulir padi yang tampak hampa atau berwarna cokelat kehitaman. Serangga ini mengisap butiran gabah hingga isinya habis, yang sering kali disertai dengan keluarnya bau tidak sedap khas walang sangit.
Dampak Serangan terhadap Hasil Panen
Kerugian akibat hama ini dapat menurunkan kualitas gabah serta kuantitas hasil produksi secara nyata. Sebagai gambaran, serangan satu ekor walang sangit per malai dalam satu minggu dapat menurunkan hasil sebesar 27%.
Waktu dan Pola Serangan Walang Sangit
Hama ini menyerang secara intensif pada fase pembungaan hingga pengisian bulir padi. Petani perlu waspada karena populasi sebanyak 5 ekor per 9 rumpun saja sudah mampu menurunkan hasil hingga 15%.
Strategi Pengendalian Walang Sangit yang Efektif
Pengendalian Secara Mekanis dan Fisik
Strategi yang efektif adalah penggunaan perangkap atraktan bau busuk (bangkai), seperti bangkai ikan dan keong. Menurut Ruth Kristivoni Buida dkk. dalam jurnal Cocos Vol.7 No. 7 berjudul Pengendalian Hama Walang Sangit (Leptocorisa acuta Thunb.) dengan Menggunakan Perangkap Bangkai Ikan dan Keong pada Tanaman Padi, menunjukkan bahwa perangkap bangkai ikan lebih efektif menarik walang sangit (rata-rata 64,9 ekor) dibandingkan bangkai keong (38,7 ekor). Selain itu, teknik pitfall trap (perangkap jatuh) menggunakan gelas plastik juga dapat digunakan untuk memerangkap serangga di permukaan tanah.
Pengendalian Biologis dan Nabati
Sebagai alternatif insektisida kimia yang berdampak negatif pada lingkungan, petani dapat menggunakan pestisida nabati. Sri Ita Tarigan dalam jurnal MITRA: Jurnal Pemberdayaan Masyarakat yang berjudul Edukasi Pengenalan dan Cara Pengendalian Hama Walang Sangit (Leptocorisa acuta F.) pada Tanaman Padi di Desa Palakahembi, Kabupaten Sumba Timur, menjelaskan penggunaan ekstrak akar tuba yang mengandung senyawa rotenone terbukti dapat menurunkan tingkat serangan walang sangit hingga 80% dan meningkatkan produktivitas padi secara signifikan.
Edukasi dan Pemberdayaan Petani
Workshop dan pendampingan praktik pembuatan pestisida nabati serta perangkap sangat membantu petani mengendalikan hama secara mandiri dan ramah lingkungan.
Tips Pencegahan Serangan Walang Sangit
Sanitasi dan Pengelolaan Lingkungan
Membersihkan gulma dan tanaman inang di sekitar sawah sangat penting karena walang sangit sering bersembunyi di rumput-rumputan sebelum menyerang padi.
Pengaturan Pola Tanam untuk Memutus Siklus Hama
Meskipun tidak disebutkan secara rinci dalam dokumen, pengaturan waktu tanam yang serempak dalam satu wilayah merupakan langkah preventif umum untuk membatasi ketersediaan pakan bagi walang sangit secara terus-menerus.
Kesimpulan
Ciri serangan walang sangit mudah dikenali melalui gejala fisik pada bulir dan penurunan produktivitas yang nyata. Strategi terpadu yang mengombinasikan penggunaan perangkap alami (bangkai), pestisida nabati, dan edukasi bagi petani merupakan kunci utama dalam menekan populasi hama ini tanpa merusak ekosistem.
Reviewed by Satriyo Restu Adhi
Baca Juga: Hama Penyakit Tanaman: Jenis, Gejala, dan Pengendalian