Konten dari Pengguna

Gejala dan Pengendalian Penyakit Busuk Akar pada Tanaman Tebu

D

Dunia Tani

Artikel yang membahas seputar ilmu pertanian.

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dunia Tani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi penyakit busuk akar tanaman tebu. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi penyakit busuk akar tanaman tebu. Foto: Pixabay

Penyakit busuk akar merupakan salah satu kendala utama dalam budi daya tanaman tebu yang dapat menghambat pertumbuhan dan menurunkan hasil panen secara signifikan. Memahami gejala spesifik dan strategi pengendalian sangat penting bagi petani untuk menjaga produktivitas lahan, terutama karena penyakit ini tergolong relatif baru di perkebunan tebu Indonesia.

Pengantar Penyakit Busuk Akar

Penyakit busuk akar dan pangkal batang tebu disebabkan oleh infeksi jamur Xylaria sp.. Berdasarkan publikasi Tri Maryono dkk. dalam Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol 13 No 2 berjudul Penyakit Busuk Akar dan Pangkal Batang Tebu di Sumatera Selatan, penyakit ini awalnya ditemukan di Lampung pada tahun 1993 dan kini telah berkembang di wilayah Sumatera Selatan. Jamur ini merupakan patogen tular tanah yang distribusinya di lapangan cenderung mengelompok atau agregat.

Gejala Penyakit Busuk Akar pada Tebu

Tanaman yang terinfeksi menunjukkan perubahan fisik yang mencolok pada bagian tajuk maupun perakaran.

Ciri Umum Tanaman Terinfeksi

  • Kerusakan Daun: Daun tanaman menguning dan mengering mulai dari ujung daun hingga akhirnya seluruh daun mengering.

  • Kematian Rumpun: Pada serangan berat, seluruh rumpun tanaman akan mengering, mati, dan menjadi sangat mudah dicabut karena akar-akarnya mati.

  • Busuk Kering: Akar tanaman tampak membusuk (busuk kering) dan berwarna hitam.

  • Garis Hitam: Jika pangkal batang dibelah membujur, terdapat jaringan berwarna cokelat muda dengan garis-garis hitam yang merupakan ciri khas serangan Xylaria.

  • Tanda Stroma: Ditemukan struktur jamur (stroma) berwarna hitam yang tumbuh pada pangkal batang atau keluar dari tanah di sekitar tanaman sakit.

Dampak terhadap Pertumbuhan dan Produksi

Penyakit ini menurunkan bobot batang dan rendemen gula secara nyata. Dampak yang paling merugikan adalah kegagalan tumbuh pada tanaman keprasan (ratoon cane) karena tanaman induknya telah mati. Di wilayah Lampung, tingkat keparahan penyakit sebesar 26% dilaporkan dapat menyebabkan penurunan hasil hingga 15%.

Pengendalian Penyakit Busuk Akar

Strategi pengendalian difokuskan pada pemutusan siklus hidup jamur dan perlindungan tanaman ratoon.

Cara Pencegahan dan Monitoring

Petani disarankan rutin memantau keberadaan stroma di permukaan tanah atau pangkal batang sebagai indikator keberadaan jamur. Selain itu, karena pola sebaran penyakit yang mengelompok, pemantauan intensif pada titik-titik ratoon yang tidak tumbuh harus dilakukan untuk memastikan penyebabnya.

Metode Pengendalian Terpadu

Kerugian pada tanaman ratoon jauh lebih tinggi dibandingkan tanaman bibit (plant cane), dan akan terus meningkat pada generasi ratoon berikutnya. Jika pada tanaman ratoon pertama ditemukan tingkat serangan yang tinggi, disarankan untuk segera melakukan penanaman ulang (replanting) guna menghindari kerugian yang lebih luas di masa depan.

Kesimpulan

Penyakit busuk akar Xylaria sp. adalah ancaman serius yang dapat mematikan tanaman dan menggagalkan pertumbuhan ratoon. Pengenalan gejala berupa pengeringan daun dan tanda penyakit berupa stroma hitam merupakan indikator kuat untuk diagnosis di lapangan. Pengendalian yang tepat melalui evaluasi siklus tanam ratoon sangat diperlukan untuk meminimalisir dampak ekonomi di perkebunan tebu.

Reviewed by Satriyo Restu Adhi

Baca Juga: Hama Penyakit Tanaman: Jenis, Gejala, dan Pengendalian