Gejala dan Pengendalian Penyakit Busuk Buah pada Tanaman Kakao
Artikel yang membahas seputar ilmu pertanian.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Dunia Tani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Penyakit busuk buah merupakan salah satu ancaman utama pada tanaman perkebunan, khususnya kakao (Theobroma cacao L). Masalah ini sering kali menjadi penyebab utama penurunan produksi dan kualitas buah. Memahami ciri-ciri serta strategi pengendalian sangat penting agar petani bisa menjaga hasil panen tetap optimal, mengingat Indonesia merupakan penghasil kakao terbesar ketiga di dunia.
Mengenal Penyakit Busuk Buah pada Kakao
Menurut Christoffol Leiwakabessy dkk. dalam Jurnal Pertanian Kepulauan Vol. 4 No. 1 berjudul Kejadian Penyakit Busuk Buah Kakao (Phytophthora palmivora var. palmivora) di Desa Karlutu, Kecamatan Seram Utara Barat, Kabupaten Maluku Tengah, penyakit busuk buah hampir menginfeksi seluruh area pertanaman kakao di Indonesia. Penyakit ini sangat dipengaruhi oleh kondisi iklim, terutama pada daerah dengan periode kelembaban relatif tinggi yang berkepanjangan.
Apa Itu Penyakit Busuk Buah?
Penyakit busuk buah adalah infeksi pada buah kakao yang disebabkan oleh mikroorganisme patogen yang menyerang setiap bagian tanaman pada tahap perkembangan yang berbeda. Serangan ini menyebabkan buah membusuk, berubah warna, dan dapat mengakibatkan kerugian ekonomi yang signifikan.
Penyebab Utama Penyakit Busuk Buah
Penyebab utama penyakit busuk buah adalah cendawan Phytophthora palmivora var. palmivora. Patogen ini memiliki kisaran inang yang luas dan berkembang sangat pesat saat kelembaban udara mencapai sekitar 87,1% dengan suhu rata-rata 25,3 derajat Celcius. Infeksi hanya dapat terjadi apabila terdapat air pada permukaan buah, baik dari air hujan maupun pengembunan.
Gejala Penyakit Busuk Buah pada Kakao
Gejala penyakit busuk buah pada kakao bisa diamati sejak awal infeksi hingga tahap kerusakan berat. Masing-masing tahap ditandai oleh perubahan fisik pada buah yang khas.
Tanda Awal pada Buah Kakao
Tahap awal biasanya terlihat dari munculnya bercak-bercak hitam atau cokelat kehitaman pada kulit luar buah. Gejala ini sering kali dimulai dari bagian dekat tangkai buah (proksimal) atau ujung buah (distal), dan terkadang di bagian tengah buah (lateral).
Perkembangan Gejala Lanjutan
Jika tidak segera ditangani, bercak-bercak hitam tersebut akan meluas hingga menutupi semua bagian kulit buah. Pada permukaan kulit buah yang sakit akan muncul tanda penyakit berupa lapisan tepung berwarna putih yang menunjukkan kerusakan berat. Patogen ini juga menghasilkan enzim seperti pektinase dan selulase yang dapat memecah dinding sel buah.
Dampak pada Produksi Kakao
Serangan penyakit ini mampu menurunkan produksi biji kakao secara signifikan, bahkan hingga 30%. Di Desa Karlutu, tercatat rata-rata kejadian penyakit tertinggi mencapai 54%, yang berdampak langsung pada rendahnya produktivitas kebun rakyat.
Pengendalian Penyakit Busuk Buah pada Kakao
Upaya pengendalian terdiri dari kombinasi berbagai tindakan terpadu untuk mengurangi ketergantungan pada bahan kimia.
Pengendalian Secara Budi Daya
Strategi budidaya meliputi sanitasi kebun, seperti memetik buah yang sakit dan memendamnya ke dalam tanah sedalam minimal 30 cm. Pemangkasan tanaman dan pohon pelindung juga sangat penting untuk memperbaiki sirkulasi udara sehingga kelembaban di sekitar tanaman menurun.
Pengendalian Secara Kimiawi dan Hayati
Pengendalian secara kimiawi dapat menggunakan fungisida, namun pemanfaatan agens hayati seperti Trichoderma harzianum dan mikroba endofit sangat dianjurkan sebagai alternatif yang ramah lingkungan.
Pencegahan Penyebaran
Pencegahan dapat dilakukan dengan pengaturan jarak tanam yang ideal (misalnya 2 x 4 m) dan peremajaan tanaman yang sudah tua (di atas 25-30 tahun) dengan bibit bebas penyakit untuk meningkatkan ketahanan tanaman. Selain itu, pembersihan gulma secara rutin diperlukan untuk mencegah peningkatan kelembaban yang mendukung perkembangan patogen.
Kesimpulan
Penyakit busuk buah pada kakao di Desa Karlutu menunjukkan tingkat kerusakan yang sedang sampai berat. Pengetahuan petani yang masih kurang mengenai manajemen penyakit menjadi salah satu kendala utama. Oleh karena itu, diperlukan penguatan pengetahuan melalui pelatihan budidaya optimal dan penerapan strategi pengendalian terpadu yang berkelanjutan.
Reviewed by Satriyo Restu Adhi
Baca Juga: Hama Penyakit Tanaman: Jenis, Gejala, dan Pengendalian