Gejala Serangan dan Pengendalian Hama Belalang Kayu pada Tanaman
Artikel yang membahas seputar ilmu pertanian.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Dunia Tani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Belalang sering menjadi ancaman nyata bagi berbagai kelompok tanaman, mulai dari pangan hingga perkebunan. Di Indonesia, serangan Valanga nigricornis tercatat pernah menyerang perkebunan kelapa sawit di Aceh dan Kalimantan Selatan dengan luas serangan mencapai 10 hingga 32 hektar. Hama ini mampu merusak pertumbuhan serta hasil panen jika tidak dikendalikan dengan tepat. Mengenali gejala serangan dan strategi pengendalian menjadi langkah penting agar petani dapat menjaga produktivitas lahan secara optimal.
Pengenalan Hama Belalang
Karakteristik Valanga nigricornis
Valanga nigricornis atau belalang kayu merupakan salah satu hama perusak daun yang umum menyerang pembibitan kelapa sawit. Menurut Vira Irma Sari dkk. dalam Jurnal Pengelolaan Perkebunan Vol. 3 No. 2 berjudul Pengendalian hama belalang (Valanga nigricornis) dengan bioinsektisida batang Brotowali (Tinospora crispa), hama ini merusak dengan cara memakan bagian tepi daun hingga menyebabkan kerusakan ringan sampai berat.
Siklus Hidup dan Perkembangbiakan
Siklus hidupnya dimulai dari telur, berkembang menjadi nimfa, hingga menjadi dewasa. Keberadaan belalang ini di area pembibitan dapat mengganggu morfologi bibit sehingga tidak memenuhi standar siap pindah tanam.
Gejala Serangan Hama Belalang
Tanda-tanda Awal Serangan
Gejala serangan ditandai dengan daun yang berlubang, mengkerut bekas gigitan, hingga daun yang menguning dan layu. Kecepatan makan belalang sangat besar, sehingga mereka mampu menghabiskan daun beserta tulang-tulangnya dalam waktu singkat.
Dampak Serangan pada Tanaman
Penurunan Kualitas dan Kuantitas Panen: Serangan pada fase pembibitan sangat fatal karena mengganggu proses metabolisme tanaman.
Kerusakan Fisik: Kerusakan pada daun mengurangi kemampuan fotosintesis tanaman secara drastis.
Pengendalian Hama Belalang
Metode Pengendalian Secara Alami
Pengendalian umumnya menggunakan insektisida kimia, namun hal ini berdampak negatif seperti polusi lingkungan, gangguan kesehatan, hingga menyebabkan hama menjadi resisten.
Penggunaan Bioinsektisida Batang Brotowali
Brotowali (Tinospora crispa) menjadi alternatif karena mengandung senyawa alelokimia seperti flavonoid (0,148%) dan tanin (0,097%).
Cara Kerja: Senyawa flavonoid dan tanin bersifat toksik bagi serangga. Flavonoid bekerja sebagai racun kontak yang mengganggu sistem saraf di mulut, menghambat enzim protease dan amilase, serta merusak protoplasma sehingga menyebabkan gangguan metabolisme.
Dosis dan Aplikasi: Berdasarkan penelitian Vira Irma Sari dkk., aplikasi dilakukan dengan penyemprotan ekstrak ke tubuh belalang dengan dosis 10 ml per ekor. Konsentrasi terbaik untuk mempercepat waktu kematian adalah 82,5% yang mampu mematikan belalang dalam rata-rata waktu 2,36 jam.
Keunggulan Bioinsektisida Brotowali
Efektivitas: Meskipun waktu kematian lebih lama dibanding insektisida kimia (1,28 jam), bioinsektisida ini sangat efektif sebagai pengendali alternatif. Belalang yang terpapar akan menunjukkan perubahan fisik: tubuh lemas, pucat, warna kulit berubah menjadi coklat kehitaman, lumpuh, hingga akhirnya mati.
Ramah Lingkungan: Residu bioinsektisida ini mudah terurai (biodegradable) sehingga tidak menurunkan kualitas tanah atau membahayakan organisme non-target.
Kesimpulan
Pemanfaatan ekstrak batang Brotowali terbukti dapat dijadikan bahan alternatif bioinsektisida untuk mengendalikan hama belalang Valanga nigricornis di pembibitan kelapa sawit. Dengan kandungan flavonoid dan tanin yang tinggi, penggunaan produk nabati ini mendukung pertanian berkelanjutan dan memastikan keamanan lingkungan jangka panjang.
Reviewed by Satriyo Restu Adhi
Baca Juga: Hama Penyakit Tanaman: Jenis, Gejala, dan Pengendalian