Mengenal Morfologi dan Budi Daya Bunga Turi yang Optimal
Artikel yang membahas seputar ilmu pertanian.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Dunia Tani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Turi dikenal sebagai salah satu tanaman hortikultura yang banyak dimanfaatkan di Indonesia. Pemanfaatannya cukup luas, mulai dari bahan pangan, pakan ternak, hingga penghijauan lingkungan. Untuk mengenal lebih jauh tentang morfologi dan budi daya turi, artikel ini akan membahas ciri-ciri hingga langkah perawatan yang tepat.
Morfologi Daun dan Bunga Turi
Daun turi memiliki karakteristik unik berbentuk lonjong kecil yang tersusun rapi secara majemuk di sisi kiri dan kanan tangkai. Batangnya tergolong kayu ringan, sedangkan bunganya besar, mencolok, dan umumnya berwarna putih atau merah muda. Buah turi muncul dalam bentuk polong yang memanjang. Menariknya, tanaman ini merupakan jenis leguminosa yang adaptif, mampu tumbuh baik dari dataran rendah hingga tinggi pada berbagai jenis tanah.
Perbedaan Morfologi Turi dengan Tanaman Lain
Berbeda dengan jenis kacang-kacangan lain, bunga turi memiliki ukuran yang lebih besar dan visual yang lebih menarik. Kerapatan daunnya dalam satu tangkai memberikan tampilan yang lebih rimbun dibandingkan tanaman leguminosa sejenis. Selain itu, tinggi tanaman turi dapat mencapai 8–10 meter dan mulai berbunga pada umur sekitar 7 bulan.
Panduan Budi Daya Turi
Budi daya turi tergolong sederhana dan fleksibel untuk dilakukan di berbagai lahan. Pemahaman mendalam mengenai syarat tumbuh dan teknik penanaman menjadi kunci utama untuk meningkatkan produktivitas hasil panen.
Syarat Tumbuh dan Persiapan Lahan
Turi tumbuh optimal di tanah dengan sistem drainase yang baik dan terpapar sinar matahari penuh. Sebelum memulai penanaman, lahan harus dibersihkan dari gulma yang dapat menurunkan kapasitas daya tampung lahan. Persiapan media tanam juga dapat dilakukan menggunakan polybag untuk memudahkan kontrol pertumbuhan.
Teknik Penanaman dan Pemeliharaan
Penanaman dapat dimulai dari biji yang direndam air hangat selama satu malam untuk merangsang perkecambahan. Pemeliharaan rutin mencakup penyiraman dua kali sehari serta pemupukan yang tepat. Penggunaan pupuk organik seperti pupuk bokashi feses sapi sumba ongole dan daun Chromolaena odorata terbukti sangat efektif. Berdasarkan penelitian Pulu & Sudarma (2022) dalam jurnal "Performans Pertumbuhan Tanaman Turi Pupuk Bokashi Feses Sapi Sumba Ongole dan Daun Chromolaena odorata dengan Level Berbeda", pemberian dosis 1000 gram/polybag memberikan hasil terbaik pada tinggi tanaman (57,80 cm), diameter batang (25,08 mm), dan jumlah daun (176,60 helai) pada umur 5 minggu.
Potensi Hasil dan Pemanfaatan
Turi dapat dipanen secara berkala, baik bagian daun maupun bunganya. Selain dikonsumsi manusia, turi adalah pakan hijauan berkualitas tinggi yang dapat meningkatkan produktivitas ternak ruminansia. Dengan pemeliharaan dan pemangkasan yang baik, tanaman ini dapat bertahan hidup selama 3–4 tahun.
Kesimpulan
Morfologi yang khas dan teknik budi daya yang mudah menjadikan turi sebagai strategi agribisnis yang menjanjikan bagi pemula. Kunci sukses pertumbuhan awal yang subur terletak pada penggunaan pupuk organik bokashi yang kaya akan unsur hara seperti nitrogen (N), fosfor (P), dan kalium (K). Disarankan bagi pembudidaya untuk memanfaatkan limbah feses ternak yang diolah menjadi bokashi guna memperbaiki struktur tanah sekaligus menekan penggunaan pupuk kimia.
Reviewed by Satriyo Restu Adhi
Baca juga: Budi Daya Sayuran Lokal: Pilar Ketahanan Pangan dan Agroekologi