Konten dari Pengguna

Nematoda Sista: Ciri Serangan dan Cara Pengendalian Terpadu

D

Dunia Tani

Artikel yang membahas seputar ilmu pertanian.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dunia Tani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi nemaoda sista. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi nemaoda sista. Foto: Pixabay

Nematoda Sista Kentang (NSK) merupakan salah satu hama utama yang mengancam ketahanan pangan, mengingat kentang adalah sumber karbohidrat kaya protein dan penunjang diversifikasi pangan. Serangan hama ini sangat merugikan petani hortikultura karena dapat menurunkan produksi secara drastis, dari normalnya 25 ton/ha menjadi hanya 5–10 ton/ha (kehilangan hasil hingga 75–80%). Memahami ciri serangan dan strategi pengendalian terpadu sangat penting agar budidaya kentang tetap optimal dan berkelanjutan.

Apa Itu Nematoda Sista?

Nematoda sista adalah cacing mikroskopis yang hidup di dalam tanah dan menyerang akar tanaman keluarga Solanaceae, seperti kentang, tomat, dan terung. Terdapat dua spesies utama, yaitu Nematoda Sista Emas (Globodera rostochiensis) dan Nematoda Sista Putih (Globodera pallida). Menurut A. Widjaja W. Hadisoeganda dalam buku Nematoda Sista Kentang: Kerugian, Deteksi, Biogeografi, dan Pengendalian Nematoda Terpadu, hama ini sangat sulit diberantas karena telurnya dapat bertahan hidup dalam bentuk sista di dalam tanah selama lebih dari 10 hingga 30 tahun meskipun tidak ada tanaman inang.

Ciri-ciri Serangan Nematoda Sista pada Tanaman Kentang

Berdasarkan publikasi Strategi Pengendalian Terpadu Nematoda Sista Kentang (Globodera rostochiensis) pada Tanaman Kentang karya Hendry Puguh Susetyo, gejala awal sering tidak terlihat hingga populasi mencapai tingkat tertentu. Tanaman yang terserang menunjukkan gejala:Pertumbuhan terhambat (kerdil) dan tanaman cenderung mudah layu.Daun menguning (klorosis) dengan warna kuning yang sangat cerah.Perakaran memendek, terkesan kotor, dan jika risosfera digali, akan terlihat sista berukuran 400–800 mikron menyerupai "gurem" atau butiran kecil berwarna putih, kuning emas, hingga cokelat tembaga yang menempel pada akar.

Strategi Pengendalian Nematoda Sista secara Terpadu

Strategi pengendalian terpadu bertujuan menurunkan populasi nematoda di lahan dan memutus siklus hidupnya yang berkisar antara 38–48 hari.

Pengendalian Budidaya

Rotasi tanaman dengan jenis non-inang seperti jagung, kacang-kacangan, atau kubis sangat efektif karena inang NSK terbatas pada keluarga Solanaceae. Selain itu, sanitasi lahan yang ketat, penggunaan benih bebas sista, serta pelarangan pemindahan tanah atau alat pertanian dari daerah terserang ke daerah sehat sangat krusial untuk mencegah penyebaran pasif.

Pengendalian Kimia

Penggunaan nematisida selektif merupakan pilihan terakhir dan hanya dianjurkan jika populasi nematoda sudah melampaui ambang ekonomi. Aplikasi harus dilakukan secara bijaksana sesuai dosis rekomendasi untuk meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan.

Pengendalian Hayati

Pemanfaatan agen hayati seperti jamur dan bakteri pemangsa nematoda dapat membantu menekan populasi secara alami. Agen hayati ini bekerja dengan menginfeksi telur atau larva nematoda di dalam tanah tanpa meninggalkan residu kimia berbahaya.

Penggunaan Varietas Tahan

Penggunaan varietas kentang yang memiliki gen tahan (seperti gen dari S. andigena atau S. vernei) dapat menghambat perkembangan larva nematoda menjadi betina. Namun, efektivitasnya sangat bergantung pada kesesuaian antara varietas dengan ras/patotipe NSK yang ada di lahan tersebut.

Kesimpulan

Nematoda Sista Kentang adalah ancaman serius yang dapat menyebabkan kerugian ekonomi hingga triliunan rupiah secara nasional jika tidak ditangani dengan serius. Keberhasilan pengendalian bergantung pada deteksi dini melalui pengamatan gejala lapangan dan laboratorium, serta penerapan manajemen terpadu yang mengombinasikan praktik budidaya, agen hayati, dan penggunaan varietas tahan secara konsisten.

Reviewed by Satriyo Restu Adhi

Baca Juga: Hama Penyakit Tanaman: Jenis, Gejala, dan Pengendalian