Panduan Budi Daya Gambas atau Oyong: Tips Sukses Panen Melimpah
Artikel yang membahas seputar ilmu pertanian.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Dunia Tani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambas, yang juga dikenal sebagai oyong, merupakan salah satu jenis sayuran dari kelompok tanaman hortikultura semusim yang berasal dari India namun telah beradaptasi baik di Indonesia. Tanaman ini cukup digemari karena mudah dibudidayakan serta memiliki nilai gizi yang baik untuk konsumsi sehari-hari. Pembahasan berikut mengulas morfologi gambas dan strategi budi daya yang efektif agar hasil panen lebih maksimal.
Mengenal Tanaman Gambas (Luffa acutangula)
Sebagai tanaman hortikultura, gambas memiliki ciri khas yang cukup mudah dikenali. Menurut Gawati Harita dalam skripsinya yang berjudul Respon Pertumbuhan Dan Produksi Tanaman Gambas (Luffa acutangula L.) Dengan Pemberian Pupuk Organik Cair Dan Kompos Kulit Bawang Merah, gambas sering dibudidayakan sebagai sayuran konsumsi segar karena struktur buah dan kandungan gizinya yang bermanfaat.
Ciri-Ciri Morfologi Gambas
Tanaman ini merupakan tanaman merambat dengan alat pemegang berbentuk pilin serta memiliki batang yang kuat, bersegi, dan permukaannya berambut halus. Daunnya besar dan berlekuk, sementara buahnya memanjang beralur dengan warna hijau tua saat muda. Jika buah sudah terlalu tua, rasanya akan menjadi sangat pahit, keras, serta menghasilkan spons dan biji yang tidak dapat dikonsumsi.
Manfaat Tanaman Gambas
Selain diolah menjadi hidangan, gambas mengandung vitamin, mineral seperti kalium dan fosfor, serta serat alami yang tinggi. Secara tradisional, tanaman ini juga digunakan untuk membantu pengobatan berbagai penyakit seperti diabetes, asma, hingga memperlancar peredaran darah.
Teknik Budi Daya Gambas
Budi daya gambas memerlukan langkah yang sesuai agar tanaman tumbuh optimal. Menurut Rahmatun Nisful Maghfiroh dan Prayoga Suryadarma dalam Jurnal Pusat Inovasi Masyarakat Vol. 2 No. 2 berjudul Budi Daya Tanaman Oyong (Luffa acutangula L.) dan Terung (Solanum melongena L.) Berbasis Tumpangsari sebagai Upaya Peningkatan Produksi di Desa Neglasari, pemilihan sistem tanam sangat menentukan efektivitas penggunaan lahan.
Syarat Tumbuh Optimal untuk Gambas
Tanaman ini memiliki kelebihan dapat dibudidayakan di dataran rendah maupun tinggi. Pertumbuhannya membutuhkan paparan sinar matahari yang optimal dan media rambatan berupa ajir atau lanjaran karena sifatnya yang memanjat.
Persiapan Lahan dan Penanaman
Lahan diolah dengan membuat plot setinggi ±30 cm untuk menjaga drainase. Penanaman dilakukan dengan memasukkan 2 benih per lubang tanam sedalam 5 cm, dengan jarak tanam ideal sekitar 40 cm x 50 cm.
Pemupukan Organik pada Gambas
Pemberian bahan organik seperti Pupuk Organik Cair (POC) limbah industri tempe dan kompos kulit bawang merah terbukti meningkatkan pertumbuhan vegetatif. Aplikasi kompos dilakukan seminggu sebelum tanam, sementara POC diberikan secara rutin melalui penyemprotan sejak tanaman berumur satu minggu.
Pola Tumpangsari pada Budi Daya Gambas
Penerapan sistem tumpangsari, misalnya antara gambas dan terung, dinilai lebih efektif dibandingkan monokultur. Pola tanam tumpangsari mampu meningkatkan efisiensi penggunaan lahan serta menjadi upaya strategis dalam peningkatan produksi sayuran di tingkat desa.
Perawatan dan Pengendalian Hama
Perawatan meliputi penyiraman rutin pagi dan sore, penyulaman hingga umur 2 minggu setelah tanam, serta pemasangan lanjaran setinggi 1,5 meter. Pengendalian hama, khususnya lalat buah, dilakukan dengan penyemprotan insektisida dan fungisida pada masa berbunga hingga panen.
Hasil Produksi dan Panen Gambas
Keberhasilan budi daya ditandai dengan tercapainya rata-rata produksi 15-20 buah per tanaman atau sekitar 8-12 ton per hektar.
Indikator Tanaman Gambas Siap Panen
Ciri buah siap panen adalah ukuran sudah maksimal, kulit berwarna kehijauan, tidak terlalu tua, dan belum berserat sehingga mudah dipatahkan. Pemanenan biasanya dilakukan di pagi hari setiap 3 hari sekali.
Respons Pertumbuhan dan Produksi Gambas
Kombinasi pupuk organik cair dan kompos kulit bawang merah berpengaruh nyata terhadap panjang tanaman dan bobot buah per tanaman sampel. Hal ini menunjukkan bahwa asupan nutrisi organik yang tepat secara signifikan mendukung produktivitas tanaman.
Kesimpulan
Gambas merupakan komoditas hortikultura potensial dengan nilai ekonomi dan gizi yang tinggi. Melalui penerapan teknik budi daya yang efisien, seperti penggunaan pupuk organik dari limbah industri tempe dan penerapan sistem tumpangsari, produktivitas lahan dan mutu hasil panen dapat ditingkatkan secara optimal.
Reviewed by Satriyo Restu Adhi
Baca juga: Panduan Lengkap Budi Daya Buah Lokal dari Kebun hingga Pasar