Penggerek Buah dan Cabang Kopi: Gejala Serangan dan Cara Pengendaliannya
Artikel yang membahas seputar ilmu pertanian.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Dunia Tani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tanaman kopi merupakan salah satu komoditas perkebunan potensial di Indonesia, namun produktivitasnya sering terhambat oleh serangan hama penggerek. Dua hama utama yang paling merusak adalah Penggerek Buah Kopi (PBKo) dan Penggerek Cabang Kopi. Memahami biologi dan strategi pengendalian yang tepat sangat krusial untuk menjaga hasil panen tetap optimal.
Apa Itu Penggerek Buah Kopi?
Hama penggerek pada tanaman kopi terdiri dari dua jenis utama: Hypothenemus hampei yang menyerang buah, serta Xylosandrus compactus yang menyerang cabang dan ranting. Menurut Gusti Indriati dkk. jurnal SIRINOV Vol. 4 No. 1 berjudul Penggerek Buah dan Cabang Pada Tanaman Kopi, kedua serangga ini sulit dikendalikan karena perilakunya yang hidup dan berkembang biak di dalam jaringan tanaman kopi.
Karakteristik Penggerek Buah Kopi
Hypothenemus hampei (PBKo)
Serangga betina berukuran kecil (1,4–1,8 mm) berwarna hitam dan memiliki sayap lengkap untuk terbang mencari inang. Mereka menyerang dengan membuat lubang gerekan berdiameter sekitar 1 mm pada bagian diskus (ujung buah) kopi.
Xylosandrus compactus (Penggerek Cabang)
Dikenal sebagai kumbang ambrosia yang menyerang permukaan bawah cabang atau ranting. Hama ini membawa cendawan ambrosia (Fusarium solani) yang menjadi sumber makanan larvanya namun bersifat patogen bagi tanaman.
Siklus Hidup Penggerek Buah Kopi
Hama PBKo mengalami metamorfosis sempurna yang berlangsung di dalam buah kopi. Siklus hidup total dari telur hingga dewasa berkisar antara 24 hingga 49 hari, sangat bergantung pada kondisi suhu dan ketinggian tempat.Tahapan Perkembangan HamaSetelah telur menetas, larva akan segera menggerek bagian keping biji (endosperma) kopi yang sudah mengeras. Stadium larva berlangsung selama 10–21 hari, diikuti masa pupa selama 4–10 hari sebelum menjadi imago (serangga dewasa).
Tahapan Perkembangan Hama
Setelah telur menetas, larva akan segera menggerek bagian keping biji (endosperma) kopi yang sudah mengeras. Stadium larva berlangsung selama 10–21 hari, diikuti masa pupa selama 4–10 hari sebelum menjadi imago (serangga dewasa).
Dampak Serangan Penggerek pada Tanaman
Serangan hama penggerek tidak hanya merusak fisik tanaman tetapi juga menurunkan nilai jual biji kopi secara signifikan.
Gejala Serangan pada Buah dan Cabang
Pada Buah: muncul lubang gerekan di ujung buah. Buah muda yang terserang akan berhenti berkembang, berubah warna menjadi kuning kemerahan, dan akhirnya gugur prematur.
Pada Cabang: terjadi lubang gerekan yang menyebabkan transportasi nutrisi terganggu. Akibatnya, ujung ranting layu, daun menguning, lalu seluruh ranting menghitam dan mati.
Kerugian Ekonomi Akibat Serangan
Serangan H. hampei dapat menyebabkan kerusakan biji kopi mencapai 25,2% hingga 32%. Dalam kondisi serangan berat, kehilangan hasil panen bahkan bisa mencapai kisaran 30% hingga 80%. Sementara itu, X. compactus dilaporkan menyebabkan kerusakan hingga 25% di wilayah Lampung Barat.
Pengendalian Penggerek Kopi Terpadu (PHT)
Strategi pengendalian yang efektif diarahkan melalui sistem PHT yang memadukan berbagai komponen manajemen lingkungan.
Pengendalian Secara Mekanis dan Budidaya (Kultur Teknis)
Sanitasi (Lelesan dan Rampasan): Mengumpulkan buah yang jatuh di tanah (lelesan) serta memetik habis seluruh buah yang tersisa di pohon setelah panen (rampasan) untuk memutus siklus hidup hama.
Pangkas Cabang: Untuk penggerek cabang, bagian yang terserang harus segera dipotong dan dimusnahkan dengan cara dibakar.
Pemupukan Organik: Penggunaan pupuk organik lebih disarankan karena pemberian nitrogen (NPK) dosis tinggi dapat membuat jaringan tanaman lebih sukulen dan rentan terhadap serangan PBKo.
Pengendalian Secara Hayati
Pemanfaatan musuh alami sangat potensial dalam menekan populasi hama secara berkelanjutan.
Parasitoid: penggunaan Cephalonomia stephanoderis (parasitoid larva/pupa) dan Phymastichus coffea (parasitoid imago) merupakan agen hayati yang efektif.
Entomopatogen: jamur Beauveria bassiana dapat digunakan untuk menginfeksi dan membunuh hama di lapangan.Pengendalian Secara Kimiawi
Penggunaan insektisida kimia (seperti bahan aktif endosulfan) tidak direkomendasikan secara rutin dan hanya merupakan pilihan terakhir karena dapat membunuh musuh alami dan meninggalkan residu berbahaya.
Tips Pencegahan Serangan
Monitoring Rutin: memeriksa keberadaan lubang gerekan sejak 8 minggu setelah pembungaan, saat biji mulai mengeras.
Pengaturan Penaungan: menjaga tingkat naungan sekitar 30%. Penaungan yang terlalu rapat (gelap) dapat meningkatkan infestasi hama hingga 5 kali lipat karena kelembaban yang tinggi mendukung perkembangan hama.
Kesimpulan
Penggerek buah dan cabang merupakan ancaman serius yang dapat menurunkan hasil panen kopi hingga 80%. Melalui pendekatan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) yang menitikberatkan pada sanitasi kebun (lelesan/rampasan), pemanfaatan agen hayati seperti Beauveria bassiana, serta pengaturan naungan yang tepat, petani dapat meminimalisir kerugian ekonomi dan menjaga kualitas biji kopi tetap tinggi.
Reviewed by Satriyo Restu Adhi
Baca Juga: Hama Penyakit Tanaman: Jenis, Gejala, dan Pengendalian