Penyakit Rebah Semai: Gejala dan Cara Pengendaliannya
Artikel yang membahas seputar ilmu pertanian.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Dunia Tani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Penyakit rebah semai menjadi salah satu kendala utama dalam budi daya tanaman hortikultura, seperti bayam cabut dan sayuran daun lainnya. Masalah ini banyak ditemukan pada fase awal pertumbuhan tanaman, terutama di lahan persemaian yang lembap. Pemahaman mendalam mengenai gejala dan pengendalian penyakit ini sangat bermanfaat agar kerugian bisa diminimalisir.
Mengenal Penyakit Rebah Semai
Penyakit rebah semai adalah gangguan yang menyerang tanaman muda, biasanya pada persemaian atau saat baru dipindahkan ke lahan. Serangan ini sering dijumpai pada kelompok tanaman hortikultura seperti bayam, tomat, cabai, dan terung. Kondisi lingkungan yang lembap serta keberadaan struktur tahan jamur dalam tanah menjadi pemicu utama berkembangnya penyakit ini.
Apa Itu Penyakit Rebah Semai?
Penyakit ini, yang dikenal luas dengan istilah damping off, terjadi ketika benih atau bibit tanaman layu dan tumbang sebelum tumbuh kuat. Penyakit ini umumnya menyerang tanaman muda berumur 5–10 hari. Penyebab utamanya adalah jamur patogen tular tanah seperti Pythium aphanidermatum, Rhizoctonia solani, dan Sclerotium rolfsii.
Faktor Penyebab Terjadinya Rebah Semai
Kelembapan tanah yang tinggi merupakan faktor kunci yang mempercepat penyebaran patogen ini. Jamur penyebabnya termasuk patogen lemah yang menginfeksi jaringan lunak, namun dapat membentuk struktur tahan seperti sklerotia untuk bertahan dalam kondisi kering dan aktif kembali saat kelembapan mencukupi.
Gejala Penyakit Rebah Semai pada Tanaman
Ciri-ciri awal rebah semai kerap sulit dikenali, namun penting untuk memperhatikan perubahan fisik pada bibit. Gejala ini sering muncul secara berkelompok, menciptakan ruang kosong di lahan persemaian karena tanaman mati dengan cepat.
Ciri-Ciri Awal yang Muncul
Gejala awal ditandai dengan munculnya bercak berwarna cokelat pada pangkal batang atau leher akar. Infeksi ini menyebabkan pangkal batang membusuk sehingga tanaman tidak mampu lagi menopang bagian atasnya dan akhirnya rebah.
Dampak Rebah Semai pada Bayam Cabut
Serangan ini mengakibatkan bibit mati secara masal dalam waktu singkat karena patogen menular dengan cepat ke tanaman di sekitarnya. Hal ini secara langsung mengurangi populasi tanaman dan menurunkan produktivitas lahan secara signifikan.
Gejala Khas
Merujuk Heriyanto pada Jurnal Ilmu-ilmu Pertanian Vol. 24 No. 1 berjudul Pengendalian Penyakit Rebah Semai dengan Trichoderma dan Rhizobakteri pada Bayam Vabut, periode inkubasi penyakit ini dihitung sejak benih ditanam hingga gejala klinis muncul. Patogen penyebabnya memiliki miselium tebal dan sporangium yang mampu bertahan lama di dalam tanah.
Cara Pengendalian Penyakit Rebah Semai
Strategi pengendalian penyakit rebah semai menekankan pada penggunaan agen hayati sebagai alternatif fungisida sintetik seperti propineb yang berisiko meninggalkan residu dan menyebabkan resistensi patogen.
Penggunaan Agens Hayati Trichoderma
Trichoderma sp. merupakan jamur yang bersifat antagonis terhadap patogen melalui mekanisme kompetisi, parasitisme (mikoparasit), antibiosis, dan lisis. Jamur ini mampu menghasilkan senyawa kimia seperti asam harzianic dan viridin yang menghambat pertumbuhan patogen.
Peran Rhizobakteri
Rhizobakteri atau Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) berfungsi sebagai bioprotektan dengan menghasilkan senyawa antibiotik dan siderofor yang beracun bagi patogen. Selain itu, rhizobakteri seperti genus Pseudomonas dan Bacillus membantu pertumbuhan tanaman dengan memproduksi hormon pertumbuhan seperti IAA dan meningkatkan penyerapan hara.
Praktik Budidaya dan Sanitasi yang Disarankan
Pengaturan drainase untuk menghindari tanah yang terlalu lembap sangat krusial. Selain itu, aplikasi agen hayati disarankan dilakukan dengan cara penyiraman ke tanah satu hari sebelum benih ditanam untuk memberikan perlindungan awal pada zona perakaran.
Kombinasi Strategi Pengendalian
Campuran Trichoderma sp. dan Rhizobakteri memberikan hasil yang sangat efektif. Aplikasi campuran dengan konsentrasi 10 ml per liter air per meter persegi terbukti mampu menekan intensitas serangan secara signifikan dan memberikan perlindungan sinergis pada permukaan akar.
Kesimpulan
Penyakit rebah semai merupakan ancaman utama pada tanaman hortikultura, terutama di fase awal pertumbuhan. Gejala khas seperti pembusukan pangkal batang dan bercak cokelat harus diwaspadai agar tidak menyebar luas di lahan. Strategi pengendalian berbasis agen hayati, khususnya kombinasi Trichoderma sp. dan rhizobakteri, terbukti efektif sebagai alternatif penggunaan pestisida kimia. Pemantauan rutin pada periode inkubasi serta aplikasi agen hayati yang tepat waktu akan memastikan pertumbuhan tanaman bayam cabut yang lebih sehat dan kokoh.
Reviewed by Satriyo Restu Adhi
Baca Juga: Hama Penyakit Tanaman: Jenis, Gejala, dan Pengendalian