Konten dari Pengguna

Strategi Pengendalian Penyakit Busuk Lunak pada Tanaman Hortikultura

D

Dunia Tani

Artikel yang membahas seputar ilmu pertanian.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dunia Tani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi penyakit busuk lunak. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi penyakit busuk lunak. Foto: Pixabay

Penyakit busuk lunak sering menjadi momok bagi petani tanaman pangan, hortikultura, hingga perkebunan. Penyakit ini tidak hanya menurunkan hasil panen, tetapi juga bisa memicu kerugian besar jika tidak ditangani dengan tepat. Tingkat kerusakan akibat penyakit ini bisa mencapai 15% hingga 100% pada kondisi lingkungan yang mendukung. Untuk mencegah kerusakan lebih lanjut, penting mengenali gejala serta strategi pengendaliannya secara menyeluruh.

Mengenal Penyakit Busuk Lunak

Menurut Cokorda Javandira dalam skripsinya berjudul Pengendalian Penyakit Busuk Lunak pada Tanaman Kentang (Eriwinia carotovora) dengan Memanfaatkan Agens Hayati Bacillus subtillis dan Pseudomonas fluorescens, busuk lunak merupakan penyakit yang menyerang jaringan tanaman sehingga menjadi basah, lembek, dan mudah hancur. Kondisi ini dapat ditemukan pada banyak tanaman budi daya, terutama yang tumbuh di lingkungan lembap.

Definisi Penyakit Busuk Lunak

Busuk lunak adalah infeksi yang menyebabkan jaringan tanaman berubah tekstur menjadi lunak dan akhirnya membusuk. Gejala umumnya muncul pada bagian umbi, batang, atau buah tanaman. Infeksi ini dapat terjadi baik di lahan pertanian maupun selama masa penyimpanan di gudang.

Penyebab Utama Busuk Lunak pada Tanaman

Penyakit ini disebabkan oleh bakteri patogen, umumnya dari genus Erwinia, khususnya spesies Erwinia carotovora. Bakteri ini memiliki kisaran inang yang luas dan bersifat tular tanah (soil borne), sehingga keberadaannya di lahan sulit untuk dihilangkan sepenuhnya.

Kondisi Lingkungan yang Memicu Penyakit

Lingkungan dengan kelembapan tinggi serta drainase lahan yang buruk memicu perkembangan bakteri. Selain itu, luka pada jaringan tanaman akibat alat pertanian, serangan hama, atau penanganan pascapanen yang kurang hati-hati meningkatkan risiko infeksi karena bakteri masuk melalui luka tersebut.

Gejala Penyakit Busuk Lunak

Gejala penyakit busuk lunak biasanya tampak jelas pada permukaan tanaman yang terinfeksi. Jika tidak diantisipasi sejak dini, penyakit ini bisa menyebar dengan cepat dan menurunkan kualitas hasil panen secara drastis.

Tanda Awal yang Muncul pada Tanaman

Tanda awal biasanya berupa bercak kecil yang basah (water-soaked) dan lunak. Bagian tanaman yang terkena akan mengeluarkan aroma atau bau busuk yang menyengat akibat aktivitas enzim pengurai dari bakteri.

Tahapan Perkembangan Gejala

Seiring waktu, area yang terinfeksi meluas dan seluruh jaringan tanaman menjadi hancur. Pada tanaman kentang, bakteri ini mampu menghancurkan bagian empulur batang hingga menyebabkan tanaman layu dan roboh.

Perubahan Warna dan Tekstur

Warna jaringan yang terinfeksi berubah menjadi kecokelatan hingga kehitaman. Teksturnya berubah menjadi massa yang sangat lunak, berlendir, dan mudah hancur saat disentuh karena dinding sel tanaman telah didegradasi oleh enzim pektolitik bakteri.

Penyebaran pada Bagian Tanaman Lain

Penyebaran bisa terjadi ke bagian lain melalui kontak langsung antar jaringan, percikan air hujan, atau alat pertanian yang tidak steril. Tanaman yang tumbuh terlalu rapat lebih rentan terinfeksi karena kelembapan udara di sekitar tanaman menjadi sangat tinggi.

Pengendalian Penyakit Busuk Lunak

Strategi pengendalian penyakit busuk lunak mencakup berbagai metode, mulai dari pencegahan hingga penanganan langsung di lapangan menggunakan teknologi hayati.

Prinsip Dasar Pengendalian

Prinsip utama pengendalian adalah menekan populasi inokulum (sumber bakteri) dan memodifikasi lingkungan agar tidak mendukung pertumbuhan bakteri Erwinia carotovora.

Metode Pengendalian Secara Kultur Teknis

Beberapa metode kultur teknis yang efektif antara lain memperbaiki sistem drainase lahan, mengatur jarak tanam agar sirkulasi udara lancar, dan menghindari pelukaan pada umbi saat pemanenan.

Rotasi Tanaman dan Sanitasi Lahan

Melakukan rotasi dengan tanaman yang bukan merupakan inang bakteri serta membersihkan sisa-sama tanaman yang sakit dari lahan dapat menekan penyebaran penyakit secara signifikan.

Penggunaan Varietas Tahan Penyakit

Memilih varietas tanaman yang lebih tahan merupakan langkah preventif yang ideal. Namun, penelitian menunjukkan bahwa varietas kentang populer seperti Granola dan Atlantic masih sangat rentan terhadap serangan busuk lunak.

Pengendalian Kimia dan Biologis

Penggunaan bahan kimia terkadang diperlukan dalam kondisi darurat, namun aplikasi agen hayati kini lebih disarankan karena lebih berkelanjutan.

Efektivitas Bahan Kimia

Aplikasi bakterisida seperti streptomisin sulfat dapat membantu menekan infeksi, tetapi penggunaannya harus dilakukan secara bijak agar tidak menimbulkan resistensi pada bakteri patogen.

Alternatif Pengendalian Ramah Lingkungan

Pemanfaatan bakteri antagonis seperti Bacillus subtilis dan Pseudomonas fluorescens terbukti efektif. Bacillus subtilis mampu menghasilkan antibiotik dan bersaing dalam ruang tumbuh sehingga dapat menghambat pertumbuhan bakteri penyebab busuk lunak.

Kesimpulan

Penyakit busuk lunak merupakan ancaman serius bagi berbagai jenis tanaman hortikultura. Mengenali gejala sejak awal dan menerapkan strategi pengendalian yang tepat sangat penting untuk mencegah kerugian panen yang besar. Langkah pencegahan seperti rotasi tanaman dan sanitasi lahan tetap menjadi prioritas. Selain itu, penggunaan agens hayati seperti Bacillus subtilis dapat menjadi solusi efektif dan ramah lingkungan untuk mengatasi serangan Erwinia carotovora.

Reviewed by Satriyo Restu Adhi

Baca Juga: Hama Penyakit Tanaman: Jenis, Gejala, dan Pengendalian