Waspada Penyakit Antraknosa Cabai: Mengenal Gejala dan Cara Ampuh Mengendalikan
Artikel yang membahas seputar ilmu pertanian.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Dunia Tani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Penyakit antraknosa merupakan masalah utama yang ditakuti petani cabai karena dapat menyebabkan kehilangan hasil yang sangat besar hingga kegagalan panen. Serangan ini menjadi faktor pembatas produktivitas yang signifikan di sentra produksi tanaman cabai.
Pengertian Penyakit Antraknosa
Penyakit antraknosa disebabkan oleh jamur dari kelompok Ascomycota, khususnya spesies Colletotrichum capsici. Jamur ini memiliki hifa bersepta atau memili sekat dan membentuk aservulus pada permukaan tanaman yang sakit. Penyakit antraknosa juga sering disebut sebagai penyakit patek.
Gejala Penyakit Antraknosa pada Tanaman Cabai
Ciri-ciri Serangan Awal
Gejala awal berupa munculnya bercak cokelat kehitaman pada permukaan buah yang kemudian berkembang menjadi busuk lunak. Pada bagian tengah bercak, terdapat kumpulan titik hitam yang merupakan kelompok seta dan konidium.
Perkembangan Gejala pada Buah dan Daun
Pada buah, terdapat tanda bercak melingkar cekung berwarna cokelat pada pusatnya dan cokelat muda di sekelilingnya. Jamur ini juga menyerang ranting, cabang, dan daun. Infeksi pada buah tua menyebabkan busuk dan kering, sedangkan buah muda cenderung lebih cepat gugur.
Intensitas Serangan di Lapangan
Berdasarkan studi kasus di Amurang Barat dari penelitian Yultje Sondakh dkk. dalam publikasi berjudul Intensitas Serangan Penyakit Antraknosa pada Pertanaman Cabai di Kecamatan Amurang Barat, Minahasa Selatan, rata-rata persentase serangan mencapai 51.5%. Tingkat serangan tertinggi ditemukan di desa Kapitu sebesar 58%, diikuti desa Teep 56%, dan terendah di desa Teep Trans sebesar 40.5%.
Pengendalian Penyakit Antraknosa
Metode Pengendalian Secara Mekanis dan Kultur Teknis
Penegndalian mekanis dan kultur teknis dapat diawalai dengan kegiatan sanitasi lahan yaitu membersihkan sisa tanaman sakit karena jamur dapat bertahan di sana. Selain itu, pengaturan jarak tanam juga dapat dilakukan untuk mengurangi penyebaran spora yang terbawa angin atau menjaga iklim mikro di sekitar tanaman. Kemudian pengaturan drainase pada lahan yang baik diperlukan untuk menghambat perkembangan penyakit.
Pengendalian dengan Pestisida
Pengendalian secara kimiawi dapat dilakukan menggunakan fungisida sesuai dosis pada kemasan, dan diaplikasikan secara bijaksana. Jenis yang direkomendasikan meliputi fungisida sistemik berbahan aktif benomil, metil tiofanat, karbendazim, difenokonazol, atau tebukonazol.
Rekomendasi Praktis Bagi Petani
Petani perlu mewaspadai kondisi lembap dengan suhu sekitar 30° C karena mampu mendukung perkembangan penyakit dan mempercepat infeksi. Pengamatan rutin di lapangan sangat diperlukan, terutama pada buah yang sudah jatuh ke tanah agar segera dibersihkan atau dieradikasi guna memutus siklus spora jamur.
Kesimpulan
Penyakit antraknosa yang disebabkan Colletotrichum capsici memiliki intensitas serangan yang tinggi. Pengendalian yang efektif melibatkan kombinasi sanitasi sisa tanaman, pengaturan jarak tanam, dan penggunaan fungisida yang tepat untuk meminimalkan kerugian ekonomi petani.
Reviewed by Satriyo Restu Adhi
Baca Juga: Hama Penyakit Tanaman: Jenis, Gejala, dan Pengendalian