Siswa Indonesia dan AI: Alat Belajar atau Jalan Pintas Mengerjakan Tugas?
Tulisan dari Dwi Ardiansyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejak ChatGPT dirilis ke publik pada akhir 2022, AI generatif menjadi alat yang bisa diakses siapa saja, termasuk siswa. Cukup dengan ponsel dan koneksi internet, siswa kini bisa meminta AI menjelaskan materi, merangkum bacaan, bahkan mengerjakan soal. Pemanfaatan AI di kalangan siswa memunculkan pro dan kontra. Sebagian pihak melihat AI memberikan dampak positif sebab dapat menjadi tutor pribadi yang membantu siswa memahami materi lebih dalam. Sementara itu, beberapa pihak yang lain khawatir AI mengikis daya kritis siswa karena membuat malas berpikir. Namun, diskursus tentang fenomena itu tidak dapat hanya berhenti bertanya apakah AI baik atau buruk, melainkan apakah siswa yang memakai AI benar-benar belajar, atau hanya menyelesaikan tugas lebih cepat.
Bagaimana siswa Indonesia memakai AI?
AI generatif dapat membantu siswa mengolah informasi, memahami materi, dan menyusun jawaban. Laporan PISA 2025 Results (Volume I): Future-Ready Students dari OECD mengidentifikasi beberapa bentuk penggunaan AI untuk pembelajaran. Secara umum, ada empat tujuan yang menonjol:
Pertama, membantu proses belajar secara umum. Siswa menggunakan AI sebagai pendamping proses belajar, misalnya meminta penjelasan ulang saat menemukan konsep yang sulit dipahami.
Kedua, merangkum tugas teks. AI membantu siswa mendapatkan gagasan pokok dan informasi utama dari bahan-bahan bacaan yang diberikan.
Ketiga, melakukan riset awal tentang topik baru. Siswa menggunakan AI untuk memperoleh gambaran awal mengenai topik yang belum dipelajari, seperti konsep utama, penjelasan dasar, dan aspek yang perlu ditelusuri lebih lanjut.
Keempat, menyusun draf tulisan. AI digunakan untuk membantu membuat kerangka awal, mengembangkan gagasan, hingga merumuskan paragraf awal.
Menariknya, penggunaan AI untuk keempat tujuan tersebut di kalangan siswa Indonesia berada di atas rata-rata OECD.
Penggunaan AI untuk pembelajaran di Indonesia tergolong tinggi dibandingkan rata-rata OECD. Sebanyak 53% siswa di Indonesia melaporkan menggunakan AI untuk membantu proses belajar secara umum setidaknya sekali seminggu. Sementara itu, 39% siswa menggunakan AI untuk merangkum atau menyederhanakan bacaan dalam tugas sekolah.
Angka tersebut masing-masing lebih tinggi 7 dan 9 poin persentase dibandingkan rata-rata OECD. Untuk riset awal tentang topik baru dan penyusunan draf tulisan, selisihnya lebih kecil, yaitu masing-masing 1 poin persentase.
Mengerjakan latihan dengan AI belum tentu membuat Siswa benar-benar belajar
Eksperimen terhadap 1.000 siswa SMA di Türkiye memberikan gambaran menarik tentang penggunaan AI dalam pembelajaran matematika. Para siswa mengikuti enam sesi latihan, masing-masing selama 90 menit, dengan tiga pendekatan berbeda: menggunakan catatan dan buku pelajaran, menggunakan chatbot AI umum (GPT base), atau menggunakan chatbot yang dirancang khusus untuk membantu pembelajaran (GPT tutor).
Menurut laporan OECD Digital Education Outlook 2026, siswa yang berlatih dengan bantuan AI memperoleh hasil latihan yang lebih baik. Namun, ketika mengikuti ujian tanpa bantuan AI, hasil tersebut tidak selalu bertahan. Siswa yang menggunakan chatbot AI umum memperoleh nilai ujian 17% lebih rendah dibandingkan siswa yang belajar tanpa bantuan chatbot.
Temuan ini menunjukkan bahwa siswa yang berhasil mengerjakan latihan dengan bantuan AI belum tentu benar-benar menguasai materinya. Ada perbedaan antara memperoleh jawaban dengan bantuan teknologi dan mampu menggunakan pengetahuan secara mandiri. Karena itu, ketika hasil tugas terlihat lebih baik, kita perlu bertanya: apakah siswa memahami proses pengerjaannya atau hanya terbantu oleh jawaban yang diberikan AI?
Eksperimen lain di Amerika Serikat mengamati mahasiswa yang menulis esai dalam tiga kondisi: tanpa bantuan teknologi, menggunakan mesin pencari, atau menggunakan ChatGPT. Dalam kelompok yang menggunakan AI berbasis model bahasa besar (large language model/LLM), hanya 12% peserta yang mampu mengutip kembali bagian esainya secara tepat setelah tugas selesai. Pada dua kelompok lainnya, angkanya mencapai 89%. Temuan ini berasal dari penelitian Kosmyna dan rekan-rekannya (2025), yang dapat dibaca dalam laporan penelitian mereka.
Secara keseluruhan, temuan-temuan ini memperlihatkan bahwa AI dapat membantu siswa menyelesaikan tugas, tetapi hasil yang lebih baik belum tentu berarti mereka lebih memahami materi. Meski demikian, temuan ini bukan berarti AI selalu membuat siswa malas berpikir atau menurunkan kemampuan kognitif. Risikonya bergantung pada bagaimana AI digunakan dan apakah siswa tetap terlibat dalam proses berpikir, memeriksa jawaban, dan merefleksikan apa yang mereka pelajari.
Apa artinya bagi Guru di Indonesia?
Penggunaan AI di ruang kelas dan dampaknya pada siswa justru menjadi pengingat pentingnya peran guru dalam mendampingi siswa dalam proses belajar. Ini bukan berarti siswa sepenuhnya dilarang menggunakan AI saat pembelajaran di ruang kelas. Sebaliknya, guru perlu merancang pembelajaran yang memantik partisipasi, rasa ingin tahu, dan kemauan siswa untuk belajar.
Selain melalui pendekatan-pendekatan pembelajaran tersebut, AI tetap perlu dimasukkan dalam proses pembelajaran, bukan sebagai pemberi hasil akhir, melainkan sebagai alat pendukung agar proses pembelajaran menarik dan bermakna. Oleh karena itu, memberikan tugas super sulit yang hanya diukur dari hasil akhir bisa jadi kurang relevan karena AI mampu menghasilkan jawaban dalam waktu kurang dari satu menit.
Tanggung jawab untuk mengubah pembelajaran bukan hanya berada di tangan guru. Sekolah dan pemerintah juga berperan penting dalam membangun lingkungan belajar yang mendukung guru dan siswa untuk mengeksplorasi pembelajaran, serta menyediakan kebijakan dan kurikulum yang mendukung pendekatan tersebut.
Sumber bacaan
OECD, OECD Digital Education Outlook 2026.
OECD, PISA 2025 Results (Volume I): Future-Ready Students.
OECD, PISA 2025 Results: Indonesia Country Note.
Bastani dan rekan-rekan, Generative AI Can Harm Learning.
Kosmyna dan rekan-rekan, Your Brain on ChatGPT.

