Konten dari Pengguna

"Manchild” dan Beban Kedewasaan yang Tidak Setara

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dwi nurila aksa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto ini menggambarkan laki-laki dewasa yang masih terjebak dalam sisi kekanak-kanakannya. Ilustrasi: hasil generasi AI
zoom-in-whitePerbesar
Foto ini menggambarkan laki-laki dewasa yang masih terjebak dalam sisi kekanak-kanakannya. Ilustrasi: hasil generasi AI

Di tengah anggapan bahwa musik pop hanya sekadar hiburan, Manchild dari Sabrina Carpenter justru menghadirkan pandangan baru yang cukup dekat dengan realitas sosial. Lagu ini memperkenalkan sosok “ manchild ”, yaitu laki-laki yang secara usia telah dewasa, tetapi belum cukup bisa menunjukkan kedewasaan dalam sikap maupun tanggung jawab.

Istilah ini bukan sekadar label, melainkan gambaran pola perilaku yang kerap ditemui. Sosok “ manchild ” biasanya ditandai dengan kecenderungan menghindari komitmen, kesulitan mengelola emosi, serta bergantung pada orang lain dalam menghadapi masalah. Yang menjadi persoalan, perilaku seperti ini sering kali tidak dianggap serius, bahkan cenderung dimaklumi.

Dalam banyak situasi, laki-laki masih diberi ruang untuk “ belum siap” atau “ masih dalam proses menjadi dewasa ”, tanpa tekanan sosial yang sama besar untuk berubah. Sikap ini secara tidak langsung membentuk standar maskulinitas yang longgar terhadap tanggung jawab emosional. Akibatnya, kedewasaan bukan lagi menjadi tuntutan, melainkan pilihan. Sebaliknya, perempuan kerap dihadapkan pada ekspektasi yang jauh lebih tinggi. Mereka dituntut untuk mampu mencapai standar “ ideal ” dalam waktu yang relatif singkat, baik dalam hal emosi, peran sosial, maupun tanggung jawab. Ketika tidak mampu memenuhi gambaran yang dibentuk oleh masyarakat, perempuan sering kali dinilai gagal, bahkan dipertanyakan kelayakannya sebagai individu yang “ utuh ”. Standar yang timpang ini menunjukkan bahwa beban kedewasaan tidak dibagi secara setara.

Kondisi tersebut memperkuat pola relasi yang tidak seimbang. Ketika satu pihak diberi kelonggaran untuk tidak berkembang, sementara pihak lain dituntut untuk terus menyesuaikan diri, maka ketimpangan menjadi sesuatu yang dianggap wajar. Dalam jangka panjang, hal ini tidak hanya merugikan individu, tetapi juga mempertahankan cara pandang yang tidak adil terhadap peran gender. Melalui “ Manchild ”, kritik terhadap pola ini disampaikan dengan cara yang sederhana namun efektif. Lagu ini tidak menggurui, tetapi cukup jelas dalam menunjukkan bahwa perilaku yang terus dimaklumi akan sulit berubah. Dalam hal ini, budaya pop berperan sebagai medium refleksi membawa pengalaman personal ke dalam kesadaran yang lebih luas.

Pada akhirnya, pembahasan tentang “ manchild ” ini bukan hanya soal individu yang belum matang, tetapi juga tentang bagaimana standar maskulinitas dibentuk dan dipertahankan. Selama ketidakdewasaan masih dianggap biasa, maka pola yang sama akan terus berulang. Oleh karena itu, penting untuk mulai melihat kedewasaan emosional sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari maskulinitas itu sendiri.