Konten dari Pengguna

Tren Jalanan Chongqing : Strategi Pariwisata China di Era Digital

Dwi nurila aksa

Dwi nurila aksa

Mahasiswa hubungan internasional universitas Sriwijaya yang tertarik dengan isu keamanan , kesetaraan gender dan diplomasi antara negara

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dwi nurila aksa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

kota Chongqing pada malam hari, menampilkan jalan bertingkat, kereta yang melintas di antara gedung, serta kawasan tepi sungai yang ramai. Visual ini menonjolkan dinamika urban dan daya tarik kota di era media sosial. Ilustrasi: hasil generasi AI
zoom-in-whitePerbesar
kota Chongqing pada malam hari, menampilkan jalan bertingkat, kereta yang melintas di antara gedung, serta kawasan tepi sungai yang ramai. Visual ini menonjolkan dinamika urban dan daya tarik kota di era media sosial. Ilustrasi: hasil generasi AI

Dalam beberapa tahun terakhir, kota Chongqing mendadak menjadi sorotan global. Bukan karena kampanye pariwisata besar-besaran atau promosi resmi pemerintah, melainkan karena viralnya konten-konten media sosial yang menampilkan keunikan kota tersebut mulai dari jalan bertingkat yang membingungkan, kereta yang melintas di tengah gedung, hingga lanskap urban yang sangat memanjakan mata. Fenomena ini menandai perubahan penting dalam cara sebuah negara mempromosikan dirinya: dari pendekatan konvensional menuju strategi berbasis digital yang lebih organik.

Fenomena ini dapat kita lihat melalui konsep Soft Power yang diperkenalkan oleh Joseph Nye. Soft power merujuk pada kemampuan suatu negara untuk memengaruhi pihak lain melalui daya tarik, bukan paksaan, dan Dalam topik ini, daya tarik visual dan pengalaman unik yang ditawarkan Chongqing menjadi alat yang efektif untuk membangun citra positif China di mata dunia. Menariknya, popularitas Chongqing tidak sepenuhnya lahir dari kampanye negara yang terstruktur. China sendiri juga berkembang melalui platform seperti TikTok dan Douyin, di mana pengguna dari berbagai negara membagikan pengalaman mereka secara spontan. Video-video tersebut menciptakan efek viral yang sulit ditandingi oleh iklan konvensional. Tanpa narasi politik yang eksplisit, konten-konten ini justru terasa lebih autentik dan mudah diterima oleh audiens global.

Di sinilah letak kekuatan strategi ini. Alih-alih mempromosikan pariwisata melalui slogan resmi atau iklan mahal, China secara langsung maupun tidak memanfaatkan ekosistem digital untuk membiarkan daya tarik kotanya berbicara sendiri. Jalanan Chongqing yang unik berubah menjadi “ panggung visual ” yang secara tidak sadar mengundang rasa penasaran publik internasional. Wisatawan datang bukan karena rekomendasi pemerintah, melainkan karena rasa ingin tahu yang dipicu oleh konten viral. Jika kita menyebut fenomena ini sebagai sesuatu yang sepenuhnya spontan juga kurang tepat. Pemerintah China dikenal memiliki kontrol dan strategi yang cukup kuat dalam mengelola citra nasionalnya. Infrastruktur kota yang futuristik, tata ruang yang unik, hingga kemudahan akses digital bukanlah kebetulan semata. Ada investasi jangka panjang yang memungkinkan kota seperti Chongqing tampil menarik di era visual saat ini. Dengan kata lain, “ kealamian ” yang terlihat di media sosial tetap berdiri di atas fondasi perencanaan yang matang.

Pendekatan ini terbukti efektif. Promosi berbasis pengalaman visual dan cerita personal cenderung lebih dipercaya dibandingkan iklan resmi. Selain itu, strategi ini juga lebih hemat biaya dan memiliki jangkauan yang jauh lebih luas. Dalam era digital, satu video viral dapat menjangkau jutaan orang dalam waktu singkat sesuatu yang sulit dicapai oleh metode promosi tradisional. Meski terlihat sempurna tren ini juga memiliki tantangan yang perlu diperhatikan. Ketergantungan pada tren viral membuat citra destinasi menjadi fluktuatif. Apa yang populer hari ini bisa saja dilupakan esok hari. Lonjakan wisatawan yang tidak diimbangi dengan kesiapan infrastruktur dapat menimbulkan masalah baru, seperti overtourism dan degradasi lingkungan. Strategi soft power berbasis digital ini tetap memerlukan pengelolaan yang cermat agar dampaknya berkelanjutan.

Tren jalanan Chongqing menunjukkan bahwa soft power di era digital tidak lagi bergantung sepenuhnya pada aktor negara. Platform digital dan pengguna individu kini memainkan peran penting dalam membentuk persepsi global. China tampaknya memahami dinamika ini dan berhasil memanfaatkannya untuk memperkuat daya tarik pariwisatanya. Fenomena ini juga memberikan pelajaran penting bagi negara lain, termasuk Indonesia. Di tengah persaingan global dalam sektor pariwisata, pendekatan yang kreatif, autentik, dan berbasis digital menjadi kunci. Jalanan bukan lagi sekadar ruang publik, tetapi bisa menjadi media promosi yang kuat asal mampu dikemas dengan cara yang tepat.