4 Tahun di Transmigrasi

Magister Lingkungan-Aparatur Sipil Negara (ASN)
Tulisan dari Dwi Tyas Pambudi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Temaram senja di ufuk barat mulai menyelimuti sebuah desa yang ada di Barat Laut Provinsi Bengkulu ini. Sebuah desa program transmigrasi yang berada di dalam belantara hutan tropis Sumatera. Desa Karang Tengah namanya merupakan sebuah desa bagian dari Kecamatan Ketahun pada masa itu dan berdiri sekitar tahun 1981.
Jarak yang harus ditempuh dari pusat kota Provinsi Bengkulu untuk sampai di desa ini kurang lebih 115 kilo meter. Jalan koral yang berbatu, tanah liat, dan hutan belantara merupakan pemandangan selama menuju desa ini. Tak cukup itu, untuk sampai ke desa harus ditempuh dengan berjalan kaki selama tiga jam perjalanan dengan jarak tujuh kilometer.
Langit berwarna gelap mendung terlihat menggelayut pertanda hujan bersiap untuk turun ke bumi. Rintik hujan mulai turun membasahi tanah dan dedaunan sore itu. Malam mulai gelap. Dan burung-burung sudah kembali ke sarang bersama keluarganya. Malam mulai menyelimuti desa ini.
Suara keheningan malam itu pecah, dengan terdengarnya sebuah bunyi “kentongan” kayu dari sebuah “langgar” di depan rumah ini. Langgar yang sederhana, dengan atap seng dan berdinding kayu dengan kontruksi panggung. Cukup sederhana.
Tak seperti bunyi kentongan adzan panggilan untuk salat berjemaah sore ini. Namun tidak seperti biasa, suara kentongan tersebut terdengar sebanyak tiga kali secara berturut-turut. Bunyi kentongan tersebut menjadi pertanda ada salah satu warga di desa ini yang telah dipanggil menghadap Illahi?
Isak tangis pilu terdengar dari sebuah rumah kecil salah satu warga di desa ini. Rumah yang berukuran 36 meter persegi, beralas tanah. Harum aroma bau dari dinding kayu masih terasa memenuhi rongga hidung, pertanda rumah dan penghuninya yang masih baru tinggal di sini. Dan benar, kentongan kayu tersebut memberikan sebuah informasi bahwa seorang warga telah meninggal maghrib ini. Beberapa warga mulai berkerumun mendatangi rumah kecil itu. Apa gerangan yang terjadi?
Samar-samar terdengar lantunan ayat-ayat suci Al-Quran dikumandangkan oleh warga dari rumah itu dengan khusyuknya. Sesekali terdengar juga sesegukan tangisan menyayat hati dari seorang wanita dan beberapa warga. Hujan pun mulai turun, belum juga reda.
Beberapa warga mulai terlihat sibuk menyiapkan tempat duduk dan tenda untuk para penduduk yang mulai berdatangan.
Untuk memberikan penerangan rumah ini, beberapa warga mulai terlihat bersiap-siap untuk menyalakan lampu “petromak”. Maklum, di desa ini penerangan listrik belum ada. Lampu petromak digunakan pun dalam keadaan yang terbatas dan untuk kebutuhan yang lebih penting, hanya waktu-waktu tertentu saja. Hari-hari biasa penduduk hanya menggunakan lampu “teplok” yang diisi dengan minyak tanah. Lampu teplok, merupakan sebuah lampu yang dibuat sendiri dari bekas kelang susu ataupun bekas kaleng sarden dari jatah pemerintah yang kami terima.
Lampu petromak belum juga bisa dinyalakan, lampu tersebut terbakar dengan hebatnya. Asap membubung tinggi membakar lampu tersebut “ngebok” bahasa Jawanya. Warga mulai panik, untuk mulai memadamkannya. Namun keadaan tersebut tidak begitu lama, lampu petromak sudah mulai menyala dan suasana rumah terlihat terang benderang.
“Pak tangi pak, ojo turu terus” (pak bangun pak, jangan tidur terus) ucap bocah kecil 3,5 tahun menyapa ayahnya. Yang dipanggil pun tidak menyapa, hanya diam sambil terpejam dengan tenang, terbujur kaku beralaskan tikar yang sudah mulai rapuh.
“Bapak lagi tidur le, jangan dibangunin,” jawab ibunya dengan suara parau sedikit gemetar dan sambil menitikkan air mata. Tak kuasa menahan beban, sedih, dan pilu hatinya.
Dalam pikiran bocah kecil itu berkecamuk. Terasa tak percaya. ”Mengapa ibu menangis, bila ayah hanya tertidur? Dan mengapa warga berkumpul di rumahnya? Apa yang sedang terjadi? Apakah ada sesuatu hal?" Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak mendapatkan jawaban.
“Mak mengapa bapak tidak bangun-bangun,” Bocah kecil itu kembali bertanya. Namun jawaban yang diberikan ibunya belum membuatnya mengerti tentang kejadian semua ini. Dengan sekuat tenaga bocah itu terus membangunkan sang ayah. Kecurigaanya belum bisa terjawab.
Mendengar bocah kecil yang memanggil bapaknya untuk segera bangun, membuat keluarga dan warga yang hadir terasa tersayat pilu. Bocah kecil itu belum mengerti bahwa ayahnya sudah mengembuskan napas terakhir sore tadi, kembali kepangkuan Illahi.
Bocah kecil terus berusaha membangunkan sang ayah, karena hari dia berjanji akan membuatkan sebuah mainan kereta dari bambu, bermain bersama atau bahkan menggendongnya. Tapi sore itu tak biasanya, ayahnya tidur dan tidak sedikit pun terjaga untuk menepati janji.
Bocah kecil itu tidak mau beranjak pergi dari samping ayahnya, dia duduk bersila untuk menunggu sang ayah bangun dan sedikit menyapa. Firasatnya mungkin berkata, “Pasti ada sesuatu yang terjadi dengan ayahnya.”
Hingga sedikit pun membuat ayahnya tidak bergerak. Sesekali dia memandang tubuh sang ayah wajah ayahnya yang mulai pucat, tak bergerak dan dingin.
*
Hari Berganti
Bocah kecil itu belum merasakan duka. Hanya bermain dan terus bermain dengan sahabat-sahabat kecilnya. Yang ada dibenaknya mengapa ayahnya tidak kembali ke rumah.
Dalam hatinya ia harus berusaha mencari tahu keberadaan ayahnya.
“Mak, mengapa bapak tidak pulang,” kata sang anak kepada ibunya. Ditanya hal tersebut, ibu mengeluskan tangannya di kepala bocah itu sambil menitikkan air matanya.
“Bapakmu sudah gak ada le, dan gak bakal kembali lagi, bapak sudah hidup enak di surga" jawab ibunya dengan gemetar.
Bocah itu belum mengetahui apa makna kata-kata ibunya. Belum bisa terpikirkan olehnya sebuah ketiadaan dan arti kehilangan ayah.
*
Kejadian 39 tahun silam, mengulik hati bocah yang tak lagi kecil. Untuk bertanya kepada ibunya tentang sebuah memori dari seorang ayah. Untuk dapat mengisahkan sebuah cerita yang lama dipendamnya, tentang sang ayah yang sudah tiada.
Menurut ibu, bapak menderita penyakit liver, entah kapan mulai dideritanya. Dan sebelum meninggal ayah dalam keadaan sakit demam tinggi. Di derita kurang lebih seminggu selepas mencangkul di sawah. Akibat belum adanya pusat pengobatan di desa ini, sakit ayah semakin parah.
Satu hari sebelum meninggal, ayah masih menyempatkan untuk menggendong anaknya . Dan Mengajaknya bermain walaupun dalam keadaan sakit. Mungkin beliau ingin memberikan pelukan dan gendongan terakhir bagi anaknya, sebelum pergi menghadap sang Khalik. Firasatnya mungkin sudah terasa, bahwa ayah akan kembali kepangkuan Illahi.
Sore itu seperti sudah ada tanda-tanda bahwa ayah akan pergi. Beliau sudah mempersiapkan dirinya di atas kasur beralaskan tikar. Penyakit yang deritanya sudah tak tertahankan lagi. Suhu badannya tinggi dan tak terkendali.
Dalam keadaan ibu yang panik, keluarga dan tetangga mulai berdatangan untuk menjenguk ayah sakit. Sebelum meninggal ayah berpamitan, mohon maaf kepada seluruh keluarga dan tetangga untuk memaafkan segala kesalahan-kesalahannya.
*
“Itu malaikat sudah datang, badannya besar sekali, memakai baju putih,” seraya tersenyum beliau menyambutnya.
Ayah mulai meletakkan posisi tangannya di atas dada, seperti posisi orang yang salat dan dalam keadaan tidur. Membuat keluarga panik dan ketakutan. Keluarga menyarankan ayah untuk tidak meletakkan tangan ayah di atas dada. Untuk tidak berposisi seperti itu.
“Tangan ini jangan dipegang, biarlah saya berposisi seperti ini” Ujar sang ayah disaat keluarga meminta untuk tidak dengan posisi tersebut.
“Biarkan saya kembali,” ucap ayah. Tangannya tetap pada posisi seperti orang salat. Matanya mulai terpejam.
“Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar." Suara itu lirih dan semakin lama semakin tidak terdengar. Matanya terpejam dengan lelap sekali. Badannya mulai pucat, dingin dan kaku. Ayah sudah meninggal. Allah lebih sayang dia, untuk segera kembali. Perjuangannya telah usai di dunia ini.
Ayah meninggal dalam usia yang masih sangat muda karena sakit, 34 tahun adalah umur yang masih sangat muda. Dan bocah kecil itu berumur 3,5 tahun disaat masih sangat membutuhkan kasih sayang seorang ayah.
Waktu Berlalu
Kehidupan mulai berat. Bahan makanan dan uang sudah habis untuk biaya pemakaman ayah. Semua bahan yang bisa dijual, oleh ibu semua dijual. Makan pun seadanya, tiwul yang mulai menghitam merupakan pilihan. Karena bahan makanan sudah tidak ada dirumah ini. Terkadang nasi putih hanya sekadar penghias agar tiwul nampak cantik dan berwana menarik.
Ibu hanya sendirian mencari nafkah setelah di tinggal ayah, dengan mengandalkan beberapa sisa padi yang ada di dalam "gerobok" sepetak sawah dan beberapa bidang tanah. Padi sisa panen bulan yang dulu hanya cukup untuk beberapa bulan saja.
Sempat berkeinginan untuk kembali ke Jawa dan menjual seluruh aset peninggalan sang ayah. Namun ibu berpikir, apakah kalau kembali lagi ke Jawa bisa menghidupi anak dan hidup lebih layak?
Di jawa pun susah untuk mencari penghidupan. Keahlian menjahitnya tidak cukup untuk membiayai anak-anaknya. Untuk makan aja tidak cukup, apalagi untuk bersekolah.
Pemikiran yang semakin berkecamuk dan tututan hidup yang semakin berat mengharuskan ibu untuk bertahan di sini. Dengan banyak pertimbangan keinginan kembali ke jawa bukan menjadi pilihan. Mengingat pertimbangan akan anak-anaknya dan kehidupan di jawa dia yakini tidak akan lebih baik.
Mulailah ibu melanjutkan usahanya untuk membuka lagi warung “manisan” sekadar untuk menyambung hidup untuk membeli beras. Dan semua itu hanya cukup untuk makan dan bersekolah anaknya.
*
“Gusti Allah mboten sare le,” ucap sang ibu dengan suara lirih dan bergetar, meyakinkan kepada anak-anaknya. Hanya itu tempat sandarannya. Tiada tempat untuk mengadu selain Dia.
Kini kehidupan telah berubah, perjuangan sang ayah telah di lanjutkan oleh bocah kecil itu. Bakti kepada agama, orang tua dan bangsa merupakan perjuangan untuk mewujudkan sebuah cita-cita beliau.
Waktu 3,5 tahun bersamanya, belum memberikan memori yang cukup untuk membuat bocah kecil itu mengingatnya. Siapakah dia, bagaimana muka dan tubuhnya, atau bagaimana tutur sapanya. Hanya itu yang mampu didapatkan untuk mengenangnya. Kisah ini belum lengkap. Kabupaten Wonogiri Desa Batu Retno merupakan sebuah kota kelahiran ayah.
Mungkin di sana memori itu masih tersimpan untuk melengkapi sebuah kisah ini?
Based on a true story.
