Konten dari Pengguna

Peran Pelatih Pembina Pramuka dalam Kegiatan KMD Mahasiswa FKOR UNS

dyah retna

dyah retna

Guru dan Pembina pramuka di SMA N 7 Surakarta

·waktu baca 7 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari dyah retna tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

KMD Golongan Penegak FKOR UNS Manahan, Surakarta, Tahun 2026

( oleh : Dyah Retnaningsih, S.Pd)

KMD Golongan Penegak dari mahasiswa UNS

Kursus Mahir Dasar (KMD) adalah jenjang pertama pendidikan kepelatihan bagi calon Pembina Pramuka. Pada tahun 2026, KMD Golongan Penegak diselenggarakan di FKOR UNS Manahan, Surakarta. Kursus ini terbagi dalam dua tahap: materi indoor pada 5, 6, dan 12 Juni 2026, dan perkemahan (outdoor) pada 19-21 Juni 2026.

Mahasiswa Fakultas Keolahragaan memiliki bekal yang sejalan dengan kepramukaan, yaitu aktivitas fisik, kegiatan alam terbuka, dan pendidikan karakter. Bekal itu perlu diarahkan agar menjadi kompetensi membina yang utuh. Peran ini dijalankan oleh Pelatih Pembina Pramuka. Dalam jadwal KMD, peran tersebut terlihat pada Kak Siwi, Kak Dyah, dan Kak Legani bersama Tim Pelatih, dengan Ketua Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Ka. Pusdik) yang memimpin upacara pembukaan.

Pelatih Pembina dalam Rancangan Kursus

Jadwal KMD memperlihatkan bahwa pelatih bekerja dengan dua pola. Sebagian sesi dipegang pelatih tertentu sesuai keahliannya, sedangkan sesi pendukung seperti upacara, istirahat, dan kegiatan lapangan dikelola bersama oleh Tim Pelatih. Pola ini menunjukkan pembagian peran dan kerja sama tim.

Jadwal kegiatan pelaksanaan KMD

pendampingan kepada peserta KMD

Peran Pelatih Pembina pada Setiap Tahap

  1. Membuka Kursus dan Membangun Iklim Belajar

Hari pertama bukan hanya soal materi. Setelah upacara pembukaan, sesi Jam Pimpinan, orientasi kursus, dan pre test dipandu Kak Siwi dan Kak Dyah. Pre test memberi gambaran kemampuan awal peserta, sehingga pelatih dapat menyesuaikan pendekatan, terutama karena pengalaman kepramukaan mahasiswa berbeda-beda.

Sesi kontrak belajar dan dinamika kelompok yang dipandu Kak Legani menentukan suasana kursus. Peserta dan pelatih menyepakati aturan, harapan, dan komitmen bersama. Pelatih berperan sebagai fasilitator pembelajaran orang dewasa. Ia membangun kepercayaan dan kebersamaan, dan tidak bertindak sebagai atasan yang memerintah.

2. Menanamkan Fondasi Organisasi dan Nilai

Pada hari kedua, materi Fundamental Gerakan Pramuka disampaikan dalam dua sesi : sejarah dan undang-undang gerakan oleh Kak Legani, lalu AD-ART organisasi oleh Kak Dyah. Materi ini sering dianggap berat dan normatif. Di sini pelatih berperan menjembatani. Ia menghubungkan sejarah dan aturan organisasi dengan situasi kekinian, agar peserta paham mengapa Gerakan Pramuka diatur seperti itu dan apa tanggung jawab pembina di dalamnya.

membekali peserta KMD untuk kegiatan selanjutnya

3. Membekali Pemahaman Peserta Didik dan Jati Diri Pembina

• PDK MK (Kak Dyah) membangun pemahaman dasar tentang kepramukaan.

• Dunia Penegak (Kak Legani) mengenalkan karakteristik, kebutuhan, dan dinamika golongan Penegak yang akan dibina.

• Postur Pembina (Kak Siwi) membentuk sikap, penampilan, dan keteladanan seorang pembina.

Sesi Postur Pembina menegaskan bahwa pembina dinilai dari sikap dan keteladanannya, tidak hanya dari penguasaan teknik. Pelatih menjadi contoh nyata dalam hal ini, sesuai prinsip ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.

kepramukaan di alam terbuka

4. Menghidupkan Metode Kepramukaan di Alam Terbuka

Hari pertama, setelah mendirikan tenda, Kak Legani memandu Ragam Upacara Penegak. Kak Siwi memandu Ragam Pertemuan (Raimuna), kemudian dilanjutkan sesi Muatan Lokal. Pada malam hari Kak Dyah membawakan materi Metode Membina Pramuka, disusul jelajah alam dan pendirian bivak. Pelatih memastikan peserta merasakan langsung metode kepramukaan seperti belajar sambil melakukan, kegiatan di alam terbuka, dan sistem berkelompok.

Hari kedua, kegiatan berlanjut dengan parade raimuna, pionering bersama Kak Dyah, serta simulasi uji SKU, SKK, dan penyusunan program latihan. Puncaknya adalah praktik membina. Peserta mencoba memimpin dan membina, sedangkan pelatih mengamati, memberi umpan balik, dan mengarahkan. Pada malam hari ada api unggun bersama Kak Legani dan renungan pembina bersama Kak Siwi. Kedua kegiatan ini menguatkan sisi emosional dan spiritual, yaitu motivasi dan komitmen untuk mengabdi sebagai pembina.

Hari ketiga, kursus ditutup dengan post test (Kak Dyah) dan RTL (Rencana Tindak Lanjut), narakarya, dan open forum (Kak Siwi). Pelatih mengukur peningkatan pemahaman peserta, mendengarkan masukan, dan membantu peserta merumuskan langkah setelah kursus. Upacara penutupan mengakhiri rangkaian KMD secara resmi.

Peran Lintas Tahap

Selain mengajar sesuai sesinya, Pelatih Pembina menjalankan peran yang berjalan sepanjang kursus:

1. Fasilitator pembelajaran orang dewasa. Peserta adalah calon pendidik, jadi pembelajaran mengutamakan diskusi, simulasi, dan praktik.

2. Teladan. Kedisiplinan, ketepatan waktu, tutur kata, dan empati pelatih dicontoh peserta.

3. Penjaga keselamatan dan kesehatan. Kegiatan outdoor yang panjang, termasuk jelajah malam dan bivak, menuntut pengelolaan risiko, istirahat, dan beban fisik yang wajar.

4. Penjaga suasana yang mendidik. Disiplin dibangun melalui kesadaran dan kesepakatan, bukan tekanan atau perpeloncoan.

5. Pembimbing praktik. Pelatih memberi umpan balik yang spesifik dan membangun pada simulasi dan praktik membina.

6. Evaluator. Pelatih menilai dari pre test, post test, sikap, partisipasi, dan praktik, lalu menyusun rekomendasi kelulusan.

7. Penghubung ke tindak lanjut. RTL mengarahkan peserta untuk terjun menjadi pembina, misalnya di Gugusdepan sekolah, komunitas, atau lingkungan kampus.

Nilai Strategis bagi Mahasiswa FKOR UNS

Pendampingan pelatih membuat KMD memberi manfaat nyata bagi mahasiswa FKOR:

1. Kompetensi pedagogik tambahan untuk calon guru PJOK dan pelatih olahraga dalam merancang kegiatan nonformal yang menyenangkan dan aman.

2. Karakter dan kepemimpinan melalui penghayatan Trisatya dan Dasadarma.

3. Kemampuan mengelola kelompok lewat dinamika kelompok, raimuna, dan praktik membina.

4. Keterampilan lapangan, seperti pionering, kegiatan perkemahan, dan penjelajahan alam, yang sejalan dengan keilmuan keolahragaan.

5. Kesiapan berkontribusi sebagai pembina muda yang menjaga keberlanjutan Gerakan Pramuka.

Tantangan dan Upaya Mengatasinya

Tantangan yang muncul antara lain jadwal indoor yang dipadatkan pada sore hari setelah perkuliahan, kelelahan peserta pada sesi malam dan jelajah alam, serta perbedaan pengalaman kepramukaan antarpeserta. Pelatih dapat menjawabnya dengan metode yang variatif, jeda istirahat yang cukup (jadwal sudah memuat istirahat dan ISHOMA), pelibatan peserta berpengalaman sebagai mitra belajar, dan penekanan relevansi KMD terhadap profesi masa depan mahasiswa

Rekomendasi bagi Penyelenggara dan Peserta

Berdasarkan alur jadwal KMD Golongan Penegak FKOR UNS 2026, ada beberapa rekomendasi agar peran Pelatih Pembina semakin optimal. Pertama, pembagian tugas antarpelatih sebaiknya disampaikan sejak awal kepada peserta, sehingga mereka tahu siapa yang bertanggung jawab pada setiap sesi dan kepada siapa mereka dapat berkonsultasi. Kedua, hasil pre test perlu dimanfaatkan untuk menentukan penekanan materi, bukan hanya disimpan sebagai arsip. Ketiga, umpan balik pada sesi praktik membina sebaiknya dicatat secara tertulis agar peserta dapat membacanya kembali setelah kursus berakhir.

Bagi peserta, KMD akan lebih bermakna jika diikuti dengan sikap belajar yang terbuka. Peserta diharapkan aktif bertanya, berani mencoba memimpin, dan bersedia menerima masukan dengan lapang dada. Pengalaman di bidang olahraga, seperti disiplin latihan, sportivitas, dan kerja sama tim, dapat dibawa ke dalam kursus sebagai modal belajar yang berharga.

Keberlanjutan Setelah Kursus

Kursus tidak berakhir saat upacara penutupan. Rencana Tindak Lanjut (RTL) yang disusun pada hari terakhir perlu dipandang sebagai janji pengabdian yang harus diwujudkan. Pelatih Pembina dapat tetap menjadi mitra konsultasi bagi alumni KMD, misalnya dalam menyusun program latihan, mengajukan diri sebagai Pembina Pembantu di Gugusdepan, atau mengembangkan kegiatan kepramukaan di lingkungan kampus dan sekolah mitra. Pendampingan semacam ini mencegah pengetahuan yang sudah didapat menjadi sia-sia karena tidak pernah dipraktikkan.

Dalam jangka panjang, alumni KMD dari FKOR UNS dapat menjadi jembatan antara dunia olahraga dan kepramukaan. Seorang guru PJOK yang juga pembina Pramuka mampu menghadirkan permainan edukatif, kegiatan alam, dan pembinaan karakter dalam satu paket pembelajaran yang menyenangkan bagi peserta didik. Dengan demikian, manfaat KMD tidak berhenti pada pribadi peserta, tetapi meluas kepada sekolah dan masyarakat tempat mereka kelak mengabdi.

Nilai-nilai yang dipelajari selama KMD juga relevan dengan kehidupan kampus sehari-hari. Ketepatan waktu, tanggung jawab, kejujuran, dan kepedulian terhadap sesama adalah sikap yang dibutuhkan dalam perkuliahan, organisasi, maupun dunia kerja. Pelatih Pembina membantu peserta menyadari bahwa Trisatya dan Dasadarma bukan sekadar hafalan, melainkan pedoman bersikap. Ketika peserta mampu menerapkannya secara konsisten, kepramukaan benar-benar hadir sebagai gaya hidup yang membentuk pribadi unggul, sehat jasmani, kuat rohani, dan berguna bagi masyarakat luas di mana pun mereka kelak berada dan berkarya. Karena itu, pendampingan pelatih sebaiknya terus dihargai, dijaga, dan dikembangkan sebagai investasi jangka panjang bagi kemajuan pendidikan kepramukaan.

Pada KMD Golongan Penegak FKOR UNS 2026, Pelatih Pembina Pramuka berperan sebagai perancang pembelajaran, fasilitator, narasumber, teladan, pembimbing praktik, penjaga keselamatan, dan evaluator. Alur kursus dari pre test, materi fundamental, praktik membina di alam terbuka, sampai post test dan RTL terhubung oleh pendampingan para pelatih. Dengan pendampingan itu, mahasiswa FKOR UNS tidak hanya memperoleh sertifikat. Mereka siap menjadi pembina yang berkarakter, kompeten, dan bertanggung jawab.

Keberhasilan KMD tidak diukur dari banyaknya sertifikat yang diterbitkan, melainkan dari kualitas pembina yang dihasilkan dan dampaknya bagi peserta didik. Pelatih Pembina Pramuka menjadi penentu utama dalam proses itu melalui kesabaran, keteladanan, dan ketulusan mendampingi. Semoga setiap penyelenggaraan KMD di FKOR UNS terus melahirkan pembina muda yang tangguh, berintegritas, dan siap menjaga semangat Gerakan Pramuka. Selamat berkarya, Kakak-kakak pembina muda!

Satyaku kudarmakan, darmaku kubaktikan, agar jaya Indonesia.