Mom
·
13 Oktober 2020 11:12

PJJ: Tak hanya Siswa, Orang Tua pun Ikut Belajar

Konten ini diproduksi oleh Dyah Sugiyanto
PJJ: Tak hanya Siswa, Orang Tua pun Ikut Belajar (97782)
sumber ilustrasi gambar: freepic.com
Orang tua (ayah-ibu), siswa, mahasiswa, dosen, guru, sedang banyak mengeluh. Kegiatan belajar mengajar dan perkuliahan selama pandemi COVID-19 menjadi kurang efektif. ‘Sekolah dari rumah’ atau school from home adalah kegiatan belajar mengajar di rumah yang selanjutnya diistilahkan secara resmi sebagai Pendidikan Jarak Jauh (PJJ).
ADVERTISEMENT
PJJ secara umum diartikan sebagai pembelajaran yang memusatkan pada diri pribadi. Siswa dilatih untuk menjadi mandiri dan mempunyai tanggung jawab terhadap proses belajar masing-masing. PJJ saat pandemi Covid-19 ini berdampak pada materi pengajar yang bersifat praktik. Materi dalam beberapa mata pelajaran yang harusnya dipraktekkan bersama menjadi sedikit terkendala, khususnya pada proses pendampingan peserta didik secara fisik.
Pembuatan tugas-tugas praktik oleh siswa dan mahasiswa juga demikian. Akhirnya secara praktis, solusi dipilih dengan memberikan tugas membuat video. Pengajar pun hanya bisa memaksimalkan tutorial berupa teks atau video.
Bisa dibayangkan, orang tua dalam hal ini mayoritas para ibu menjadi super sibuk. Terampil membuat video akhirnya menjadi suatu tuntutan tambahan. Ditambah, ada sebagian anak yang enggan terlibat dalam pembuatan tugas sehingga sang ibu perlu usaha membujuknya.
ADVERTISEMENT
Melibatkan anak untuk shooting atau produksi konten video adalah keharusan, mengingat video ini adalah tugas anak dari guru, bukan tugas orang tuanya. Apabila anak sulit diajak bekerja sama, sebaiknya jangan langsung shooting. Lakukan diskusi tentang ide, konsep, dan skenario adegan. Naskah adalah hal penting untuk disiapkan di awal sebelum melakukan produksi konten video.
Proses Produksi
Apa saja peralatan yang perlu disiapkan? Tentunya kamera. Jaman canggih, fitur kamera telepon seluler atau handphone (HP) sudah cukup memenuhi syarat untuk membuat konten yang amatir. Selain kamera, tripod adalah alat bantu saat produksi. Selebihnya adalah properti. Tripod digunakan agar gambar yang direkam kamera tetap stabil, sedangkan properti adalah elemen pendukung tema konten.
Pastikan penampilan anak terlihat rapi. Demikian juga dengan latar atau background sekitarnya. Setting penting dilakukan agar hasil rekaman visualisasi maksimal. Perhatikan warna baju dengan warna background, usahakan warna keduanya tidak mirip. Berdasarkan pengalaman, merah adalah pilihan warna terbaik untuk shooting. Walaupun terbaik, tidak berarti merah itu mutlak dipilih. Sekali lagi, sesuaikan dengan warna ruangan atau background saat shooting berlangsung.
ADVERTISEMENT
Teknik pengambilan gambar cukup sederhana saja. Camera person atau pengambil gambar hanya perlu memerhatikan komposisi objek gambar. Bayangkan layar HP yang dibagi 3 bagian sama besar. Tidak perlu terlalu presisi, cukup ukuran yang diperkirakan saja. Komposisi gambar yang baik adalah 1/3 dari luas layar.
Apabila belum mahir ‘memainkan’ angle, maka lakukan pengambilan adegan dalam komposisi yang standar saja (level/ sejajar dengan objek). Gambar demi gambar dengan angle/ sudut kamera yang berbeda-beda juga bisa menyiasati agar tayangan menjadi menarik.
Hal lain yang perlu diperhatikan saat produksi adalah pencahayaan dan noise. Pastikan objek tidak membelakangi cahaya agar objek menjadi gelap/ membentuk bayangan hitam (backlight). Noise atau gangguan suara juga membuat kualitas video akan buruk. Sebisa mungkin memilih lokasi yang sepi, baik di dalam ataupun luar ruangan.
ADVERTISEMENT
Akan lebih membantu bagi editor apabila pengambilan gambar/ perekaman video dilakukan berurutan sesuai skenario yang disepakati di awal.
Camera person biasanya merangkap sebagai editor bisa menggunakan HP untuk mengedit video. Banyak pilihan aplikasi editing yang bisa diunduh via playstore atau appstore, tergantung HP yang digunakan. Proses editing menggunakan HP juga menjadi terbantu dengan adanya berbagai aplikasi gratisan.
Belajar Bersama
Apabila tayangan dirasa kurang maksimal di awal, itu wajar. Membuat konten video membutuhkan ide dan kreativitas. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, perlu latihan dan belajar.
Sebenarnya, hasil yang memuaskan bukanlah pada kualitas video. Dalam konteks mengerjakan tugas sekolah, kepuasan orangtua dan guru adalah pada keterlibatan siswa dalam prosesnya.
Sebagian siswa merasa malas, malu, atau tidak mau tahu dengan tugas membuat video yang diberikan guru. Sebagian lagi merasa antusias, tertantang, senang, bahkan ingin bisa mengerjakannya sendiri.
ADVERTISEMENT
Secara teori, belajar adalah upaya seseorang untuk mengubah perilaku. Kegiatan belajar akan selalu diikuti dengan perubahan, baik secara kognitif, psikomotor, maupun afektif. Salah satunya adalah perubahan sikap anak untuk menyukai aktivitas membuat konten video.
Agar sikap anak berubah menjadi semangat mengerjakan tugas membuat video, teknik komunikasi persuasif alias membujuk perlu dilakukan orang tua terhadap anaknya. Komunikasi antarpersonal antara ibu atau ayah dan anak penting dibangun dalam kondisi PJJ saat ini.
Orang tua pasti selalu inginkan yang terbaik untuk buah hatinya. Untuk itu, mereka akan melakukan apapun demi kemajuan belajar anak-anaknya. Orang tua tidak tidak perlu sungkan untuk ikut belajar, mencari pengetahuan, mempelajari keterampilan baru, dan tentu saja beradaptasi dengan perubahan jaman.
ADVERTISEMENT
Tugas membuat video dari guru salah satu contoh yang membuat orang tua harus belajar banyak hal baru. Sebelumnya mereka belum banyak tahu. Tentang cara membuat video, kelas online, presensi online, dan kebaruan lainnya yang terjadi selama pandemi.
Bukan hanya anak, orang tua juga harus ikut belajar. Belajar yang baik adalah didasari oleh kesadaran diri untuk berubah menjadi lebih baik. Inilah yang perlu ditanamkan sebelum memulai aktivitas belajar itu sendiri.
Dr. Dyah R. Sugiyanto
Pranata Humas LIPI/ Dosen Ilmu Komunikasi