Killmonger

Menulis memperkaya perspektif
Tulisan dari Dzaki Aribawa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bagi segenap kaum ekstrimis, supremasi menjadi sebuah keharusan, dan ketika upaya pemurnian menemui jalan buntu maka dominasi menjadi pilihan utama. Sosok layaknya N’Jadaka hadir dan menjelma menjadi seorang ksatria dalam epos mereka — datang menawarkan solusi dari pelbagai macam permasalahan pelik yang ditemui dan dialami kaumnya.
Jalan yang telah ditempuh oleh tokoh yang diperankan oleh Michael B. Jordan ini sejatinya memiliki justifikasi yang jauh lebih kuat ketimbang yang dimiliki oleh lawan politik nya, T’Challa (Chadwick Boseman). Ia menyusuri jalur-jalur yang sama sekali tidak pernah ditengok T’Challa — kontras dengan kehidupan lawannya yang penuh dengan privilise seorang pangeran, ia dipertemukan dengan realitas kaumnya yang asing bagi T’Challa di jalanan Oakland. Mudah baginya untuk menarik simpati para empunya kuasa Wakanda. Ia menawarkan sebuah gebrakan yang revolusioner dan tidak kolot. Mendobrak tren konservatis yang sebelumnya ditawarkan oleh sekian garis keturunan raja sebelum dirinya, termasuk T’Challa.
Lewat citraan Marvel dengan perspektif Ryan Coogler, kita disuguhkan pemandangan fiktif tentang utopisme negeri Afrika yang teramat kaya dan berdikari (bahkan memilih terisolir) dengan sentuhan realisme kultur Afrika yang berwarna dan bervariasi melalui Wakanda. Berbeda dengan rival mereka, DC, yang selalu memperkenalkan ruang fiktif seperti Gotham (Batman) atau Metropolis (Superman), Marvel selalu menyuguhkan lokasi-lokasi faktual, khususnya kota New York dalam fragmen-fragmen komiknya. Sehingga mungkin lewat Wakanda, Stan Lee ingin memunculkan konsepsi baru tentang kehebatan Afrika melalui Black Panther dan Wakanda, dan hal ini yang oleh N’Jadaka diilhami sebagai sebuah modal untuk revolusi Pan-Afrikanisme nya.
Serupa dengan Chris (Daniel Kaluuya, yang juga berperan dalam Black Panther) dalam film thriller-comedy, Get Out (Jordan Peele), N’Jadaka dipertemukan dengan realitas kaum Afro-Amerika dengan otentisitas yang dilaluinya melalui susah payah. Meskipun motif yang dipilih Chris dengan terpaksa membunuh seluruh anggota keluarga Armitage karena nyawa nya terancam berbeda dengan N’Jadaka, apa yang mereka temukan sesungguhnya sama : ketidak-beradayaan kulit hitam menghadapi berbagai bentuk penghisapan dan kesewenang-wenangan kaum kulit putih. Beda Chris adalah bentuk reaksioner dirinya demi mempertahankan eksistensi diri, sedang N’Jadaka untuk mempertahankan eksistensi dan supremasi kaumnya.
Kesamaan akar budaya dan garis keturunan ras menjadi fokus utama N’Jadaka yang dijadikannya sebagai motor penggerak dalam mesin revolusi Pan-Afrikanisme nya itu. Tak pelak, kondisi yang selama ini ia observasi dan dialaminya menjadi komoditas yang dengan mudah untuk diterima oleh masyarakat Wakanda. Identitas yang tampak itu memang menjadi sebuah problem yang selama ini membentuk kaumnya hingga menjadi saat ini. Krisis tentang eksistensi dan identitas yang telah melembaga dan menjadikan sosoknya mampu hadir sebagai pemimpin yang mencolok.
Sejenak melupakan perihal vibranium Wakanda, N’Jadaka bisa salah, identitas saat ini mulai tergerus dengan problematika yang lebih realistis dan patut untuk dipikirkan. Mungkin Prestise Wakanda dalam persepsi rakyatnya masih menggelora dan menjadikannya sebuah kebanggaan dalam penyikapan etnis dan ras yang dibawa oleh nya, namun di negeri yang berbeda, dan realisme yang jauh lebih relevan, gagasan ini mungkin sudah usang. Prestise identitas dan akar kebudayaan yang dijadikan komoditas itu tidak lagi menjadi sesuatu yang penting bagi Earn (Donald Glover dalam acara televisi, Atlanta), ia terlalu miskin untuk menaruh perhatian pada krisis yang dijual oleh N’Jadaka.
Namun gagasan N’Jadaka tidak bisa disalahkan sepenuhnya — diakhir film, T’Challa hadir dengan konsepsi baru tentang hal yang dibawa oleh lawan nya itu, sebuah bentuk transformasi yang lebih elegan dan relevan mengenai pembebasan dari ketertindasan. Fokusnya bukan lagi sekadar supremasi ras, jauh lebih daripada itu — ia menghendaki keterlibatan eksistensi negaranya dalam menyikapi problematika dunia.
Black Panther mampu menjadi bentuk transformasi dari kekolotan dan konservatisme yang menjelma menjadi sebuah bentuk adaptasi yang kooperatif tanpa menjadikan sebuah gerakan radikal sebagai jalan keluar. Wakanda dan T’Challa hadir sebagai bentuk perubahan yang ideal namun revolusioner, ia jadi bentuk kompromi atas problematika bangsa dan rela mengambil resiko dan berani terjun pada realitas yang sebelumnya asing bagi mereka.
N’Jadaka pun mampu hadir dengan wajah dan bentuk yang berbeda, ia bisa jadi para pemimpin revolusioner seperti halnya Lenin dan Khomeini yang menawarkan bentuk revolusi radikal atas problematika yang dialami kelas dan bangsanya. Pelbagai bentuk problematika yang melahirkan urgensi-urgensi untuk lahirnya sebuah revolusi sejatinya akan selalu eksis dan hadir dalam bentuk yang berbeda sesuai dengan perubahan yang menyertai relevansi zaman.
Sosok seperti halnya T’Challa bisa menjadi sosok yang hadir dan menyikapi problematika-problematika ini dengan cara yang mengenal batas dan tidak menghendaki kekerasan. Karena T’Challa bisa hadir dengan wajah dan bentuk yang berbeda — seperti hal nya Gandhi, ia mampu menyikapi problematika kaumnya dengan mengenali relevansi dan batas yang selalu menawarkan solusi.
