Komunikasi Ranting Zaitun Jenderal Listyo Sigit Prabowo
Tulisan dari Eben E Siadari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Publik dunia sempat dihibur oleh berita hangat dari Inggris. Setelah lelah dengan kabar tentang konflik geopolitik, masyarakat global sejenak dapat mengarahkan perhatian pada reuni Raja Charles III dengan putra bungsunya, Pangeran Harry, dan terutama cucu-cucunya, Archie dan Lilibet.
Pada Jumat, 10 Juli 2026, mereka berjumpa di Highgrove House, Gloucestershire, sebuah kediaman pedesaan yang sangat privat. Raja Charles III dan Ratu Camilla menjamu Pangeran Harry, Meghan Markle, serta kedua anak mereka. Pertemuan itu tertutup tanpa lampu kilat kamera media. Tetapi dunia bisa membayangkan keharuan yang ditimbulkannya.
Ini menandai momen pertama kalinya sang Monarki bertemu dengan keluarga kecil putra bungsunya secara lengkap. Empat tahun belakangan hubungan kedua belah pihak terasa beku dan penuh ketegangan publik.
Di tengah spekulasi konflik institusi dan keluarga, sang Raja memilih untuk membuka pintu rumah pribadinya. Ini adalah tindakan yang dalam bahasa diplomasi modern dikenal sebagai "mengulurkan ranting zaitun".
Secara etimologis, metafora "mengulurkan ranting zaitun" (extending an olive branch) berakar jauh dari peradaban kuno Mediterania. Dalam tradisi Yunani Klasik, ranting zaitun disebut kotinos—mahkota yang dianugerahkan kepada pemenang Olimpiade sebagai simbol gencatan senjata dan berakhirnya permusuhan antar-negara kota.
Tradisi ini kemudian diperkuat oleh narasi Yudeo-Kristen melalui kisah Bahtera Nuh. Ketika seekor merpati kembali membawa sehelai daun zaitun di paruhnya sebagai tanda bahwa air bah telah surut, itu ditafsirkan pertanda murka Ilahi telah berganti menjadi rekonsiliasi.
Pohon zaitun sendiri adalah tanaman agraris yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk tumbuh dan berbuah. Oleh karena itu, budidayanya hanya mungkin berkembang dalam kondisi masyarakat yang stabil dan bebas dari perang. Membawa ranting zaitun secara harfiah berarti membawa pesan: “perang telah usai, mari kita kembali membangun kemakmuran bersama.”
Barangkali ada yang berpikir mengulurkan ranting zaitun adalah simbol penyerahan diri, atau lambang ketaklukan. Namun dari kacamata teori ilmu komunikasi, tidak selalu begitu. Langkah Charles III bukan sebagai simbol kelemahan, sebaliknya, sebuah komunikasi strategis tingkat tinggi menggunakan mutual-face concern (manajemen penyelamatan muka bersama).
Sebagai pihak yang memegang otoritas tertinggi dalam struktur monarki, sang Raja menurunkan tensi ketidakpastian (uncertainty reduction) dengan memberikan ruang rekonsiliasi yang terhormat bagi Harry dan keluarganya tanpa harus meruntuhkan wibawa mahkota. Pesan nonverbal dari Highgrove sangat jernih: kekuasaan dan kedewasaan yang sejati tidak diukur dari seberapa keras kita mampu mengunci pintu bagi lawan. Yang terutama justru dari keberanian untuk mengulurkan perdamaian terlebih dahulu.
Silaturahmi Korps Bhayangkara
Komunikasi ala ranting zaitun juga tampaknya sedang berlangsung di Indonesia. Narasi tentang pelunakan ketegangan dan pencarian ruang damai ini menemukan panggung nyata di Jakarta, ketika pada Senin, 13 Juli 2026, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo melakukan kunjungan silaturahmi yang sarat makna ke Gedung Kejaksaan Agung dan berlanjut ke Markas Besar TNI.
Langkah ini diambil bukan dalam ruang hampa, melainkan tepat setelah badai kelembagaan yang nyaris memicu krisis ego sektoral antarinstitusi yang sempat mencekam. Publik baru saja disuguhi drama penegakan hukum yang menegangkan, menyusul serangkaian penggeledahan masif oleh Korps Bhayangkara di belasan lokasi terkait pusaran kasus korupsi dan pencucian uang yang menyeret mantan Jampidsus, Febrie Adriansyah.
Eskalasi ketegangan sempat memuncak secara visual ketika pasukan bersenjata laras panjang TNI dikerahkan untuk menjaga ketat kediaman Febrie atas permintaan resmi korps Adhyaksa—sebuah gestur nonverbal yang oleh publik dibaca sebagai bentuk pengawalan atau "beking" militer di tengah pengusutan perkara. Mundurnya Febrie dari jabatannya di akhir pekan seolah mengonfirmasi betapa panasnya suhu di balik layar.
Di tengah situasi yang karut-marut tersebut, Teori Reduksi Ketidakpastian (Uncertainty Reduction Theory) dari Charles Berger membantu kita memahami mengapa kunjungan Kapolri menjadi sangat krusial. Ketika dua institusi bersitegang dan militer mulai terlibat, level ketidakpastian prediktif (predictive uncertainty) di masyarakat maupun di internal akar rumput membubung tinggi.
Muncul kecemasan publik: Apakah akan ada gesekan fisik di lapangan? Apakah stabilitas keamanan negara terancam? Berdasarkan teori ini, manusia dan sistem secara alami benci berada dalam ketidakpastian dan membutuhkan isyarat perilaku (behavioral cues) untuk meredamnya.
Kehadiran fisik Kapolri di markas Kejagung dan TNI bertindak sebagai isyarat perilaku instan tersebut. Saat kamera media menangkap momen Kapolri menjabat erat tangan Jaksa Agung dan melakukan salam komando yang hangat bersama Panglima TNI, spekulasi liar publik langsung runtuh. Isyarat visual ini secara efektif memotong kecemasan dan memberikan kepastian baru bahwa roda stabilitas negara tetap berjalan normal.
Langkah Jenderal Listyo Sigit juga dapat dibedah melalui konsep metakomunikasi yang dipopulerkan oleh Paul Watzlawick. Dalam teori sistem komunikasi, konflik sering terjebak dalam "eskalasi simetris—sebuah lingkaran setan di mana aksi penggeledahan dari satu pihak dibalas dengan pengerahan pasukan bersenjata oleh pihak lain, yang jika dibiarkan akan terus membesar.
Di sini Kapolri melakukan metakomunikasi, yaitu mengirimkan pesan tentang bagaimana hubungan antar-institusi ini harus diartikan kembali. Dengan mendatangi langsung markas "rivalnya", memanggil Jaksa Agung sebagai "kakak asuh", dan menampilkan gestur yang rileks, Kapolri tidak sedang berdiskusi tentang substansi kasus hukum kasus per kasus (level substansi).
Ia sedang berkomunikasi tentang cara mereka berhubungan (level hubungan). Ranting zaitun yang diulurkannya memaksa sistem yang tegang untuk melakukan reset, mengubah aturan main dari konteks "persaingan bersenjata" kembali ke konteks "sinergi penegakan hukum".
Apakah uluran ranting zaitun oleh Kapolri Jenderal Listyo Sigit memiliki struktur relasi kuasa yang sama dengan langkah Raja Charles III kepada Pangeran Harry? Bisa dikatakan memiliki kesamaan, namun kompleksitas taktis yang jauh lebih tinggi. Dalam arsitektur konflik ini, Korps Bhayangkara sebenarnya berada di posisi atas angin (pihak pemenang struktur). Melalui serangkaian penggeledahan masif terhadap mantan Jampidsus Febrie Adriansyah, Polri memegang kendali ofensif yang kuat.
Namun, berbeda dengan Pangeran Harry yang relatif terisolasi, Kejaksaan Agung merespons dengan memobilisasi dukungan taktis dari TNI. Situasi ini nyaris menjebak negara dalam jalan buntu yang merusak, di mana ego sektoral dua institusi hukum dan satu kekuatan militer dipertontonkan secara vulgar di hadapan publik.
Langkah Kapolri mengulurkan ranting zaitun saat berada di atas angin bukanlah tanda ketakutan, melainkan kalkulasi politik tingkat tinggi. Secara substansial, 'pesan' Polri telah tersampaikan dengan mundurnya Febrie dari jabatan strategisnya di akhir pekan. Melanjutkan konfrontasi hanya akan memicu resistensi yang lebih keras dari aliansi Kejagung-TNI dan merusak citra Polri di mata Presiden.
Berinisiatif mendatangi markas lawan, Kapolri berhasil merebut panggung superioritas moral (moral high ground). Polri membingkai dirinya sebagai jangkar stabilitas yang sudi menekan ego demi kepentingan nasional yang lebih besar. Ranting zaitun ini adalah skenario elegan yang dibungkus dengan senyuman. Kapolri berhasil mengamankan kemenangan sekaligus menyelamatkan muka semua pihak agar konflik tidak melebar menjadi krisis keamanan nasional.
Pada akhirnya, ranting zaitun yang diulurkan di Highgrove House oleh Raja Charles III maupun di Jakarta oleh Jenderal Listyo Sigit Prabowo membuktikan bahwa esensi kekuasaan yang matang adalah kemampuan untuk menahan diri. Dalam konteks Indonesia, arsitektur komunikasi strategis ini menemukan bentuk puncaknya pada falsafah Jawa kuno yang sering dipopulerkan oleh Presiden Soeharto dulu: Menang tanpa ngasorake.
Filosofi ini mengajarkan bahwa keunggulan sejati dicapai bukan dengan menggilas musuh hingga lumat atau mempertontonkan kekalahan mereka di depan umum. Meraih tujuan strategis seraya tetap menjaga kehormatan dan martabat pihak yang ditaklukkan adalah jalan yang lebih tepat. Kata menaklukkan atau ditaklukkan dalam konteks ini juga mungkin tidak terlalu tepat.
Langkah Kapolri mendatangi Kejaksaan Agung dan Mabes TNI adalah manifestasi modern dari menang tanpa ngasorake. Polri berhasil menuntaskan misi penegakan hukumnya, namun alih-alih merayakan superioritas kelembagaan, yang dapat memicu dendam sejarah, Kapolri memilih untuk membawa ranting zaitun ke meja silaturahmi. Di panggung politik Nusantara yang sarat akan budaya rikuh-pekewuh dan harmoni, mengulurkan tangan terlebih dahulu adalah lambang keningratan berpikir. Pada akhirnya, sejarah tidak akan mengingat siapa yang paling keras menggertak dalam konflik Jampidsus ini, melainkan siapa yang memiliki kedewasaan untuk meredam api ego institusi.

