Konten dari Pengguna

Warkop Boengsoe, Bermula dari Tepian Rel Sampai Melesat Melampaui Commuter

Navide Amaluna

Navide Amaluna

Pemuda peranakan putri Priangan dan putra Pakuan yang lahir di bekas pelataran rumah dinas Asisten Residen Lebak, Eduard Dowes Dekker. Mengampu Pendidikan sebagai mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Pamulang.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Navide Amaluna tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Aktivitas Konsumerisme Kawula Muda di Warkop Boengsoe Halte
zoom-in-whitePerbesar
Aktivitas Konsumerisme Kawula Muda di Warkop Boengsoe Halte

Konsumerisme sudah melekat pada budaya masyarakat urban, baik pada kalangan muda maupun tua. Aktivitas mengkonsumsi tidak hanya terbatas pada kegiatan belanja-berbelanja suatu barang, tradisi tongkrong-menongkrong pun merupakan bagian di dalamnya. Tradisi yang identik dengan kawula muda ini marak merambah hampir di tiap kota besar, tak terkecuali di kota Bogor. Kota dengan curah hujan yang tinggi tersebut, tidak membatasi kegiatan vita activa (istilah Hannah Arendt untuk menyebut kehidupan aktif manusia) para anak mudanya untuk berkumpul dan bercengrama dengan komunitasnya masing-masing. Dan, kopi menjadi pendekatan yang mesra untuk mengiringi kebersamaan, ditengah ricik hujan.

Lusa kemarin, Senin, 21 Juli 2025, menggiring langkah saya ke suatu tempat kopi yang kontras dari kedai-kedai kopi pada umumnya.

The Origin of “Boengsoe

Menjamurnya demam coffee shop, ditandai lewat kehadiran kedai-kedai kopi dengan nuansa fancy dan cozy hampir di tiap sudut kota Bogor. Kawula muda mendapat banyak referensi dan variasi tempat yang hendak disambangi. Mulai dari yang menawarkan dekorasi industrial, modern, bahkan vintage. Di Tengah kemegahan konsep, dekor, arsitektuk bangunan kedai-kedai kopi, empat pemuda, Ilham, Agung, Hari, dan Satria, yang saling bersahabat sejak duduk dibangku Sekolah Menengah Pertama itu malah membuat warkop (warung kopi) yang kental dengan kesan sederhana. Putusan yang cukup berani untuk diambil, ditengah moderinitas kedai-kedai kopi, dengan alat-alat canggih, beans yang harganya melangit, sampai penamaan yang beraroma “kebarat-baratan”. Empat serangkai ini malah memilih kembali pada tradisi. Hal tersebut tebal tercermin melalui pemilihan nama kedai yaitu warkop Boengsoe yang menggunakan ejaan lama van Ophuijsen (ejaan yang digunakan prakemerdekaan) dengan padanan “oe” untuk bunyi “u”. Mengutip pengakuan dari Satria Achmad Subagja, salah satu dari empat owner Warkop Boengsoe,

Soal Boengsoe (untuk penamaan kedai), sesimple karena kami berempat anak bungsu (sebutan untuk anak terakhir), gitu aja si… hem, kalo soal ejaan lama, ya, biar keliatan keren, autentik aja gitu, hahaha.

Transformasi Kawasan Bronx jadi Trend Lokasi Hang Out

Picture by Ilham: Tampak Depan Ruko Warkop Boengsoe Sebelum Buka

Bukan hanya itu yang menarik perhatian saya pada kehadiran warkop ini. Konsep tempat yang dipilih, diluar kewajaran kedai-kedai kopi yang cenderung tampil di pusat keramaian kota, depan jalan arteri agar akses mudah dilalui, atau dataran tinggi untuk memberikan sensasi menikmati city light di malam hari. Di tahun 2024, empat seraingkai ini malah memilih lokasi persis di tepian rel kereta listrik dekat stasiun Bogor, tepatnya di bawah flyover Re. Martadinata. Sensasi ekstream yang lumrah didapatkan di Train Street, Hanoi, kini hadir di kota Bogor, hasil kreatifitas pemuda lokal. Beruntungnya, saya tidak hanya bertemu Satria, dalam kunjungan tersebut saya juga bertemu Ilham Ariestu Putra, dua dari keempat punggawa Warkop Boengsoe.

“Awal mula ini (Warkop Boengsoe) diilhami waktu saya berlayar, Waktu itu ada kolega saya yang menanyakan, tentang karir saya kedepannya (di dunia maritim). Dari situ saya mikir, kalo mau sampe kapan saya kayak gini (bekerja di laut). Abis selesai, akhirnya saya hubungi temen-temen buat ngobrolin visi saya buat usaha. Dari obroloan itu, tercetuslah ini (Warkop Boengsoe Rel),” ujar Ilham.

Sebagai lulusan Angkutan Laut, Ilham sempat merasakan kehidupan di laut yang penuh peluh. Atas dasar itu, ilham sebagai punggawa Warkop Boengsoe mengajak ketiga sahabatnya buat mendirikan gurita bisnisnya sendiri di darat. Menurut kisah yang dituturkan Ilham, langkah pertama untuk terjun dan mendirikan bisnis FnB (Food and Beverage)-nya penuh keterbatasan, mulai dari modal awal yang terbatas dan harga sewa tempat yang tak terjangkau. Ilham menyampaikan,

“Hampir dua bulan setelah keputusan kita, saya sempat kebingungan mencari lokasi yang pas. Beruntungnya, saya dapet tempat ini (Lokasi Warkop Boengsoe Rel sekarang). Awalnya ini terbengkalai dan ngga laku. Tapi saya yakin kok bisa.” Terang Ilham pada saya.

Gambar Tampak Warkop Boengsoe Rel Kini

Ruang antara rel dan flyover yang awalnya terkesan kumuh dan identik dengan kawasan bronx mampu disulap menjadi tempat nongkrong kekinian dengan konsep yang lian dari kebanyakan.

Dulu ini (menunjuk gang samping ruko) tempat mabok, terus suka banyak bocah tawuran, sekarang malah makin rame yang buka disini,” tutur Satria.

Warkop Boengsoe menyajikan pengalaman baru bagi masyarakat konsumsi (istilah Jean Baudillard untuk kelompok konsumen di era posmodernisme) mengalami sensasi nongkrong ditemani dengan bisingnya kendaraan dan desing roda besi yang melaju di atas rel. Kendati hanya dengan konsep sederhana dan harga yang terjangkau, Boengsoe mampu mencuri perhatian banyak pengunjung. Tempat bronx ini bisa diubah menjadi tempat kongkow yang instagramable.

Dari Tepi Rel Melesat Menuju Halte

Tampak Depan Warkop Boengsoe Halte

Belum cukup sampai di situ, setelah keberhasilan pertamanya mengelola Warkop Boengsoe Rel, setahun kemudian, tepatnya di bulan April, empat serangkai, berhasil membuka cabang pertamanya. Berbeda dari pendahulunya, warkop Boengsoe Halte (kerap dikenal demikian) hadir dengan wajah modernitas. Kini, Boengsoe berdiri bukan di samping rel, namun tepat di depan Halte Tanah Sareal, samping SMP Negeri 8 Kota Bogor. Wajah baru tersebut tampak dari bangunan heritage dengan penampilan modern, suatu komposisi yang romantik di tengah-tengah rimbunnya suasana Jl. Ahmad Yani. Sambil berkelakar dengan nada candaan, Ilham mengungkapkan alasan, pemelihan lokasi warkop Boengsoe kedua yang berada di depan halte. Ungkap Ilham,

" Kalo ditanya kenapa yang sekarang di halte (sebelumnya di samping rel), mungkin aja pengaruh alam bawah sadar kali ya. Sesuai sama (latar belakang pendidikan) saya yang di transportasi laut, ahahaha."

Tampak Suasana Malam Hari di Warkop Boengsoe Halte

Sepintas dari luar, warkop Boengosoe ini terkesan lebih ekslusif dan mewah dibanding pendahulunya, namun ketika sudah masuk dan mulai memesan, maka kalian akan tahu kalau bangunan yang dimasuki tegas adalah sebuah warung kopi yang penuh kearifan, mulai dari harga yang ramah di kantong sampai kehangatan para pegawainya. Boengsoe memberikan pelajaran kalau meski fisik berubah, namun esensi tidak pernah dihilangkan. Dari kedua kedai yang lahir, Boengsoe selalu tampil dengan keramahan juga kesederhanaan.

Kesan luar biasa dari pertemuan dan perkenalan saya dengan kedua dari salah empat owner Warkop Boengsoe banyak memberikan saya pemelajaran. Warkop pada perjalannnya kental sebagai tempat bergumul kaum “proletar” bisa merambah pangsa pasar kelas menengah bahkan atas. Empat serangkai, Ilham, Satria, Hari, dan Agung, memgajarkan kalau keterbatasan tidak menjadi hambatan untuk mengembangkan kreatifitas, dan Boengsoe telah membuktikan kalau kesederhanaan bisa bertahan ditengah-tengah glamoritas industri FnB modern. Mari kita nantikan apa lagi yang akan ditampilkan Warkop Bongsoe. Semoga si "bungsu", empat serangkai, dapat terus melaju dan melesat seiring waktu.