Menyeruput Lezatnya Limun Oriental khas Pekalongan

Mahasiswa Ilmu Komunikasi / Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Muhammad Tegar Oktavian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pekalongan (22/11) tepatnya di Jalan Rajawali Utara kawasan Jetayu, berdiri sebuah pabrik sekaligus kafe yang memproduksi Limun Oriental Cap Nyonya, minuman ini adalah jenis minuman berkarbonasi lokal yang telah diwariskan hingga generasi kelima. Sejak tahun 1920, usaha ini diwariskan dari Njo Giok Liem kepada keturunannya, dan kini dikelola oleh keturunan keempat, Anna Maria (Njo Kiem Nio), serta calon generasi kelima yaitu Bernardi Sanyoto yang baru saja kembali dari luar negeri.
Di sebuah sudut kota, berdiri pabrik limun rumahan yang sudah beroperasi sejak puluhan tahun lalu. Suasana di dalamnya begitu akrab: deretan botol kaca yang ditata rapi, aroma gula yang direbus, dan denting tutup logam yang dikunci rapat dengan alat pres sederhana. Para peracik limun bekerja dengan ritme yang telah diwariskan dari generasi sebelumnya, mencampur sari buah, gula, dan karbonasi dengan takaran yang tak pernah tercatat hanya diingat oleh tangan-tangan terampil yang telah menua bersama sejarah minuman itu. “Kami menjaganya seperti menjaga keluarga,” ujar salah satu pewaris usaha sambil tersenyum bangga.
Setiap botol limun oriental memiliki karakter yang unik. Ada varian rasa jeruk yang paling klasik, kemudian rosella yang memberi warna merah cerah, hingga pandan yang memiliki aroma lembut namun memikat. Keseluruhan rasa itu membawa penikmatnya menyelami memori lama tentang masa kecil di halaman rumah, tentang perayaan keluarga, atau sekadar tentang hari-hari sederhana yang ditemani minuman manis yang tak pernah berubah. Tak heran jika para perantau asal Pekalongan kerap menjadikan limun oriental sebagai oleh-oleh wajib, seolah membawa pulang sebotol nostalgia.
Kini, di tengah gempuran minuman modern yang berlomba tampil lebih praktis dan instan, limun oriental tetap berdiri tegak sebagai ikon kuliner yang tak lekang oleh waktu. Mungkin rahasianya ada pada kesederhanaan, atau mungkin pada ketulusan para pembuatnya yang menjaga tradisi tanpa merasa harus tergesa-gesa mengikuti pasar. Yang jelas, siapa pun yang mencicipinya akan sepakat: ada cerita yang ikut mengalir di setiap tegukan.
Ketika botol kaca itu dibuka disambut letupan kecil dari gas yang melarikan diri hadirlah sensasi yang membuat banyak orang kembali jatuh cinta. Segelas limun oriental bukan hanya tentang rasa, tetapi tentang perjalanan panjang sebuah kota yang merawat identitasnya melalui hal-hal kecil yang tetap setia pada asalnya. Di Pekalongan, kesegaran kadang bisa ditemukan dalam bentuk paling sederhana: sebotol limun yang tetap setia menunggu untuk dinikmati.
Muhammad Tegar Oktavian - Mahasiswa Ilmu Komunikasi - Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
