Kumparan Logo

Anak Down Syndrome Meninggal Diduga Di-bully, Sudahkah Anak Diajari Empati?

kumparanMOMverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Selaras Abdul Wahid (53), ayah Z (10), bocah dengan Down syndrome yang meninggal dan diduga menjadi korban perundungan, saat ditemui di rumahnya di Rungkut, Surabaya, Sabtu (17/10/2026).  Foto: Farusma Okta Verdian/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Selaras Abdul Wahid (53), ayah Z (10), bocah dengan Down syndrome yang meninggal dan diduga menjadi korban perundungan, saat ditemui di rumahnya di Rungkut, Surabaya, Sabtu (17/10/2026). Foto: Farusma Okta Verdian/kumparan

Kasus meninggalnya anak berusia 10 tahun denganddo di Surabaya yang diduga menjadi korban kekerasan menjadi pengingat penting bagi orang tua untuk mengajarkan anak menghargai perbedaan dan menumbuhkan empati sejak dini.

Kabar ini mencuat setelah keluarga menduga korban menjadi sasaran kekerasan yang dilakukan oleh dua anak tetangganya. Ibu korban menemukan anaknya tersungkur di teras rumah dengan tali sepatu di leher dan sisa sabun colek di mulut.

Bocah penderita down syndrome asal Kecamatan Rungkut, Surabaya, berinisial Z (10) meninggal dunia diduga dibully oleh 2 anak tetangganya. Foto: Dok. Istimewa

Keluarga kemudian memeriksa rekaman CCTV di jalan dan mendapati dua anak masuk ke rumah korban secara bergantian. Menurut keluarga, sekitar seminggu sebelumnya, kedua anak tersebut juga diduga sempat mengalungkan tali tampar ke pundak korban. Polisi saat ini masih mengusut kasus tersebut.

Psikolog Madeline Jessica, M.Psi, Psikolog, menjelaskan bahwa orang tua dapat memulai pendidikan empati dengan mengenalkan kepada anak bahwa setiap orang memiliki karakteristik, kemampuan, dan kebutuhan yang berbeda.

Ilustrasi perundungan atau bullying. Foto: aslysun/Shuttterstock

“Orang tua dapat memulainya dengan menjelaskan bahwa setiap anak memiliki karakteristik, kemampuan, dan kebutuhan yang berbeda, tetapi semuanya berhak dihormati dan diperlakukan dengan baik, termasuk anak dengan down syndrome atau kebutuhan khusus lainnya,” ucap Madeline saat dihubungi kumparanMOM, Minggu (18/10).

Cara Orang Tua Mengajarkan Anak Menghargai Perbedaan

-Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah menggunakan buku cerita, film animasi, atau video yang mengangkat tema persahabatan dan kehidupan anak berkebutuhan khusus. Setelah membaca atau menonton bersama, orang tua dapat mengajak anak berdiskusi mengenai perasaan tokoh dalam cerita.

Ajarkan anak untuk tidak tinggal diam dan berani mempertahankan kebenaran Foto: Shutterstock

Misalnya, orang tua bisa bertanya, “Menurut kamu, bagaimana perasaan tokoh itu ketika dijauhi teman-temannya?” atau “Kalau kamu melihat kejadian seperti ini, apa yang bisa kamu lakukan?” Menurut Madeline, cara tersebut dapat membantu mengembangkan perspective-taking, yaitu kemampuan memahami sudut pandang orang lain.

-Selain itu, orang tua bisa mengajak anak bermain peran atau role-play, misalnya berlatih mengajak teman yang sering sendirian untuk bermain bersama atau merespons ketika melihat seseorang diejek. Kesempatan bermain dalam kelompok yang inklusif juga dapat membantu anak memahami bahwa setiap orang memiliki kelebihan, tantangan, dan kebutuhan yang berbeda.

Ilustrasi perundungan (dibully) atau bullying. Foto: Shutterstock

“Ketika anak melontarkan ejekan, jangan hanya memarahinya. Bantu ia memahami dampak perkataannya, menetapkan batas bahwa perilaku tersebut tidak dapat diterima, dan memikirkan cara memperbaiki kesalahannya,” ujar Madeline.

Nilai-Nilai yang Perlu Ditanamkan agar Anak Tidak Melakukan Bullying

Selain mengajarkan anak menghargai perbedaan, ada beberapa nilai yang perlu dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari agar anak tidak tumbuh menjadi pelaku perundungan atau bullying.

Menurut Madeline, berikut tiga nilai penting yang bisa ditanamkan orang tua kepada anak:

Ilustrasi kedekatan orang tua dan anak. Foto: LightField Studios/Shutterstock

-Empati dan kepedulian: Membantu anak memahami perasaan orang lain dan menyadari bahwa perkataan maupun tindakannya dapat menyakiti seseorang.

-Menghargai perbedaan dan tanggung jawab: Mengajarkan anak bahwa setiap orang memiliki martabat yang sama, serta membiasakannya berani mengakui kesalahan dan memperbaikinya.

-Keberanian moral: Membiasakan anak untuk tidak ikut menertawakan atau mengejek orang lain demi diterima oleh kelompoknya. Jika melihat temannya mengalami bullying, anak perlu tahu cara mencari bantuan orang dewasa yang dipercaya.

Madeline menekankan bahwa pencegahan bullying bukan hanya menjadi tanggung jawab anak dan orang tua, tetapi juga sekolah serta lingkungan sekitar.

Ilustrasi perundungan (dibully) atau bullying. Foto: Shutterstock

“Kita tidak hanya ingin membesarkan anak yang tidak melakukan bullying, tetapi juga anak yang berani menghargai perbedaan, menolak ketidakadilan, dan membela orang lain dengan cara yang aman,” tuturnya.

Pada akhirnya, empati tidak cukup diajarkan melalui nasihat. Anak perlu melihat contoh nyata dari orang tua, berlatih dalam kehidupan sehari-hari, dan mendapatkan penguatan secara konsisten agar terbiasa menghargai perbedaan serta memperlakukan orang lain dengan baik.

kumparan post embed