Kumparan Logo

Dampak Bullying pada Anak

kumparanMOMverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
10
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi anak sedih, anak stres, anak jadi korban bully. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak sedih, anak stres, anak jadi korban bully. Foto: Shutterstock

Bullying atau perundungan pada anak merupakan salah satu hal yang perlu diwaspadai orang tua. Ya Moms, selain di sekolah, kasus bullying juga kerap terjadi di lingkungan rumah. Jika hal ini tidak segera diatasi, maka dapat memengaruhi kondisi emosi dan sosial anak.

Dikutip dari instagram resmi Ikatan Dokter Indonesia (IDAI), kasus bullying pada anak di Indonesia diibaratkan seperti fenomena gunung es. Artinya, jumlah kasus yang sebenarnya lebih banyak karena sebagian kasus tidak dilaporkan.

Di Indonesia, per Mei 2018, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat bahwa di antara 161 kasus pendidikan, bullying menempati urutan pertama dengan jumlah kasus terbanyak, yaitu sekitar 22,4 persen kasus anak korban bullying, dan 25,5 persen kasus anak pelaku bullying.

Ilustrasi bullying di sekolah. Foto: Shutter Stock

Senada dengan hal itu, menurut laporan UNESCO pada Januari 2019, satu dari tiga anak di seluruh dunia pernah menjadi korban bullying di sekolah setidaknya satu kali. Lantas, apa dampaknya?

Apa Saja Dampak Bullying pada Anak?

IDAI menyebut, bullying tak melulu berbicara soal korban, melainkan juga pada pelaku dan saksi. Ya Moms, anak-anak juga tak selalu menjadi korban, tetapi kerap juga menjadi pelaku dan saksi perundungan itu.

Dampak pada anak yang menjadi korban bullying 

ilustrasi anak berbuat salah Foto: Shutterstock
  • Menurut laporan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) pada 2019, anak yang menjadi korban bullying berisiko lebih tinggi mengalami depresi, kecemasan, kesulitan tidur, penurunan prestasi akademik, bahkan mengalami putus sekolah. 

  • Anak yang menjadi korban bullying cenderung mengalami gangguan fisik, psikologis, dan penurunan rasa percaya diri. 

  • Bullying juga dapat menimbulkan rasa trauma, tidak mampu menyerang balik, merasa sendiri, serba salah, dan takut bersosialisasi. 

  • Anak yang menjadi korban bullying juga cenderung mengasingkan diri, mengalami ketakutan sosial, hingga timbul keinginan bunuh diri.

Dampak pada anak yang melakukan bullying

Ilustrasi anak yang melakukan bullying. Foto: Shutter Stock
  • Anak yang melakukan bullying berisiko lebih tinggi untuk menggunakan narkoba, mengalami masalah akademis dan kekerasan di usia dewasa. 

  • Selain itu, pelaku bullying juga berisiko lebih besar mengalami masalah mental dan perilaku, berwatak keras, mudah marah, impulsif, dan mudah frustasi. 

  • Cenderung bersifat agresif dengan perilaku yang pro terhadap kekerasan.

Dampak pada anak yang menjadi saksi bullying 

Ilustrasi anak yang menjadi saksi bullying. Foto: narikan/Shutterstock
  • Anak yang menyaksikan perilaku bullying berisiko mengalami masalah psikologis jangka panjang. 

  • Rentan mengalami kecemasan, depresi, penyalahgunaan obat-obatan dan alkohol. 

  • Saksi bullying cenderung mengalami rasa takut yang berlebih, tidak nyaman, rasa bersalah, dan perasaan tidak bersalah.

Nah Moms, bila hal tersebut cenderung mengganggu aktivitas sehari-hari si kecil, bahkan sampai memengaruhi tumbuh kembangnya, tak ada salahnya untuk berkonsultasi dengan psikolog agar mendapatkan penanganan atau solusi yang tepat.

kumparan post embed