Kisah Kea, Penulis Cilik di Karya Raya 2026: Belajar Melepas Juga Bentuk Cinta

Ada yang menarik dari Karya Raya 2026. Anak-anak tak hanya datang untuk membaca atau melihat buku, tetapi juga menjadi penulis dari cerita mereka sendiri.
Lebih dari 2.000 karya anak dipamerkan di Perpustakaan Jakarta, Taman Ismail Marzuki. Salah satunya adalah karya Kea, penulis cilik yang menuangkan cerita tentang seekor capung jarum ke dalam buku berjudul Melepas Itu Cinta.
Saat ditemui kumparanMOM di Taman Ismail Marzuki pada Jumat (11/9), Kea dengan antusias menceritakan isi bukunya. Dalam cerita tersebut, ada seorang anak bernama Kiara yang sangat ingin memelihara seekor capung jarum. Namun, setelah mendapatkannya, Kiara justru dihadapkan pada pilihan: menjaga atau melepaskan. Pada akhirnya, Kiara memilih untuk melepaskan capung tersebut.
“Karena melepas itu juga cinta,” kata Kea kepada kumparanMOM.
Bagi Kea, proses membuat buku ini juga tidak dilakukan sendirian. Sang mami ikut membantu, terutama dalam hal yang memang kurang disukai Kea, seperti mewarnai.
“Mami bantuin aku warnain. Soalnya mami tahu aku nggak suka ngewarnain,” ujar Kea.
Berawal dari Suka Membaca dan Menggambar
Kecintaan Kea terhadap cerita ternyata sudah terlihat sejak lama. Sang ibu, yang melihat Kea gemar membaca dan menggambar, sering dibuat penasaran dengan gambar-gambar yang dibuat putrinya.
“Kadang saya lihat gambarnya dia, banyak tanda tanya ini apa, gambar apa. Dia bercerita dengan penuh semangat,” cerita Ibu Kea, Astrid.
Menurutnya, cerita-cerita yang dibuat Kea terasa sayang jika hanya didengarkan oleh dirinya sendiri. Dari situlah ia kemudian menawarkan Kea untuk menuangkan ceritanya menjadi sebuah buku.
“Jadi saya tawarin, mau nggak dibukuin? Kamu bisa jadi penulis, dibaca oleh teman-teman yang lain,” lanjutnya.
Karya Raya bukan pengalaman pertama Kea. Tahun ini menjadi tahun ketiganya mengikuti kegiatan tersebut. Pada tahun pertama, Kea mengikuti lomba dongeng. Setahun kemudian, ia mulai membuat buku pertamanya. Sementara Melepas Itu Cinta menjadi buku keduanya.
Menariknya, cerita dalam buku kedua Kea ternyata terinspirasi dari pengalaman nyata. Suatu ketika, sang nenek membawa pulang seekor capung jarum di dalam kantong plastik untuk Kea yang memang menyukai serangga.
Kea sempat merasa senang karena akhirnya memiliki “teman”. Namun, keluarga kemudian menjelaskan bahwa capung tersebut sebaiknya dilepaskan karena bukan hidup di lingkungan seperti manusia dan bisa mati jika terus dipelihara. Pengalaman itu kemudian membekas bagi Kea dan ia memilih menjadikannya sebuah cerita.
Tantangan: Menahan Diri untuk Tidak Terlalu Banyak Mengarahkan
Mendampingi anak membuat buku ternyata bukan sekadar membantu menyelesaikan gambar atau mewarnai. Bagi sang ibu, tantangan terbesar justru adalah menahan diri agar tidak terlalu banyak memasukkan ide orang dewasa ke dalam karya anak.
“Kadang kita ingin membetulkan, ingin sempurna, ingin warnanya sesuai kita. Untuk bisa menahan dan menghargai pilihan dia, itu sebenarnya tantangan terbesarnya,” tuturnya.
Karena itu, sang ibu lebih banyak membantu dengan memberikan pertanyaan. Misalnya, mengajak Kea berpikir tentang alasan tokoh melakukan sesuatu atau mengapa sebuah kejadian terjadi. Dengan begitu, ide dan jawaban tetap berasal dari Kea sendiri.
Proses pembuatan buku keduanya pun berlangsung sekitar satu bulan. Tidak selalu dilakukan setiap hari, tetapi keduanya sudah menentukan waktu khusus untuk mengerjakannya.
Dari sebuah pengalaman sederhana tentang seekor capung jarum, Kea akhirnya punya sebuah buku yang bisa dibaca banyak orang. Lebih dari sekadar menghasilkan karya, proses ini juga menjadi ruang bagi Kea untuk belajar bercerita, mengambil keputusan, sekaligus memahami bahwa terkadang mencintai bukan berarti harus memiliki. Sebab, seperti judul bukunya, melepas juga bisa menjadi bentuk cinta.
