Kumparan Logo

Liburan Berdua Pasangan Bisa Jadi Cara Merawat Pernikahan

kumparanMOMverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi suami istri quality time tanpa anak. Foto: Odua Images/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi suami istri quality time tanpa anak. Foto: Odua Images/Shutterstock

Belakangan ini, media sosial ramai membahas anggapan bahwa pasangan suami istri yang liburan berdua tanpa anak, bukan berarti sedang foya-foya. Banyak warganet menilai, momen tersebut justru bisa menjadi cara untuk "maintenance" hubungan agar tetap harmonis.

embed from external kumparan

Lantas, benarkah liburan berdua pasangan bisa menjadi kunci menjaga keharmonisan rumah tangga?

Menurut Psikolog Anak dan Keluarga, Roslina Verauli, M.Psi, Psikolog, liburan bersama memang bisa menjadi momen berkualitas bagi pasangan. Namun, keharmonisan rumah tangga sebenarnya tidak hanya dibangun melalui momen-momen besar seperti liburan.

Keharmonisan Juga Bisa Dibangun dari Hal-Hal Kecil

Ilustrasi pasangan suami istri. Foto: Shutterstock

Roslina menjelaskan, secara psikologis hubungan suami istri justru semakin kuat melalui interaksi sederhana yang dilakukan secara konsisten setiap hari. Konsep ini dikenal sebagai bids for connection, yaitu berbagai bentuk usaha kecil untuk tetap terhubung dengan pasangan, seperti:

-Sarapan bersama tanpa gadget

-Meluangkan waktu mengobrol

-Saling menggenggam tangan

-Memberi pelukan

“Jadi sentuhan-sentuhan efektif yang sifatnya non-seksual ya. Jadi nggak mesti yang gede-gede pergi liburan gitu kan ya, jauh. Meskipun sebetulnya itu kayak making moment, ya nggak ada salahnya. It's okay,” ucap Verauli saat dihubungi kumparanMOM, Kamis (25/6).

Ilustrasi suami istri berpelukan. Foto: Shutterstock

Memahami Fase Transisi Pernikahan

Selain itu, Verauli juga menjelaskan, sebenarnya tidak ada tahun kritis yang pasti dalam pernikahan. Ia lebih memilih menyebutnya sebagai fase transisi, yaitu masa ketika pasangan harus beradaptasi dengan perubahan dalam kehidupan rumah tangga.

Salah satu fase yang cukup menantang adalah satu hingga dua tahun pertama setelah menikah. Pada masa ini, pasangan mulai keluar dari fase bulan madu dan menghadapi realitas kehidupan bersama.

Ilustrasi suami mencium istri. Foto: Shutter Stock

“Paling utama sering kali fase setelah punya anak, misalnya anak pertama lahir. Itu juga adalah perubahan fase yang kritis, transisi kritis karena orang tua yang tadinya jadi suami istri, sekarang berubah peran dan tanggung jawabnya jadi ayah ibu,” tuturnya.

Kemudian, banyak penelitian demografis menunjukkan perceraian cukup sering terjadi sekitar tahun ketujuh hingga kedelapan pernikahan. Menurut Roslina, kondisi tersebut bukan berarti semua pasangan pasti mengalami krisis, melainkan karena rutinitas dapat membuat suami dan istri perlahan merasa berjarak secara emosional.

Jadi yang terpenting bukanlah menghitung usia pernikahan atau menunggu momen liburan. Keharmonisan rumah tangga justru dibangun melalui komunikasi, perhatian, dan kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan bersama setiap hari.

kumparan post embed