Sepucuk Surat untuk Dirimu di Bulan Ramadan

Guru di Sekolah IAS Al-Jannah
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Eko Suryo Pranoto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Anakku tersayang. Ramadan sudah tiba. Mungkin saat ini kamu sedang menatap jam, menghitung detik demi detik menuju waktu Magrib, atau mungkin kamu sedang merasa sedikit lemas di bangku, atau di tempat tidurmu tak berdaya. Ayah dan ibu ingin membisikkan satu hal ke telingamu, “Ramadan buka seberapa hebat kamu menahan lapar.”
Kita sering mendengar bahwa puasa itu “ujian”. Tapi tahukah kamu apa ujian yang sebenarnya? Bukan ujian perut, melainkan ujian hati. Saat ini, kamu sedang berada di sebuah laboratorium hebat untuk mengenal siapa dirimu yang sebenarnya.
Hari ini, kamu membuktikan bahwa kamu adalah seorang yang luar biasa. Kamu memiliki akses untuk minum atau makan secara sembunyi-sembunyi, tapi kamu memilih untuk tidak melakukannya. Itu artinya, kamu memiliki kendali atas dirimu sendiri. Kamu lebih kuat daripada keinginanmu. Di dunia yang serba cepat ini, kemampuanmu untuk berkata “nanti dulu” adalah kekuatan super yang akan membawamu menjadi seorang pemenang di masa depan.
Saat perutmu “keroncongan”, cobalah untuk mendengarkannya. Rasa lapar itu adalah bahasa Tuhan agar kita memiliki empati. Di luar sana, ada teman-teman kita yang memiliki rasa lapar, tidak memiliki makanan untuk dimakan. Hari ini, kamu tidak hanya sedang beribadah, sesungguhnya kamu sedang belajar menjadi manusia yang memiliki perasaan. Jangan biarkan lapar membuatmu marah, namun jadikan lapar sebagai kelembutan bagi sesama.
Ayah dan ibu tidak bisa selalu mengawasimu, ayah dan ibu memiliki keterbatasan untuk memantaumu. Ayah dan ibu tidak selalu ada disampingmu. Namun berkat Ramadan, kamu memiliki integritas yang tinggi. Kamu belajar jujur bukan karena takut dihukum, tapi karena kamu tahu ada “mata” yang selalu melihatmu dengan penuh cinta.
Anakku, jangan hanya fokus pada “kapan waktu berbuka?”. Fokuslah pada siapa dirimu saat sedang berpuasa. Apakah kamu masih bisa tersenyum saat lelah? Apakah kamu masih mau membantu temanmu di saat lemas? Apakah kamu bisa manahan lisanmu dari kata-kata yang menyakitkan? Itulah kemenangan yang sebenarnya. Kami bangga padamu, bukan karena kamu sanggup tidak makan seharian, tapi kami bangga karena kamu sedang berjuang menjadi versi terbaik dalam hidupmu.
Selamat bertumbuh di Sekolah Ramadan. Kami menanti pancaran cahaya kebaikan dari hatimu.
