Laki-Laki Selalu Salah: Antara Stereotip Gender, Relasi Kuasa, & Realita Sosial

Penulis lepas di bidang teknologi, gaya hidup, dan inovasi lingkungan. Mahasiswa Data Science, Telkom University.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Eky Ayu Veriska tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“Laki-laki selalu salah.” Ungkapan ini mungkin sudah sering kita dengar. Ada yang mengucapkannya secara bercanda, ada pula yang dalam hati membenarkannya. Tapi, pernahkah kita benar-benar berpikir, mengapa kalimat ini begitu sering diulang? Mengapa laki-laki kerap diposisikan sebagai pihak yang harus memikul kesalahan di akhir? Kalimat ini tak hanya terdengar dalam hubungan asmara, tapi juga muncul dalam dinamika kerja, pertemanan, hingga kehidupan sosial secara umum. Ia hadir dalam berbagai bentuk seperti lelucon, sindiran, hingga argumen dalam perdebatan serius. Meski sekilas tampak remeh, ungkapan ini sesungguhnya mencerminkan bagaimana masyarakat membentuk persepsi tentang gender, kekuasaan, dan tanggung jawab.
Stereotip ini bukan sekadar gurauan basi yang terwariskan dari generasi ke generasi. Ia tumbuh dari struktur relasi yang mengharuskan laki-laki selalu tampil tangguh, rasional, dan mampu mengambil alih situasi. Ketika ekspektasi tersebut tidak terpenuhi, cap “salah” pun mudah disematkan. Maka sebelum kita menilai ungkapan ini hanya sebagai bahan bercandaan, penting untuk menelaah lebih dalam: mengapa frasa ini bisa bertahan begitu lama dan terasa begitu benar dalam banyak kondisi?
Tekanan Sosial dan Beban Maskulinitas
Sejak kecil, laki-laki kerap dibentuk dengan narasi tentang seperti apa seharusnya menjadi “laki-laki sejati.” Tidak boleh cengeng, harus kuat, jadi pemimpin, dan pandai menahan emosi. Standar ini menciptakan tekanan tersendiri. Ketika mereka gagal memenuhi ekspektasi tersebut, seperti gagal meredakan konflik atau gagal bersikap rasional, mereka dianggap gagal sebagai laki-laki.
Dalam psikologi sosial, tekanan ini disebut "normative masculinity pressure" yakni tekanan sosial terhadap laki-laki untuk selalu tampil kuat, yang justru membuat mereka lebih rentan terhadap kemarahan, agresi, atau menarik diri dari lingkungan.
Mengapa Laki-Laki Sulit Mengakui Kesalahan?
Pernah mendengar lelucon, “Kalau laki-laki benar, perempuan tetap benar. Kalau perempuan salah, balik ke pasal satu”? Meski terdengar lucu, ada kenyataan sosial di baliknya. Studi menunjukkan bahwa dalam konflik, laki-laki cenderung lebih cepat dituntut untuk bertanggung jawab karena dianggap sebagai pihak yang dominan.
Penelitian Catalyst (2020) menunjukkan bahwa laki-laki sering mendapat beban tanggung jawab lebih besar dalam konflik, terutama dalam posisi kepemimpinan atau relasi personal. Sementara itu, data dari National Domestic Violence Hotline mengungkapkan bahwa banyak laki-laki korban kekerasan emosional memilih untuk tidak melapor karena takut dianggap lemah atau tidak dipercaya.
Dalam dunia kerja, studi Bowles & Babcock (2007) menemukan bahwa laki-laki yang terlalu tegas dalam negosiasi bisa dianggap agresif, sedangkan perempuan dengan sikap serupa justru dipandang profesional. Ini dikenal sebagai “double bind” dalam persepsi sosial.
Sistem Sosial dan Ekspresi Emosional
Banyak laki-laki tidak terbiasa menunjukkan emosi seperti sedih, takut, atau kecewa karena sejak kecil diajarkan bahwa itu adalah tanda kelemahan. Ketika mereka menghadapi konflik, mereka kesulitan mengungkapkan perasaan dengan jelas. Akhirnya, yang muncul adalah sikap diam, menyerah, atau bahkan kemarahan.
Robert Sapolsky, dalam bukunya Behave, menjelaskan bahwa hormon testosteron memang bisa meningkatkan kecenderungan bersikap kompetitif dan agresif, terutama dalam situasi ancaman. Namun, faktor sosial seperti lingkungan, ekspektasi gender, dan relasi kekuasaan memiliki pengaruh besar terhadap bagaimana seseorang merespons situasi emosional.
Emosi yang Sulit Diungkapkan
Sering kali laki-laki dianggap tidak peka atau cuek. Padahal, banyak dari mereka sebenarnya kesulitan dalam mengekspresikan perasaan karena tidak pernah diajarkan caranya. Akibatnya, komunikasi dalam hubungan menjadi tidak seimbang. Perempuan merasa tidak didengar, sementara laki-laki merasa terus disalahkan.
Dalam kondisi seperti ini, muncullah frasa “laki-laki selalu salah.” Tapi sebenarnya, ini bukan hanya soal benar atau salah, melainkan tentang komunikasi yang tidak seimbang akibat tekanan sosial yang tidak disadari.
Lalu, Apa Solusinya?
Kalimat “laki-laki selalu salah” bukan cuma lelucon yang sering kita dengar, tapi juga gambaran dari tekanan sosial dan cara pandang yang sudah lama terbentuk. Jika terus dipercayai tanpa dipikirkan ulang, kalimat ini bisa merusak hubungan, memperkuat salah paham, dan membuat laki-laki enggan terbuka. Padahal, persoalan ini bukan soal siapa yang salah atau benar, tapi bagaimana kita semua—baik laki-laki maupun perempuan—dibentuk oleh norma dan harapan yang sering kali tidak adil.
Karena itu, penting untuk menciptakan ruang yang aman, di mana laki-laki bisa belajar mengekspresikan emosi tanpa takut dihakimi. Kita juga perlu saling belajar memahami, bukan hanya menuntut. Hubungan yang sehat dibangun dari komunikasi yang jujur, saling mendengarkan, dan keinginan untuk tumbuh bersama. Bukan dari saling menyalahkan atau bertahan dalam pola lama yang rumit.
Sumber:
Archer, J. (2006). Testosterone and human aggression: An evaluation of the challenge hypothesis.
Sapolsky, R. M. (2017). Behave: The biology of humans at our best and worst.
Mahalik, J. R., et al. (2003). Masculinity scripts, presenting concerns, and help seeking.
Catalyst (2019). Men and interpersonal conflict in workplace settings.
Tannen, D. (1990). You just don't understand: Women and men in conversation.
