Konten dari Pengguna

Beban KB Tak Melulu di Pundak Istri: Saatnya Suami Pahami Mitos Vasektomi

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Damri Hasibuan (Uda) tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Vasektomi. Foto: Viktor Duks/pexels.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Vasektomi. Foto: Viktor Duks/pexels.

Pernahkah Anda memperhatikan percakapan di ruang tunggu fasilitas kesehatan ketika topik Keluarga Berencana (KB) dibicarakan? Hampir seluruh bangku antrean didominasi oleh kaum perempuan.

Ada yang mengeluhkan migrain hebat akibat suntik hormon bulanan. Lonjakan berat badan tak terkontrol karena pil kontrasepsi harian, hingga rasa nyeri dan perdarahan berkepanjangan akibat pemasangan alat kontrasepsi dalam rahim (IUD).

Di sisi lain, sang suami kerap menunggu santai di luar ruangan. Seolah urusan merencanakan keturunan dan menanggung risiko biologis pembatasan kehamilan adalah kewajiban tunggal milik istri semata.

Ketimpangan beban ini bukan lagi sekadar rahasia umum di ruang domestik, melainkan realitas sosial yang tercatat jelas secara medis. "Krisis kesehatan reproduksi global hari ini berada pada titik yang mengkhawatirkan.

Data terbaru menunjukkan bahwa sekitar 121 juta wanita di seluruh dunia mengalami kehamilan yang tidak direncanakan setiap tahunnya. Angka tragis ini berarti hampir setengah dari total seluruh kehamilan di bumi terjadi di luar rencana dan kesiapan pasangan.

Lebih memprihatinkan lagi, jutaan wanita terpaksa menghentikan atau gagal mencapai efektivitas optimal dalam program KB mereka akibat ketidakcocokan tubuh terhadap metode hormonal.

Tubuh perempuan terus-menerus dipaksa berkompromi dan menanggung efek samping zat kimia sintetis demi mencegah konsepsi sendirian. Padahal, reproduksi adalah kerja sama dua insan: sperma dan sel telur. Lantas, mengapa urusan menutup pintu kehamilan hampir selalu dipikul oleh rahim perempuan?"

Membongkar Ketakutan Pria terhadap Mitos Kebiri

Salah satu alasan terbesar mengapa partisipasi pria dalam program KB mandiri di Indonesia sangat minim adalah berkembangnya mitos keliru mengenai vasektomi. Di warung kopi hingga grup obrolan digital, vasektomi kerap disalahartikan secara serampangan sebagai pengebirian.

Sebagian pria membayangkan bahwa menjalani vasektomi berarti kehilangan kejantanan, hilangnya dorongan seksual, hingga ketakutan menjadi impoten seumur hidup.

Secara anatomi klinis, ketakutan tersebut merupakan salah paham yang keliru. Vasektomi bukanlah pemotongan testis atau pembuangan organ reproduksi. Prosedur medis ini hanyalah tindakan bedah minor berdurasi singkat—sekitar 15 hingga 25 menit—untuk memotong atau mengikat saluran vas deferens.

Saluran ini berfungsi mengalirkan sel sperma dari testis menuju saluran prostat. Pengerjaannya dilakukan dengan anestesi lokal dan secara teknis medis jauh lebih ringan serta lebih minim komplikasi dibanding operasi sirkumsisi (khitan) pada pria dewasa.

Setelah vasektomi, apakah pria kehilangan kemampuan ejakulasi? Jawabannya sama sekali tidak. Kelenjar prostat dan vesikula seminalis tetap memproduksi cairan semen seperti biasa. Pria yang telah divasektomi tetap mampu ereksi, mengalami ejakulasi, dan mencapai klimaks seksual secara normal.

Perbedaannya hanya satu, cairan ejakulasi tersebut kini steril tanpa mengandung sel sperma, sehingga sel telur tidak akan dibuahi saat berhubungan intim.

Berbagai riset kesehatan reproduksi membuktikan bahwa vasektomi tidak menyebabkan disfungsi ereksi. Tidak menurunkan kadar hormon testosteron, serta tidak memicu penyakit sistemik kronis seperti kanker prostat atau gangguan kardiovaskular.

Keluhan disfungsi seksual yang dialami sejumlah pria pascaoperasi umumnya dipicu oleh faktor komorbiditas lain, seperti stres psikologis, kebiasaan merokok, obesitas, atau konsumsi alkohol berlebih, bukan akibat pemotongan saluran vas deferens itu sendiri.

Wujud Nyata Kesetaraan Domestik

Di era modern, komitmen pernikahan tidak hanya diuji dari kecukupan nafkah finansial, melainkan juga dari kesiapan suami berbagi beban kesehatan dengan pasangan.

Selama berpuluh-puluh tahun, istri telah menanggung beban biologis yang masif. Mengandung selama sembilan bulan, mempertaruhkan nyawa di ruang bersalin, menyusui anak, hingga menelan pil hormon yang mengacaukan metabolisme tubuhnya.

Ketika sebuah keluarga telah bersepakat bahwa jumlah anak dirasa cukup—baik atas pertimbangan ekonomi, usia, maupun keselamatan raga sang istri—mengapa beban kontrasepsi permanen harus kembali dijatuhkan ke pundak perempuan melalui operasi tubektomi yang membutuhkan pembedahan perut besar?

Memilih vasektomi adalah wujud nyata kepedulian suami yang paling elegan. Mengambil alih peran kontrasepsi melalui tindakan medis yang sangat minim invasif ini adalah bentuk cinta praktis. Membebaskan tubuh istri dari siklus hormonal yang melelahkan dan memberinya ruang bernapas untuk memulihkan kebugaran raga.

Rumah tangga yang sehat berakar pada komunikasi terbuka dan keadilan peran. Menjadi akseptor KB pria bukan tanda kelemahan, melainkan bukti kedewasaan seorang suami yang berani bertanggung jawab melindungi keselamatan belahan jiwanya.