Konten dari Pengguna

Kacamata Izutsu: Bagaimana Kata Salat Merevolusi Pikiran Bangsa Arab

Ilustrasi naskah manuskrip Arab kuno. Foto: Osman Ozavci/pexels.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi naskah manuskrip Arab kuno. Foto: Osman Ozavci/pexels.

Bagaimana sebuah kitab suci dulu mampu mengubah peradaban bangsa pengembara gurun yang terbelakang menjadi mercusuar peradaban dunia hanya dalam rentang waktu dua dekade? Pertanyaan ini memikat banyak pemikir lintas zaman. Salah satu analisis paling cemerlang dan berpengaruh lahir dari sarjana linguistik terkemuka asal Jepang, lulusan Fakuktas Sastra Inggris Universitas Keio, Toshihiko Izutsu (L. 1914, W. 1993)

Izutsu menguasai filsafat dan puluhan bahasa asing. Dalam dua buku utamanya, God and Man in the Qur'an dan Ethico-Religious Concepts in the Qur'an, Izutsu menjelaskan bahwa Al-Qur'an tidak menciptakan kosakata dari ruang hampa. Al-Qur'an menggunakan kata-kata lama yang sudah lazim diucapkan orang Arab sehari-hari, lalu menatanya kembali ke dalam kerangka makna yang baru.

Melalui pendekatan makna bahasa dari Izutsu, tampak jelas bagaimana satu kata kunci—yaitu kata salat—berhasil membongkar cara pandang lama masyarakat Arab pra-Islam dan membangun tatanan hidup beriman yang mengubah arah sejarah.

Membongkar Kosakata Kuno dengan Pisau Semantik

Dalam kerangka metodologi semantik struktural Izutsu, sebuah kata harus dibedah melalui dua lapisan analitik: makna dasar (basic meaning) dan makna relasional (relational meaning).

  • Makna dasar adalah nilai konseptual murni yang melekat secara inheren pada sebuah kata di mana pun ia diletakkan, bahkan sebelum kata itu bersentuhan dengan sistem teks tertentu. Sebagaimana ditunjukkan dalam riset leksikografi, kata al-ṡalah mulanya berakar pada makna dasar permohonan (al-du'a') dan pemanggangan api guna meluruskan kayu.

  • Makna relasional adalah arti baru yang muncul ketika sebuah kata masuk ke dalam susunan kalimat, berdampingan dengan kata-kata lain, dan mengikuti aturan tata bahasa di sekitarnya.

Al-Qur'an meminjam kata salat dari kebiasaan orang Arab pra-Islam, tetapi tidak membiarkan maknanya tetap liar dan melulu soal urusan duniawi. Al-Qur'an menertibkan kata ini lewat rangkaian kalimat yang teratur: memasangkannya dengan kata depan tertentu (seperti 'ala, li, dan 'an), serta menggandengkannya secara khusus dengan kata kerja iqāmah (mendirikan).

Lewat susunan kata yang saling mengikat ini, arti salat berubah total: dari yang tadinya cuma komat-kamit doa demi keuntungan pribadi, menjadi ibadah suci yang menjaga tata nilai dan akhlak hidup manusia.

Runtuhnya Sekat Berhala Menuju Dialog Langsung

Izutsu memetakan relasi fundamental antara Tuhan dan manusia di dalam Al-Qur'an ke dalam empat poros: relasi ontologis, relasi komunikatif, relasi tuan-hamba, serta relasi etis. Keempat poros relasi ini terkonsolidasi secara harmonis melalui leksikon salat.

Perubahan paling mendasar terjadi pada cara manusia berkomunikasi dengan Sang Pencipta. Masyarakat Arab pra-Islam dulunya memandang Tuhan Yang Maha Kuasa berada teramat jauh dan mustahil disapa secara langsung. Akibatnya, mereka menggantungkan nasib pada ratusan berhala—seperti Hubal, Lata, dan Uzza—sebagai calo atau perantara doa. Permohonan mereka pun merosot menjadi transaksi untung-rugi di hadapan batu mati.

Al-Qur'an membalik tatanan tersebut dari akarnya. Lewat seruan fa shalli li-rabbika (maka salatlah semata-mata demi Tuhanmu), imbuhan satu huruf li (لِـ) menegaskan kepemilikan ibadah yang mutlak: penghambaan hanya sah dialamatkan kepada Allah, tanpa perantara apa pun.

Seluruh dinding pembatas diruntuhkan. Bangsa Arab yang mulanya terbiasa menunduk pasrah di depan patung batu, kini berdiri terhormat—berdialog langsung dengan Tuhan semesta alam lima kali sehari tanpa butuh mediator sama sekali.

Transformasi Moral: Saat Ibadah Menyatu dengan Keadilan Sosial

Perubahan besar ini tidak berhenti pada urusan ibadah batin saja. Izutsu mencatat bahwa ciri paling khas dari ajaran Al-Qur'an adalah menyatunya ketaatan kepada Tuhan dengan perilaku baik kepada sesama manusia.

Dalam kebiasaan Arab pra-Islam, ritual agama sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan kepedulian sosial. Seseorang bisa saja mempersembahkan unta terbaiknya di depan berhala, tetapi di saat yang sama tega menindas anak yatim, merampas hak orang miskin, dan mengubur bayi perempuan hidup-hidup tanpa beban moral sedikit pun. Bagi mereka, urusan menyembah dan urusan kemanusiaan adalah dua hal yang terpisah jauh.

Al-Qur'an mengubah total cara pandang itu lewat perintah mendirikan salat (iqāmat al-śalāh). Salat yang sejati tidak berhenti begitu salam diucapkan. Ibadah ini menjadi rem moral yang menuntut pelakunya menegakkan keadilan, menjauhi kejahatan, dan menyayangi mereka yang lemah.

Jika salat tidak melahirkan rasa peduli pada sesama, Al-Qur'an bahkan menganggap ibadah tersebut palsu belaka. Dari masyarakat gurun yang dulu gemar menindas dan mementingkan diri sendiri, lahirlah tatanan masyarakat baru yang menyatukan bakti kepada Tuhan dan welas asih kepada manusia dalam satu tarikan napas.

Melihat Al-Qur'an lewat telaah bahasa seperti ini memperlihatkan betapa dalamnya pesan yang terkandung di balik kata-katanya.

Penting dicatat bahwa meski mampu menguaraikan semantik bahasa Arab dengan jelas, namun Izutsu bukanlah seorang muslim melainkan spritualis Budhisme yang kagum terhadap bahasa Al-Qur'an.

Dari beberapa pembahasan tadi, bagian mana menurutmu paling menarik untuk diulas lebih dalam?